
BEIJING – Persaingan teknologi militer antara China dan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan. China disebut tengah mengembangkan teknologi yang berpotensi mengurangi keunggulan jet tempur siluman AS seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor di kawasan Indo-Pasifik.
Strategi yang menjadi perhatian bukan semata-mata menyerang pesawat siluman secara langsung. Fokusnya adalah mengganggu sistem pendukung yang membuat jet tempur AS dapat beroperasi jauh dari pangkalan, terutama pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara.
Tanker Jadi Titik Penting Operasi Jet Siluman
Jet tempur siluman seperti F-35 dan F-22 memiliki kemampuan untuk beroperasi dalam lingkungan berisiko tinggi. Namun, jangkauan operasi pesawat tetap dipengaruhi oleh kebutuhan bahan bakar dan dukungan logistik.
Karena itu, pesawat tanker menjadi bagian penting dalam operasi udara jarak jauh.
SINDOnews mengutip analisis bahwa kemampuan proyeksi kekuatan udara AS tidak hanya bergantung pada pesawat tempur, tetapi juga pada armada tanker yang mendukung operasionalnya.
China Disebut Mengembangkan Senjata Hipersonik
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah hypersonic glide vehicle (HGV).
Menurut laporan yang dikutip SINDOnews dari EurAsian Times, China mengembangkan konsep HGV yang berpotensi digunakan untuk mengancam aset udara bernilai tinggi, termasuk tanker, pesawat peringatan dini, dan pesawat peperangan elektronik.
Teknologi HGV dirancang untuk bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan memiliki kemampuan manuver tertentu di atmosfer.
Namun, kemampuan yang diberitakan tersebut tetap perlu dibedakan antara hasil pengembangan atau pengujian dan kemampuan operasional yang telah terbukti di medan perang.
DF-17 Jadi Salah Satu Platform yang Disorot
Laporan tersebut mengaitkan teknologi HGV dengan rudal DF-17 China.
Menurut laporan yang dikutip SINDOnews, sistem tersebut diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 2.400 kilometer. Jangkauan tersebut secara teoritis membuat aset udara yang beroperasi jauh dari wilayah China menjadi perhatian strategis.
Namun, angka dan kemampuan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa China telah memiliki sistem yang terbukti mampu menghancurkan tanker AS dalam kondisi tempur.
Mengapa Tanker Sangat Penting?
Pesawat tanker bertugas memasok bahan bakar kepada pesawat tempur ketika berada di udara.
Kemampuan tersebut memungkinkan pesawat tempur menjalankan misi lebih jauh dari pangkalan.
Dalam skenario Indo-Pasifik, jarak geografis menjadi persoalan penting karena wilayah operasi sangat luas.
Pangkalan seperti Guam menjadi salah satu titik penting bagi strategi militer AS di kawasan.
Guam Berjarak Ribuan Kilometer dari China
SINDOnews menyebut jarak antara Guam dan Shanghai sekitar 3.090 kilometer.
Jarak tersebut menunjukkan mengapa dukungan pengisian bahan bakar di udara sangat penting bagi operasi pesawat tempur AS di kawasan Indo-Pasifik.
Semakin jauh pesawat beroperasi dari pangkalan, semakin besar kebutuhan terhadap sistem pendukung seperti tanker dan pesawat pengawasan.
F-35 dan F-22 Tetap Memiliki Keunggulan Siluman
Teknologi siluman tetap menjadi salah satu keunggulan utama F-35 dan F-22.
Pesawat tersebut dirancang untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi oleh radar dan sensor lawan.
Namun, teknologi siluman tidak berarti pesawat menjadi benar-benar tidak terlihat.
Pesawat tetap menghasilkan panas dari mesin dan gesekan udara sehingga dapat meninggalkan tanda inframerah.
Sensor Inframerah Jadi Perhatian Baru
Selain radar, sensor inframerah menjadi salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mendeteksi karakteristik panas sebuah pesawat.
Penelitian yang dilakukan sejumlah peneliti China dilaporkan mengembangkan sistem AI untuk mengenali citra inframerah yang menyerupai F-22 dan F-35. Pengujian tersebut dilakukan menggunakan target simulasi di laboratorium.
Hasilnya menarik perhatian karena menunjukkan perkembangan teknologi AI untuk pengenalan target udara.
AI Dilatih Mengenali Jejak Panas
Menurut laporan yang dikutip South China Morning Post, penelitian tersebut menggunakan data citra inframerah dari target yang menyerupai pesawat F-22 dan F-35.
Sistem AI kemudian dilatih untuk membedakan karakteristik panas target dari objek lain.
Teknologi semacam itu berpotensi meningkatkan kemampuan sistem sensor dalam mengenali target.
Namun, pengujian laboratorium tidak sama dengan pengujian terhadap pesawat tempur sebenarnya dalam kondisi operasional.
Akurasi 90 Persen Masih Berupa Hasil Pengujian
Beberapa laporan menyebut sistem AI tersebut mencapai tingkat pengenalan sekitar 90 persen terhadap target pesawat tempur generasi kelima dalam pengujian.
Namun, angka tersebut tidak berarti China sudah dapat mendeteksi F-35 atau F-22 AS dengan akurasi 90 persen dalam pertempuran nyata.
Kondisi dunia nyata jauh lebih kompleks karena dipengaruhi cuaca, jarak, sudut pengamatan, manuver pesawat, gangguan elektronik, dan berbagai sistem pertahanan.
Pakar Ingatkan Klaim Belum Terbukti
SINDOnews juga mencantumkan pandangan seorang pakar Angkatan Udara India yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Ia mengingatkan bahwa klaim mengenai kemampuan China tersebut tidak boleh dianggap sebagai fakta yang sudah terbukti sepenuhnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi hipersonik dan rudal jarak jauh memang nyata. Namun, lompatan dari hasil pengujian teknologi menjadi kemampuan operasional yang mampu memburu tanker di sekitar Guam masih harus dibuktikan.
AS Tidak Hanya Mengandalkan Teknologi Siluman
Analisis dari China Aerospace Studies Institute juga memberikan konteks penting.
Keunggulan pesawat siluman AS tidak hanya berasal dari bentuk pesawat dan material penyerap radar. Keunggulan tersebut merupakan bagian dari sistem peperangan udara yang lebih luas.
Artinya, mengalahkan sebuah pesawat siluman tidak cukup hanya dengan mengembangkan satu sensor atau satu jenis rudal.
Perang Udara Modern Bersifat Terintegrasi
Sistem peperangan udara modern menggabungkan banyak komponen.
Pesawat tempur, radar, satelit, sensor pasif, pesawat peringatan dini, pusat komando, peperangan elektronik, serta sistem pertahanan udara dapat saling bertukar informasi.
China juga mengembangkan sistem pertahanan udara terpadu yang menggabungkan berbagai sumber informasi.
Karena itu, persaingan AS-China semakin bergeser dari sekadar adu jenis pesawat menjadi persaingan sistem melawan sistem.
China Fokus pada Counter-Stealth
China telah lama mengembangkan teknologi untuk menghadapi pesawat siluman.
Sejumlah analisis militer China menaruh perhatian pada radar frekuensi rendah, sensor pasif, dan berbagai teknologi deteksi lainnya.
Namun, teknologi tersebut juga memiliki keterbatasan.
Radar dan sensor tetap menghadapi persoalan akurasi, gangguan lingkungan, clutter, serta peperangan elektronik.
F-35 Belum Bisa Disebut Tidak Berguna
Judul pemberitaan mengenai “membuat F-35 dan F-22 tidak berguna” perlu dipahami sebagai gambaran strategi dan klaim, bukan fakta bahwa pesawat tersebut telah kehilangan kemampuan tempurnya.
F-35 dan F-22 masih merupakan bagian penting dari kekuatan udara AS.
Kemampuan sebenarnya di medan tempur bergantung pada banyak faktor, termasuk dukungan sensor, jaringan komunikasi, peperangan elektronik, persenjataan, taktik, dan kesiapan personel.
Indo-Pasifik Jadi Arena Persaingan Utama
Kawasan Indo-Pasifik menjadi salah satu wilayah paling penting dalam persaingan militer AS dan China.
Keduanya terus meningkatkan kemampuan udara, laut, rudal, satelit, dan teknologi tanpa awak.
China berusaha memperluas kemampuan untuk menjaga wilayah di sekitar negaranya, sementara AS mempertahankan jaringan pangkalan dan aliansi di kawasan tersebut.
Pangkalan AS Menjadi Faktor Strategis
Kehadiran pangkalan AS di Jepang, Korea Selatan, Guam, dan wilayah Pasifik lainnya menjadi bagian penting dari strategi Washington.
Pangkalan tersebut memberikan dukungan logistik bagi pesawat dan kapal AS.
Karena itu, kemampuan China untuk mengancam sistem pendukung AS dapat menjadi faktor yang diperhitungkan dalam perencanaan militer.
Bukan Sekadar Pertarungan Jet Tempur
Persaingan udara masa depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki pesawat tempur paling canggih.
Kemampuan menemukan lawan, mengirimkan data, mempertahankan komunikasi, melindungi tanker, serta mengganggu sistem lawan juga akan sangat menentukan.
Konsep ini membuat pesawat pendukung yang selama ini jarang menjadi sorotan justru memiliki nilai strategis yang tinggi.
Teknologi Hipersonik Makin Diperhatikan
China menjadi salah satu negara yang paling aktif mengembangkan teknologi hipersonik.
HGV dan sistem rudal berkecepatan tinggi dapat mengubah cara negara merancang pertahanan udara.
Namun, teknologi tersebut juga menghadapi tantangan teknis yang besar, termasuk navigasi, komunikasi, pelacakan target, dan kemampuan mempertahankan akurasi dalam kondisi ekstrem.
AI Tambah Dimensi Baru
Penggunaan AI untuk mengenali target inframerah menambahkan dimensi baru dalam perlombaan teknologi militer.
Jika teknologi tersebut terus berkembang, sistem sensor dapat menjadi lebih cepat dalam mengidentifikasi objek.
Tetapi hasil laboratorium tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum dapat dianggap sebagai kemampuan tempur yang matang.
AS Juga Terus Mengembangkan Teknologi Baru
Amerika Serikat tidak tinggal diam menghadapi perkembangan teknologi China.
Washington terus mengembangkan pesawat generasi baru, sensor, sistem peperangan elektronik, jaringan komando, dan teknologi tanpa awak.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan militer kedua negara kemungkinan akan terus berlangsung dalam berbagai domain.
Keseimbangan Kekuatan Udara Bisa Berubah
Jika China berhasil mengembangkan sistem yang mampu mengurangi efektivitas aset pendukung AS, keseimbangan operasi udara di Indo-Pasifik dapat berubah.
Namun, hal tersebut masih merupakan kemungkinan strategis.
Belum ada bukti terbuka bahwa sistem yang diberitakan telah terbukti mampu menonaktifkan operasi F-35 atau F-22 AS dalam kondisi perang nyata.
Fakta Penting Teknologi China Penghadang F-35 dan F-22
- China disebut mengembangkan teknologi untuk mengurangi keunggulan sistem udara AS di Indo-Pasifik.
- Salah satu fokusnya adalah pesawat tanker pengisi bahan bakar AS.
- Laporan tersebut mengaitkan pengembangan dengan hypersonic glide vehicle (HGV).
- HGV yang dikaitkan dengan DF-17 disebut memiliki jangkauan sekitar 2.400 kilometer.
- Peneliti China juga mengembangkan AI untuk mengenali karakteristik inframerah target yang menyerupai F-22 dan F-35.
- Pengujian AI tersebut dilakukan pada target simulasi di laboratorium, bukan F-22 atau F-35 operasional.
- Klaim kemampuan operasional untuk memburu tanker AS masih belum terverifikasi secara independen.
- Analisis militer menunjukkan keunggulan udara AS berasal dari sistem terintegrasi, bukan hanya teknologi siluman pesawat.
China Tantang Keunggulan Udara AS, tetapi F-35 Belum “Kalah”
Perkembangan teknologi China menunjukkan bahwa persaingan untuk menghadapi pesawat siluman AS semakin serius. Fokus China bukan hanya mendeteksi F-35 dan F-22, tetapi juga mencari cara untuk mengganggu jaringan pendukung yang memungkinkan pesawat tersebut beroperasi jauh dari pangkalan.

























































































































































