
JAKARTA – Harga minyak dunia kembali bergerak naik tajam pada penutupan perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Harga minyak mentah Brent melonjak 2,1 persen menjadi US$89,70 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,6 persen menjadi US$83,53 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Amerika Serikat tidak berminat menghidupkan kembali kesepakatan dengan Iran yang sebelumnya dibuat pada Juni. Kondisi itu membuat pasar kembali mencemaskan prospek pasokan minyak dari Timur Tengah.
Harga Minyak Brent Naik 2,1 Persen
Brent menjadi salah satu indikator utama harga minyak dunia.
Pada perdagangan Kamis, kontrak Brent naik US$1,86 atau 2,1 persen hingga ditutup pada level US$89,70 per barel.
Sementara itu, WTI Amerika Serikat naik US$1,30 atau 1,6 persen menjadi US$83,53 per barel.
Kenaikan tersebut sekaligus menghentikan penurunan harga minyak selama tiga sesi perdagangan sebelumnya.
Ketegangan AS-Iran Jadi Perhatian Pasar
Salah satu pemicu utama kenaikan harga adalah perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Laporan mengenai sikap Washington yang tidak tertarik kembali pada nota kesepahaman Juni membuat pelaku pasar mengurangi harapan terhadap terobosan diplomatik.
Jika diplomasi kembali menemui jalan buntu, pemulihan arus minyak dari Timur Tengah berpotensi berlangsung lebih lambat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko pasokan dan membuat harga minyak kembali mendapatkan tekanan naik.
Selat Hormuz Jadi Titik Krusial
Perhatian investor juga tertuju pada Selat Hormuz.
Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia. Sebelum konflik dimulai, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati kawasan tersebut.
Gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz dapat berdampak langsung terhadap pasar energi global.
Arus Kapal Masih Terbatas
Data Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai membaik, tetapi masih berada di bawah rata-rata.
Pada Rabu, tercatat sekitar 10 kapal komoditas melintasi selat tersebut. Angka itu meningkat dari level terendah sebelumnya, tetapi masih di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 15 kapal.
Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati.
Pasar Tidak Hanya Memantau Timur Tengah
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi perkembangan geopolitik lainnya.
Ketegangan Rusia dan Ukraina kembali menjadi perhatian pasar setelah muncul ancaman baru terkait penggunaan senjata jarak jauh yang dipasok Inggris kepada Ukraina.
Dengan banyaknya risiko geopolitik, pasar minyak menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru.
Harga Minyak Kembali Turun pada Jumat
Meski melonjak pada Kamis, harga minyak tidak terus naik.
Pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, Brent justru turun sekitar 0,67 persen menjadi US$89,10 per barel, sedangkan WTI melemah 0,77 persen menjadi US$82,89 per barel pada perdagangan pagi.
Artinya, berita “minyak dunia naik 2 persen” merujuk pada kenaikan saat penutupan perdagangan Kamis, bukan kondisi harga sepanjang Jumat.
Brent Masih Menuju Penurunan Mingguan
Meskipun sempat melonjak 2,1 persen, Brent masih diperkirakan mencatat penurunan sekitar 5,3 persen sepanjang pekan.
WTI juga berada dalam jalur penurunan mingguan sekitar 4,3 persen.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan satu sesi belum cukup untuk mengubah tren mingguan harga minyak.
Diplomasi Jadi Kunci Harga Minyak
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Jika negosiasi menghasilkan kesepakatan yang mampu meningkatkan keamanan pelayaran dan memperlancar arus minyak, tekanan harga dapat kembali mereda.
Sebaliknya, jika ketegangan meningkat, risiko gangguan pasokan dapat kembali mendorong harga minyak lebih tinggi.
AS Perketat Tekanan Ekonomi terhadap Iran
Amerika Serikat sebelumnya juga mengumumkan sanksi baru terhadap Iran.
Washington menyebut langkah tersebut sebagai salah satu bentuk tekanan ekonomi terhadap Teheran. Iran menolak langkah tersebut dan menyebut sanksi sebagai tindakan bermusuhan.
Perkembangan sanksi menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor energi.
Qatar Berusaha Mendorong Diplomasi
Di tengah ketegangan tersebut, Qatar ikut berupaya mendorong dialog.
Perdana Menteri Qatar melakukan kunjungan ke Teheran untuk membantu menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian antara pihak-pihak yang terlibat.
Namun, hasil diplomasi tersebut masih menjadi tanda tanya bagi pasar.
Mengapa Harga Minyak Sangat Sensitif?
Harga minyak sangat dipengaruhi keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Ketika pasar memperkirakan pasokan akan terganggu, harga dapat naik meskipun gangguan aktual belum terjadi.
Sebaliknya, ketika arus minyak kembali normal dan persediaan meningkat, tekanan harga dapat berkurang.
Kondisi inilah yang membuat setiap perkembangan di Timur Tengah langsung diperhatikan pasar energi global.
Dampaknya bagi Indonesia
Perubahan harga minyak dunia juga penting bagi Indonesia.
Harga minyak global dapat memengaruhi biaya energi, transportasi, serta berbagai sektor industri.
Namun, perubahan harga minyak dunia tidak otomatis membuat harga BBM domestik berubah pada hari yang sama. Pemerintah dan badan usaha mempertimbangkan sejumlah faktor lain sebelum melakukan penyesuaian harga.
Investor Masih Waspada
Pergerakan minyak pada akhir pekan menunjukkan bahwa pasar masih mencari arah.
Di satu sisi, ada harapan terhadap membaiknya arus minyak melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, ketegangan AS-Iran dan konflik geopolitik lainnya masih menjadi risiko yang dapat mengganggu pasokan.
Karena itu, volatilitas harga minyak diperkirakan masih tinggi.
Fakta Harga Minyak Dunia Terbaru
- Brent naik 2,1 persen pada penutupan Kamis.
- Brent ditutup di US$89,70 per barel.
- WTI naik 1,6 persen menjadi US$83,53 per barel.
- Kenaikan terjadi setelah tiga sesi sebelumnya mengalami penurunan.
- Pada Jumat pagi, Brent kembali turun sekitar 0,67 persen dan WTI turun 0,77 persen.
- Brent masih berada dalam jalur penurunan mingguan sekitar 5,3 persen.
- WTI diperkirakan turun sekitar 4,3 persen sepanjang pekan.
- Selat Hormuz tetap menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar energi.
Minyak Dunia Naik 2 Persen, Tapi Pasar Masih Penuh Ketidakpastian
Kenaikan harga minyak dunia sebesar 2,1 persen pada Kamis menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik.
Ketegangan AS-Iran, masa depan diplomasi, kondisi Selat Hormuz, serta arus ekspor minyak dari Timur Tengah menjadi faktor utama yang terus dipantau investor.
Namun, kenaikan tersebut belum berarti harga minyak memasuki tren baru. Pada Jumat, harga Brent dan WTI kembali melemah dan masih berada di jalur penurunan mingguan.




































































































































