
CHONGQING – Fenomena “China Cool” tengah menjadi perbincangan di kalangan wisatawan mancanegara. Salah satu kota yang paling menikmati gelombang popularitas tersebut adalah Chongqing, metropolis di barat daya China yang terkenal dengan lanskap bertingkat, gedung pencakar langit, kuliner pedas, serta pemandangan malam yang membuatnya terlihat seperti kota dari film fiksi ilmiah.
Bukan sekadar viral di media sosial, lonjakan minat wisatawan asing kini mulai terlihat dalam data perjalanan. Pada paruh pertama 2026, lebih dari 610.000 wisatawan asing tercatat masuk dan keluar melalui pelabuhan Chongqing, meningkat 86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Chongqing mulai berubah dari destinasi yang viral di internet menjadi salah satu magnet pariwisata internasional China.
Dari “Kota Cyberpunk” Menjadi Destinasi Dunia
Chongqing memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kota-kota wisata China yang lebih dahulu terkenal seperti Beijing, Shanghai, atau Xi’an.
Jika Beijing menawarkan sejarah kekaisaran, Shanghai menonjolkan metropolis modern, dan Xi’an dikenal dengan warisan sejarahnya, Chongqing menawarkan kombinasi yang jauh lebih unik.
Gedung modern berdiri di antara perbukitan, jalan berliku naik-turun, sungai membelah kota, kereta melintas di antara bangunan, sementara kawasan tradisional masih bertahan di tengah perkembangan kota.
Pemandangan inilah yang membuat Chongqing sangat mudah menjadi konten viral.
Pada malam hari, lampu neon di kawasan kota membuat lanskap Chongqing terlihat dramatis. Hongya Cave, misalnya, menjadi salah satu ikon visual kota dengan bangunan bertingkat yang menyala di tepi sungai.
Bagi wisatawan asing yang mencari pengalaman berbeda, Chongqing menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di kota lain.
“China Cool” Jadi Tren Baru Wisatawan Asing
Istilah “China Cool” digunakan untuk menggambarkan meningkatnya ketertarikan wisatawan asing terhadap pengalaman modern, unik, dan berbeda yang ditawarkan kota-kota China.
Di Chongqing, tren ini semakin kuat selama musim panas 2026.
Laporan People’s Daily menyebut pesanan wisatawan Eropa ke Chongqing pada musim panas meningkat lebih dari 40 persen. Pesanan tiket tempat wisata dari wisatawan Eropa bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara pesanan aktivitas hiburan melonjak sangat tajam.
Wisatawan dari Milan tercatat meningkat hampir 70 persen, sedangkan jumlah wisatawan dari Madrid meningkat lebih dari 50 persen.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Chongqing mulai memiliki daya tarik yang tidak hanya bergantung pada wisatawan Asia.
Indonesia Masuk Lima Besar Sumber Wisatawan
Menariknya, wisatawan dari Asia Tenggara menjadi kelompok penting dalam pertumbuhan pariwisata Chongqing.
Data resmi menunjukkan bahwa Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Indonesia menjadi lima negara asal utama wisatawan asing yang datang ke Chongqing pada paruh pertama 2026.
Artinya, Indonesia merupakan salah satu pasar penting bagi perkembangan pariwisata Chongqing.
Bagi wisatawan Indonesia, Chongqing menawarkan kombinasi yang cukup menarik: kuliner pedas, kota modern, pemandangan sungai, budaya China, serta spot foto yang sangat kuat untuk media sosial.
Bandara Chongqing Makin Sibuk
Ledakan wisatawan asing juga tercermin dari aktivitas Chongqing Jiangbei International Airport.
Pada semester pertama 2026, jumlah penumpang internasional dan regional yang melalui bandara tersebut mencapai sekitar 1,48 juta orang, meningkat 39,5 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi di antara 10 bandara terbesar di China.
Bandara Chongqing kini mengoperasikan sekitar 40 rute penumpang internasional dan regional, dengan lebih dari 250 penerbangan setiap pekan.
Sejumlah rute baru dibuka menuju Manila, Sabah, dan Chiang Mai, sementara frekuensi penerbangan ke berbagai kota seperti Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh City, Jakarta, Seoul, dan Hong Kong juga meningkat.
Akses yang semakin mudah tentu ikut membuat keputusan wisatawan untuk datang ke Chongqing menjadi lebih sederhana.
Kereta yang Menembus Gedung Jadi Ikon Viral
Salah satu daya tarik paling terkenal dari Chongqing adalah Liziba Station.
Kereta monorel di kota tersebut melintas melalui sebuah bangunan bertingkat. Pemandangan tersebut terlihat tidak biasa bagi wisatawan dari negara lain dan sering menjadi salah satu gambar pertama yang muncul ketika Chongqing dibicarakan di media sosial.
Bagi wisatawan, pengalaman tersebut memberikan kesan seolah-olah sedang berada di kota masa depan.
Padahal, kereta dan gedung tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Inilah salah satu kekuatan Chongqing: sesuatu yang biasa bagi penduduk lokal bisa terlihat luar biasa bagi wisatawan asing.
Hongya Cave: Spot yang Wajib Didatangi Malam Hari
Selain Liziba, Hongya Cave menjadi ikon lain yang hampir selalu masuk daftar kunjungan wisatawan.
Kompleks bangunan bertingkat tersebut berada di kawasan tepi sungai dan menawarkan pemandangan arsitektur tradisional China dengan pencahayaan modern.
Pada malam hari, bangunan menyala dengan warna keemasan sehingga menghasilkan pemandangan yang sangat fotogenik.
Banyak wisatawan sengaja datang setelah matahari terbenam untuk menikmati suasana tersebut.
Bagi pembuat konten, tempat ini bahkan menjadi salah satu lokasi paling menarik untuk fotografi malam.
Bukan Sekadar Foto, Kuliner Juga Menjadi Magnet
Chongqing juga memiliki senjata lain: makanan.
Kota tersebut dikenal luas sebagai salah satu pusat kuliner pedas China, terutama Chongqing hotpot.
Kuah merah dengan cabai dan lada Sichuan memberikan sensasi pedas sekaligus kebas yang menjadi pengalaman berbeda bagi banyak wisatawan asing.
Hotpot bukan hanya soal rasa.
Bagi wisatawan, makan hotpot juga merupakan pengalaman budaya karena makanan disantap bersama-sama di meja dengan berbagai bahan yang dimasak sendiri.
Kombinasi antara makanan ekstrem, pemandangan kota, dan budaya lokal membuat pengalaman wisata Chongqing terasa lebih lengkap.
Cuaca Panas Justru Melahirkan Tren “China Cool”
Musim panas 2026 ikut memberikan dorongan terhadap tren tersebut.
Saat sejumlah wilayah dunia menghadapi suhu tinggi, Chongqing justru mulai dipromosikan sebagai salah satu pilihan wisata yang menawarkan pengalaman musim panas berbeda.
People’s Daily mencatat bahwa istilah “China Cool” muncul sebagai pilihan baru bagi wisatawan asing untuk menikmati liburan musim panas di China, sementara jumlah wisatawan Eropa ke Chongqing meningkat tajam.
Bagi wisatawan, alasan datang bukan hanya ingin mencari tempat yang lebih nyaman, tetapi juga ingin mendapatkan pengalaman baru yang belum terlalu umum di kalangan turis internasional.
Kebijakan Bebas Visa Ikut Mengubah Permainan
Pertumbuhan wisatawan Chongqing tidak terlepas dari kemudahan perjalanan.
Pada semester pertama 2026, lebih dari 210.000 wisatawan asing masuk melalui skema bebas visa atau transit bebas visa hingga 240 jam di Chongqing, meningkat 83,6 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kebijakan tersebut mengurangi salah satu hambatan terbesar dalam perjalanan internasional: proses visa.
Ketika akses semakin mudah dan kota semakin viral, keputusan wisatawan untuk mencoba destinasi baru menjadi jauh lebih ringan.
Inilah kombinasi yang membuat “China Cool” semakin berkembang.
Konten viral + akses mudah + penerbangan lebih banyak + pengalaman unik = ledakan wisatawan.
Chongqing Ingin Viral yang Bertahan Lama
Pemerintah Chongqing menyadari bahwa popularitas di media sosial tidak cukup untuk membangun industri pariwisata jangka panjang.
Karena itu, kota tersebut mulai memperkuat infrastruktur wisata, memperluas rute perjalanan, meningkatkan layanan wisatawan asing, dan menciptakan lebih banyak pengalaman yang mendorong turis tinggal lebih lama.
Chongqing juga dipilih sebagai salah satu kota penting China untuk pengembangan pariwisata inbound dalam rencana lima tahun 2026–2030.
Strateginya adalah mengubah wisatawan yang awalnya datang hanya untuk melihat satu atau dua tempat viral menjadi pengunjung yang mengeksplorasi kota dan kawasan sekitarnya.
Dari Satu Foto Menjadi Perjalanan Panjang
Strategi tersebut sangat penting.
Bayangkan seorang wisatawan melihat video kereta Chongqing yang menembus gedung di media sosial.
Awalnya ia hanya penasaran.
Kemudian ia mencari informasi tentang Hongya Cave.
Setelah itu ia menemukan Chongqing hotpot, Sungai Yangtze, kawasan pegunungan, dan berbagai destinasi budaya.
Dari satu konten viral, perjalanan wisata bisa berkembang menjadi beberapa hari.
Itulah yang ingin diwujudkan pemerintah Chongqing.
Viral adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Chongqing Punya Keunggulan yang Sulit Ditiru
Popularitas Chongqing bukan hanya hasil pemasaran.
Kota tersebut memang memiliki karakter geografis yang sangat unik.
Kawasan perkotaan dibangun di wilayah berbukit dengan pertemuan sungai besar. Kondisi tersebut menghasilkan lanskap vertikal yang berbeda dari kebanyakan kota besar.
Gedung, jembatan, jalan, kereta, sungai, dan pegunungan saling bertumpuk dalam satu pemandangan.
Hasilnya adalah kota yang terlihat berbeda dari hampir setiap sudut.
Bahkan pada siang hari, lanskapnya menarik.
Pada malam hari, ketika lampu kota menyala, efek visualnya menjadi jauh lebih dramatis.
Tantangan di Balik Ledakan Wisata
Pertumbuhan wisatawan tentu membawa peluang ekonomi besar, tetapi juga menghadirkan tantangan.
Lonjakan pengunjung dapat meningkatkan tekanan terhadap transportasi publik, tempat wisata, akomodasi, lingkungan, dan kawasan permukiman.
Kota juga harus memastikan bahwa popularitas tidak membuat pengalaman wisatawan menurun akibat terlalu padat.
Karena itu, pertumbuhan pariwisata perlu diimbangi dengan pengelolaan kapasitas destinasi dan peningkatan kualitas layanan.
Chongqing sendiri mulai bergerak ke arah tersebut dengan memperluas rute wisata dan mengembangkan destinasi baru agar arus wisatawan tidak hanya terkonsentrasi pada beberapa lokasi viral.
China Cool Bisa Mengubah Peta Wisata Asia
Fenomena Chongqing menunjukkan perubahan menarik dalam industri pariwisata internasional.
Wisatawan kini tidak selalu mencari kota paling terkenal.
Mereka mencari pengalaman yang unik, mudah dibagikan, dan berbeda dari perjalanan biasa.
Chongqing memiliki hampir semua unsur tersebut.
Kota cyberpunk.
Kereta menembus gedung.
Hongya Cave yang bercahaya di malam hari.
Hotpot pedas.
Sungai dan pegunungan.
Arsitektur tradisional yang berdampingan dengan gedung pencakar langit.
Dan yang terpenting, akses internasional yang semakin mudah.
Tak heran jika wisatawan asing mulai berdatangan dalam jumlah besar. Data semester pertama 2026 menunjukkan lebih dari 610.000 wisatawan asing melalui pelabuhan Chongqing, naik 86 persen dalam setahun.
“China Cool” akhirnya bukan sekadar tren media sosial. Chongqing sedang membuktikan bahwa sebuah kota bisa mengubah fenomena viral menjadi kekuatan ekonomi pariwisata dunia.
Bagi Indonesia, fenomena ini juga menarik untuk diperhatikan. Dengan wisatawan Indonesia masuk lima besar sumber wisatawan asing Chongqing, kota tersebut berpotensi menjadi salah satu destinasi China yang semakin populer di kalangan pelancong Tanah Air.
Dan ketika jutaan orang di media sosial mulai bertanya, “Kota ini sebenarnya ada di mana?”, Chongqing sudah memiliki jawabannya:
di jantung China, kota yang tidak hanya menyambut era digital—tetapi berhasil menjadikan dirinya sendiri sebagai fenomena global.



























































































