
JAKARTA – China semakin memperlihatkan ambisinya untuk memperkuat posisi strategis di kawasan Asia-Pasifik. Di tengah perhatian dunia yang tersedot oleh konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, Beijing justru terus meningkatkan aktivitas militer, diplomasi, pengaruh ekonomi, hingga operasi siber di kawasan yang menjadi salah satu pusat persaingan kekuatan dunia.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa China tidak hanya memperkuat kehadiran militernya di sekitar wilayah sengketa, tetapi juga memperluas kerja sama dengan negara-negara Asia. Langkah tersebut menciptakan situasi yang semakin kompleks: sejumlah negara memperkuat hubungan dengan Beijing, sementara negara lainnya mempererat aliansi keamanan dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Beijing Memanfaatkan Momentum Ketika Dunia Terpecah
Perhatian internasional saat ini banyak tersedot oleh perang dan ketegangan di berbagai kawasan. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi China untuk menjalankan agenda strategisnya di Asia-Pasifik dengan perhatian publik global yang relatif lebih kecil.
Reuters menilai Beijing sedang meningkatkan manuver strategisnya di kawasan, termasuk aktivitas maritim, latihan militer, operasi siber, dan tekanan terhadap Taiwan. Kapal-kapal China juga semakin sering terlihat di sekitar wilayah yang menjadi sumber sengketa dengan sejumlah negara Asia.
Bagi Beijing, kawasan Asia-Pasifik merupakan wilayah yang sangat penting untuk kepentingan keamanan nasional, perdagangan, energi, dan jalur pelayaran.
Karena itu, pengaruh di kawasan tersebut bukan sekadar persoalan militer.
Siapa yang memiliki pengaruh terbesar di Asia-Pasifik juga memiliki posisi yang sangat menentukan terhadap masa depan ekonomi dan keamanan kawasan.
Laut China Selatan Jadi Panggung Utama
Salah satu arena paling panas berada di Laut China Selatan.
China mempertahankan klaim luas atas wilayah tersebut, sementara Filipina dan sejumlah negara Asia Tenggara memiliki klaim serta kepentingan mereka sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas kapal penjaga pantai dan kapal militer China di kawasan tersebut terus menjadi perhatian.
Tekanan tersebut membuat Filipina semakin memperkuat kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan mitra lainnya. Latihan militer bersama juga semakin sering dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi berbagai skenario keamanan.
Namun, pada saat yang sama, Manila juga berusaha menjaga hubungan ekonominya dengan Beijing.
Situasi tersebut menggambarkan dilema besar yang dihadapi banyak negara Asia: China merupakan kekuatan ekonomi yang sangat penting, tetapi kebangkitan militernya juga menjadi sumber kekhawatiran.
China Tak Hanya Mengandalkan Kapal Perang
Pengaruh strategis China tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer.
Beijing juga menggunakan perdagangan, investasi, energi, teknologi, diplomasi, dan kerja sama ekonomi sebagai instrumen untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara di kawasan.
Contohnya terlihat dari hubungan China dan Filipina.
Meskipun kedua negara masih menghadapi perselisihan di Laut China Selatan, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyatakan kemungkinan kerja sama eksplorasi minyak dan gas bersama China tetap terbuka. Negosiasi tersebut didorong antara lain oleh kebutuhan Manila untuk memperkuat ketahanan energinya.
Ini menunjukkan bahwa hubungan China dengan negara-negara tetangganya tidak bisa dilihat hanya melalui kacamata konflik.
Persaingan dan kerja sama dapat berlangsung pada saat yang sama.
Indonesia Ikut Menjadi Perhatian
Perkembangan terbaru juga menunjukkan bagaimana China mencoba memperluas keterlibatan militernya dengan negara-negara yang secara tradisional menjaga kebijakan luar negeri lebih seimbang.
Pada Agustus 2026, latihan atau kegiatan pelayaran bersama China dan Indonesia di perairan sebelah timur Taiwan memicu perhatian Taiwan. Indonesia kemudian menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan aktivitas rutin dan bukan operasi tempur.
Bagi Indonesia, hubungan dengan China tetap penting secara ekonomi dan diplomatik.
Namun, Indonesia juga memiliki kepentingan untuk mempertahankan prinsip kawasan yang bebas, terbuka, serta menghormati hukum internasional.
Karena itu, setiap aktivitas militer di sekitar kawasan strategis seperti Taiwan dan Laut China Selatan akan selalu mendapat perhatian dari Jakarta.
Taiwan Menjadi Titik Paling Sensitif
Jika berbicara mengenai ambisi strategis China, Taiwan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif.
Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China dan terus menegaskan bahwa penyatuan harus tercapai. Taiwan sendiri menolak klaim kedaulatan Beijing dan memperkuat kemampuan pertahanannya.
Pada 2026, Taiwan kembali menggelar latihan militer besar Han Kuang untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan atau blokade.
China mengecam latihan tersebut sebagai tindakan yang memicu ketegangan dan menuduh pemerintah Taiwan menciptakan kepanikan perang. Beijing kembali menegaskan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat China akan terus berada dalam kondisi siaga.
Situasi ini menciptakan siklus yang sulit diputus.
Taiwan merasa perlu memperkuat pertahanan karena aktivitas militer China meningkat.
China kemudian menggunakan penguatan tersebut sebagai alasan untuk menuduh Taiwan dan negara-negara lain memperburuk ketegangan.
Armada China Makin Jauh Menjangkau Pasifik
China juga mulai menunjukkan kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan lebih jauh dari wilayah pesisirnya.
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah meningkatnya aktivitas kapal induk dan kapal perang China di kawasan Pasifik Barat.
Latihan kapal induk Liaoning di wilayah timur Filipina pada 2026 menunjukkan kemampuan Angkatan Laut China mengoperasikan kekuatan udara laut dalam jarak yang semakin jauh dari daratan China.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa modernisasi militer China bukan hanya bertujuan mempertahankan wilayah pesisir, tetapi juga memperbesar kemampuan Beijing untuk beroperasi jauh ke Samudra Pasifik.
Bahkan Wilayah Pasifik Ikut Terpengaruh
Pengaruh China kini juga terasa hingga negara-negara kepulauan Pasifik.
Uji coba rudal China yang dapat membawa kemampuan nuklir ke wilayah Pasifik pada Juli 2026 memicu kekhawatiran sejumlah negara kawasan. Peristiwa tersebut terjadi ketika beberapa negara Pasifik sedang memperkuat hubungan pertahanan dengan Australia dan negara Barat.
Sebagian negara Pasifik khawatir meningkatnya militerisasi akan mengancam gagasan menjadikan kawasan tersebut sebagai “Ocean of Peace”.
Namun, sejumlah pemerintah tetap memilih mempertahankan hubungan baik dengan Beijing karena China merupakan sumber investasi, perdagangan, dan bantuan pembangunan yang penting.
Sekali lagi, ekonomi dan keamanan berjalan beriringan.
Negara-Negara Asia Mulai Menyesuaikan Strategi
Meningkatnya pengaruh China membuat negara-negara di kawasan mengubah strategi.
Jepang memperkuat kemampuan pertahanan dan meningkatkan kerja sama keamanan dengan Australia, Filipina, Amerika Serikat, serta negara lainnya.
Filipina memperluas kerja sama militer dengan Washington.
Australia mempererat hubungan pertahanan dengan negara-negara Asia Tenggara dan Pasifik.
Sementara itu, negara seperti Indonesia berusaha mempertahankan pendekatan yang lebih fleksibel dengan menjalin hubungan baik dengan berbagai kekuatan besar.
Hasilnya adalah sebuah Asia-Pasifik yang semakin kompleks.
Tidak ada satu negara yang ingin sepenuhnya bergantung pada satu kekuatan.
Amerika Serikat Tidak Bisa Mengabaikannya
Washington tentu tidak tinggal diam.
Amerika Serikat terus memperkuat kerja sama pertahanan dengan sekutu dan mitranya di kawasan.
Komando operasi khusus AS juga menyatakan kesiapan meningkatkan latihan tempur bersama Filipina dan negara Asia lainnya untuk memperkuat kemampuan menghadapi ancaman regional.
Namun, keterlibatan AS di berbagai konflik global juga menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar perhatian Washington dapat diberikan secara konsisten kepada Asia-Pasifik.
Kondisi inilah yang berpotensi memberikan ruang tambahan bagi Beijing.
China Memperluas Pengaruh dengan Banyak Jalur
Yang membuat strategi China berbeda adalah pendekatannya yang multifaset.
Beijing tidak hanya menggunakan kapal perang.
China juga memanfaatkan:
kekuatan ekonomi untuk membangun ketergantungan perdagangan;
diplomasi untuk memperluas hubungan politik;
teknologi untuk memperkuat pengaruh digital;
kekuatan militer untuk menciptakan efek gentar;
serta kerja sama energi dan infrastruktur untuk memperkuat kepentingan jangka panjang.
Kombinasi tersebut membuat pengaruh Beijing jauh lebih sulit dihadapi hanya dengan kekuatan militer.
Risiko Terbesar: Salah Perhitungan
Dengan semakin banyaknya kapal perang, pesawat tempur, kapal penjaga pantai, dan latihan militer di kawasan yang sama, risiko terjadinya salah perhitungan juga meningkat.
Pertemuan antara kapal atau pesawat dari negara berbeda dapat berubah menjadi krisis apabila komunikasi gagal.
Risiko tersebut menjadi lebih serius di wilayah yang memiliki klaim tumpang tindih seperti Laut China Selatan dan Selat Taiwan.
Satu insiden kecil berpotensi menimbulkan tekanan politik yang jauh lebih besar.
Karena itu, mekanisme komunikasi militer dan diplomasi krisis menjadi semakin penting.
Asia-Pasifik Memasuki Era Persaingan Baru
Meningkatnya aktivitas China menunjukkan bahwa Asia-Pasifik sedang memasuki fase baru.
China tidak lagi hanya menjadi kekuatan ekonomi besar yang berorientasi pada perdagangan.
Beijing semakin aktif membentuk lingkungan strategis di sekitarnya.
Pada saat yang sama, negara-negara tetangga tidak tinggal diam. Mereka memperkuat pertahanan, membangun koalisi, dan mencoba menjaga hubungan ekonomi dengan China tanpa menyerahkan kepentingan keamanan mereka.
Inilah paradoks terbesar Asia-Pasifik.
Semua negara membutuhkan China, tetapi tidak semua negara merasa nyaman dengan semakin kuatnya China.
Sementara itu, Beijing memiliki kepentingan untuk memastikan bahwa kawasan di sekitar China tidak didominasi kekuatan asing.
Jika tren ini terus berlanjut, persaingan China, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Filipina, dan kekuatan regional lainnya akan menjadi salah satu faktor paling menentukan bagi stabilitas dunia dalam dekade mendatang.
Asia-Pasifik kini bukan lagi sekadar pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Kawasan ini perlahan berubah menjadi panggung utama perebutan pengaruh strategis—dan China sedang berusaha memastikan bahwa dirinya berada di tengah panggung tersebut.






















































































