
KATHMANDU — Isu kompensasi perubahan iklim setelah banjir bandang Nepal menjadi sorotan internasional. Pernyataan sejumlah pejabat Nepal sempat dibaca sebagai tuntutan kepada negara-negara emisi besar, termasuk China, Amerika Serikat, dan India. Namun, pemerintah Nepal kemudian memberikan klarifikasi penting: Kathmandu tidak berniat meminta kompensasi iklim secara khusus kepada China atau negara tertentu.
Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal mengatakan negaranya akan mencari kompensasi dari komunitas internasional melalui kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Paris Agreement. Dengan demikian, isu yang berkembang bukan sekadar tuntutan kepada China, tetapi dorongan Nepal agar negara-negara internasional memperkuat pendanaan dan tanggung jawab menghadapi dampak perubahan iklim.
Nepal Klarifikasi Soal Kompensasi Iklim
Pemerintah Nepal menegaskan tidak mengajukan tuntutan kompensasi khusus kepada China.
Khanal menyampaikan hal tersebut ketika bertemu Duta Besar China untuk Nepal, Zhang Maoming, pada 3 September 2026. Ia mengatakan Nepal dan China sama-sama berada dalam ekosistem Himalaya serta menghadapi dampak perubahan iklim.
Pernyataan itu menjadi klarifikasi penting setelah muncul pemberitaan mengenai seruan agar negara-negara penghasil emisi besar ikut bertanggung jawab atas kerusakan akibat bencana.
Nepal Tetap Mendorong Keadilan Iklim
Meski tidak menargetkan China secara khusus, Nepal tetap mendorong konsep climate justice.
Menteri Nepal sebelumnya mengatakan negara-negara yang menghasilkan emisi besar memiliki tanggung jawab lebih besar dalam membantu negara rentan yang menanggung dampak perubahan iklim. Pandangan tersebut mencakup Amerika Serikat, China, dan India.
Namun, konsep tersebut berbeda dengan tuntutan ganti rugi langsung kepada satu negara.
China Sambut Sikap Nepal
China merespons dengan menekankan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan bersama bagi seluruh umat manusia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing terus mendukung pembangunan hijau serta upaya internasional untuk menghadapi perubahan iklim.
Sikap tersebut menunjukkan China memilih pendekatan kerja sama multilateral.
China Kirim Bantuan untuk Nepal
Di tengah bencana, China juga memberikan bantuan darurat kepada Nepal.
Khanal menyampaikan apresiasi kepada pemerintah China atas bantuan yang diberikan setelah bencana longsor dan banjir besar melanda kawasan Himalaya.
China menyatakan akan terus membantu Nepal dalam penanganan bencana dan pengurangan risiko.
Bencana Dipicu Runtuhnya Gletser
Banjir besar yang menghantam kawasan perbatasan Nepal-Tibet bermula pada 26 Agustus 2026.
Reuters melaporkan bencana dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan Langtang, yang kemudian mengirimkan aliran air, es, batu, dan lumpur dalam jumlah sangat besar menuju lembah di Nepal dan Tibet.
Kerusakan Nepal Sangat Besar
Data terbaru pemerintah Nepal menunjukkan dampaknya sangat berat.
Reuters melaporkan kerugian ekonomi Nepal diperkirakan mencapai sekitar 387,5 miliar rupee Nepal atau US$2,56 miliar. Setidaknya 7.500 rumah hancur dan sekitar 20.000 rumah diperkirakan membutuhkan pembangunan kembali.
Angka tersebut masih dapat berubah karena proses penilaian kerusakan belum sepenuhnya selesai.
Korban Jiwa Tembus Ribuan
Jumlah korban juga terus meningkat seiring proses pencarian.
Laporan Reuters pada 4 September 2026 menyebut korban meninggal telah melampaui 1.250 orang, sementara lebih dari 4.200 orang masih dinyatakan hilang.
Tim penyelamat masih bekerja di berbagai lokasi yang tertutup material longsor.
Banyak Infrastruktur Energi Rusak
Bencana juga menghantam sektor pembangkit listrik Nepal.
Sebanyak 11 proyek pembangkit listrik tenaga air terdampak, termasuk kerusakan pada akses jalan dan fasilitas pendukung. Reuters memperkirakan kapasitas pembangkitan Nepal yang terdampak sekitar 10 persen.
Nepal Kehilangan Kapasitas Listrik
Sektor energi menjadi salah satu bagian paling terpukul.
Kerusakan fasilitas pembangkit membuat Nepal harus mengambil langkah darurat, termasuk menghentikan ekspor listrik dan meningkatkan ketergantungan pada pasokan dari India.
Mengapa Perubahan Iklim Dikaitkan?
Para ilmuwan telah lama memperingatkan perubahan kondisi gletser Himalaya.
Reuters mengutip penelitian bahwa kenaikan suhu menyebabkan pencairan gletser semakin cepat, sementara perubahan pola salju meningkatkan risiko banjir dan longsor di kawasan pegunungan.
Namun, menghubungkan satu bencana secara langsung dengan perubahan iklim memerlukan analisis ilmiah khusus.
Bencana Kali Ini Bukan GLOF Biasa
Salah satu fakta penting adalah bencana terbaru bukan sekadar glacial lake outburst flood (GLOF).
Penilaian awal menunjukkan runtuhnya gletser dan material batuan memicu aliran besar ke sungai, kemudian menghasilkan banjir bandang yang sangat cepat.
Himalaya Sangat Rentan
Wilayah Himalaya menghadapi kombinasi risiko.
Gletser, lereng curam, hujan monsun, aktivitas seismik, serta perubahan suhu membuat kawasan tersebut sangat rentan terhadap bencana berantai.
Data Peringatan Dini Jadi Persoalan
Sebelum bencana, Nepal dan China sebenarnya sudah membicarakan peningkatan kerja sama mengenai data cuaca, gletser, dan risiko banjir.
Namun, pejabat Nepal mengatakan mereka belum mendapatkan informasi sebanyak yang diharapkan mengenai pergerakan gletser dan perubahan muka air.
China Punya Pandangan Berbeda
China mengatakan pertukaran informasi tetap dilakukan secara tepat waktu.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan kedua negara memiliki kerja sama yang baik dalam meteorologi, sumber daya air, serta pencegahan dan pengurangan risiko bencana.
Masalah Medan Sangat Sulit
Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi geografis.
Banyak sumber bahaya berada di ketinggian lebih dari 5.000 meter. Medan ekstrem, salju, es, awan, dan suhu rendah membuat pemantauan langsung sangat sulit.
Stasiun Pemantauan Ikut Hancur
Banjir juga menghancurkan beberapa stasiun pemantauan.
Reuters menyebut sedikitnya empat stasiun tidak lagi mengirim data setelah diterjang banjir. Kondisi tersebut membuat sistem peringatan Nepal ikut terganggu saat bencana berlangsung.
Nepal Ingin Sistem Data Lebih Cepat
Nepal kini kembali mendorong pembentukan sistem berbagi data yang lebih kuat dengan China.
Pejabat hidrologi Nepal mengatakan mereka ingin menerima informasi secara berkala, bahkan setiap 10 menit, agar peringatan dapat disampaikan lebih cepat kepada masyarakat.
Fokus Nepal Bukan Menyalahkan China
Reuters mencatat pejabat Nepal mengatakan prioritas mereka adalah memperdalam kerja sama dengan China, bukan menyalahkan Beijing atas bencana tersebut.
Ini penting untuk memahami posisi resmi Kathmandu.
Kompensasi Iklim Menjadi Agenda Global
Meski Nepal tidak menargetkan China secara khusus, isu kompensasi tetap memiliki dasar dalam perdebatan iklim internasional.
Negara-negara rentan sejak lama mendorong negara maju dan penghasil emisi besar untuk meningkatkan dukungan pendanaan terhadap kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim.
Nepal Berada di Garis Depan
Nepal berkontribusi relatif kecil terhadap emisi global.
Namun, masyarakatnya tinggal di wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan suhu, pencairan gletser, longsor, banjir, dan perubahan pola cuaca.
Konsep “Loss and Damage” Relevan
Dalam perundingan iklim internasional, istilah loss and damage digunakan untuk membahas dampak perubahan iklim yang tidak lagi mudah diatasi hanya dengan adaptasi.
Nepal ingin persoalan tersebut mendapat perhatian dalam kerangka global, bukan melalui tuntutan bilateral terhadap satu negara.
China Mendorong Kerja Sama Internasional
Dalam pernyataan resminya, China menekankan bahwa perubahan iklim merupakan persoalan yang harus dihadapi seluruh negara.
Beijing juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan Nepal dan komunitas internasional untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Bantuan China Terus Berjalan
China tidak hanya memberikan pernyataan politik.
Menurut Xinhua dan Kedutaan Besar China di Nepal, Beijing telah memberikan bantuan darurat untuk mendukung operasi penanggulangan bencana Nepal.
Dukungan Bukan Berarti Kompensasi
Perlu dibedakan antara bantuan kemanusiaan dan kompensasi iklim.
Bantuan bertujuan menangani keadaan darurat. Sementara kompensasi atau pendanaan loss and damage berkaitan dengan kerangka kebijakan iklim yang lebih luas.
Nepal Tidak Mengajukan Klaim Bilateral
Pernyataan Khanal pada 3 September sangat jelas.
Nepal tidak berniat mencari “climate justice compensation” secara terpisah dari China atau negara tertentu. Pemerintah Nepal akan mendorong isu tersebut melalui kerangka UNFCCC dan Paris Agreement.
Ini Mengubah Narasi Awal
Karena itu, judul yang menyebut Nepal menuntut China membayar kompensasi tidak lagi sepenuhnya tepat.
Yang lebih akurat adalah Nepal mendorong kompensasi atau dukungan internasional terkait dampak perubahan iklim, sementara China menekankan kerja sama global.
China dan Nepal Sama-sama Terdampak
Kedua negara berbagi kawasan Himalaya.
Gletser, sungai, dan ekosistem pegunungan yang melintasi perbatasan membuat masalah bencana dan perubahan iklim tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja.
Kerja Sama Jadi Kunci
Bencana terbaru menunjukkan pentingnya kerja sama lintas batas.
Data curah hujan, kondisi gletser, perubahan aliran sungai, dan potensi longsor dapat menjadi informasi penting bagi masyarakat di kedua sisi perbatasan.
Teknologi Pemantauan Perlu Diperkuat
Satelit, sensor otomatis, radar, drone, dan sistem peringatan berbasis teknologi dapat membantu meningkatkan kemampuan deteksi.
Namun, teknologi tersebut harus didukung pertukaran data yang cepat dan mekanisme komunikasi yang jelas.
Nepal Membutuhkan Pemulihan Besar
Kerugian US$2,56 miliar membuat kebutuhan rekonstruksi Nepal sangat besar.
Pemerintah harus memperbaiki rumah, jalan, jembatan, fasilitas listrik, jaringan komunikasi, dan sarana publik.
Pendanaan Jadi Tantangan
Kebutuhan pemulihan datang ketika Nepal juga kehilangan sebagian kapasitas ekonominya akibat bencana.
Karena itu, pendanaan internasional menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.
Perusahaan Asuransi Ikut Terpukul
Sektor asuransi juga menghadapi dampak.
Reuters memperkirakan kerugian komersial yang diasuransikan telah melampaui US$132 juta, terutama akibat kerusakan proyek pembangkit listrik.
Risiko Asuransi Bisa Meningkat
Kejadian tersebut dapat membuat perusahaan asuransi dan reasuransi menilai kembali risiko proyek infrastruktur di Himalaya.
Premi yang lebih tinggi bisa menjadi konsekuensi jangka panjang jika frekuensi bencana meningkat.
Infrastruktur Nepal Harus Disesuaikan
Bencana juga membuka pertanyaan mengenai desain pembangunan.
Reuters mencatat para ahli menilai perubahan iklim dan pembangunan infrastruktur di lembah sungai yang rentan perlu menjadi pertimbangan lebih besar dalam perencanaan proyek baru.
Pembangunan Energi Nepal Berisiko Tinggi
Nepal selama ini mengandalkan tenaga air sebagai salah satu sumber utama listrik dan ekspor.
Namun, kerentanan terhadap longsor dan banjir membuat standar keamanan proyek perlu terus disesuaikan dengan risiko iklim baru.
India Juga Terdampak
Bencana Himalaya tidak berhenti di Nepal dan Tibet.
Aliran sungai dan peringatan banjir juga berdampak kepada wilayah India bagian utara, sehingga kerja sama regional menjadi semakin penting.
Bukan Hanya Persoalan China
Karena kawasan Himalaya terhubung secara ekologis, isu ini melibatkan banyak negara.
Nepal, China, India, Bhutan, Pakistan, dan negara lain menghadapi berbagai risiko terkait air, gletser, dan perubahan iklim.
Dunia Perlu Sistem Bersama
Bencana terbaru menunjukkan bahwa sistem peringatan dini nasional saja tidak selalu cukup.
Ketika sumber bahaya berada dekat perbatasan, koordinasi lintas negara menjadi sangat penting.
Kompensasi Bukan Satu-Satunya Solusi
Pendanaan memang diperlukan.
Namun, Nepal juga membutuhkan sistem peringatan dini, pembangunan tahan bencana, perencanaan tata ruang, teknologi pemantauan, serta perlindungan masyarakat yang lebih kuat.
China dan Nepal Punya Kepentingan Bersama
Kedua negara sama-sama ingin mengurangi risiko di Himalaya.
Karena itu, memperkuat pertukaran data dan penelitian bersama dapat memberi hasil lebih konkret dibandingkan pertikaian diplomatik mengenai siapa yang harus disalahkan.
Beijing Pilih Pendekatan Kooperatif
Respons resmi China menekankan bantuan, kerja sama, dan tanggung jawab bersama.
Pernyataan tersebut konsisten dengan sikap Beijing bahwa perubahan iklim merupakan tantangan global yang membutuhkan tindakan kolektif.
Kathmandu Juga Geser Fokus
Setelah klarifikasi Khanal, fokus Nepal terlihat lebih condong pada mekanisme internasional.
Pemerintah tidak mengajukan klaim bilateral terhadap China, tetapi ingin persoalan kerugian iklim dibahas melalui kerangka hukum dan diplomasi iklim global.
Kesimpulan
Isu Nepal menuntut China membayar kompensasi akibat banjir bandang perlu diluruskan. Pernyataan terbaru Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal menyebut Kathmandu tidak berniat mencari kompensasi iklim secara khusus dari China atau negara tertentu. Nepal akan mendorong kompensasi melalui komunitas internasional berdasarkan kerangka UNFCCC dan Paris Agreement.
Di sisi lain, China menegaskan perubahan iklim merupakan tanggung jawab bersama umat manusia. Beijing mengatakan akan terus bekerja sama dengan Nepal dan komunitas internasional dalam pencegahan serta pengurangan dampak bencana.
Bencana 26 Agustus 2026 memang sangat besar. Kerugian Nepal diperkirakan mencapai US$2,56 miliar, lebih dari 1.250 orang meninggal, dan ribuan lainnya masih hilang. Sebanyak 11 proyek pembangkit listrik tenaga air juga terdampak.
Sementara itu, penyebab langsung bencana adalah runtuhnya gletser yang memicu banjir bandang, sedangkan perubahan iklim dipandang meningkatkan risiko ketidakstabilan gletser dan bahaya hidrometeorologi di Himalaya. Reuters juga mencatat Nepal dan China masih perlu memperkuat pertukaran data serta sistem peringatan dini lintas batas.
Karena itu, perkembangan terbaru lebih tepat dibaca sebagai dorongan Nepal untuk mendapatkan dukungan dan keadilan iklim secara internasional, bukan sebagai konflik terbuka antara Nepal dan China mengenai pembayaran kompensasi.





























