
TEHERAN — Narasi bahwa sanksi AS tak mempan terhadap Iran perlu dilihat lebih hati-hati. Iran memang masih memiliki sejumlah jalur perdagangan dan cadangan valuta asing. Namun, perkembangan terbaru justru menunjukkan tekanan ekonomi Amerika Serikat mulai terasa jauh lebih berat dibandingkan periode sebelumnya.
Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan Iran masih memiliki cadangan valuta asing yang cukup. Bank sentral bahkan siap menggelontorkan hingga US$2 miliar ke pasar valuta asing untuk meredam gejolak. Namun, pada saat yang sama, nilai rial telah jatuh melewati 2,2 juta rial per dolar AS dan inflasi tahunan mencapai sekitar 69,9 persen.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa uang Iran memang masih bergerak, tetapi perekonomian negara itu berada di bawah tekanan sangat besar.
Iran Masih Punya Cadangan Valuta Asing
Iran masih memiliki akses terhadap valuta asing, menurut pernyataan Hemmati pada 1 September 2026.
Gubernur bank sentral tersebut mengatakan Iran terus menerima piutang valuta asing dan masih memiliki cadangan domestik serta sumber daya lainnya. Ia juga mengatakan bank sentral siap menyuntik hingga US$2 miliar ke pasar untuk menstabilkan nilai tukar.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Teheran belum kehabisan likuiditas.
Tetapi Nilai Rial Terjun Bebas
Di balik klaim ketahanan tersebut, kondisi mata uang Iran sangat tertekan.
Reuters melaporkan rial telah jatuh dari sekitar 1 juta rial per dolar setahun sebelumnya menjadi lebih dari 2,2 juta rial per dolar dalam perkembangan terbaru.
Artinya, daya beli masyarakat Iran semakin tergerus.
Inflasi Iran Hampir 70 Persen
Tekanan mata uang kemudian berdampak langsung pada harga barang.
Data resmi yang dikutip Reuters menunjukkan inflasi 12 bulan mencapai 69,9 persen, sementara kenaikan harga makanan, minuman, dan tembakau bahkan hampir dua kali laju tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan sanksi AS tidak bisa disebut gagal sepenuhnya.
Gubernur Bank Sentral Iran Tetap Optimistis
Hemmati berusaha menenangkan masyarakat dan pasar.
Ia mengakui kondisi ekonomi dan pengelolaan kebutuhan hidup menjadi sulit, tetapi menegaskan bahwa ekonomi Iran belum runtuh. Menurutnya, sebagian kabar negatif juga merupakan bentuk perang psikologis.
Pernyataan tersebut memperlihatkan upaya pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
AS Perketat Sanksi Sekunder
Washington tidak hanya menargetkan perusahaan Iran.
Reuters melaporkan AS memperluas secondary sanctions, yaitu sanksi terhadap pihak ketiga yang tetap melakukan transaksi bisnis dengan Iran. Kebijakan ini bertujuan menghambat akses Iran terhadap transaksi dolar dan pembiayaan luar negeri.
Langkah tersebut membuat jalur perdagangan Iran semakin mahal.
Jaringan Penghindaran Sanksi Mulai Tertekan
Selama bertahun-tahun Iran menggunakan perusahaan perantara, kapal yang tidak terdaftar secara jelas, serta jaringan perdagangan alternatif untuk menghindari sanksi.
Namun, Reuters melaporkan strategi tersebut kini semakin mahal karena pihak perantara meminta biaya lebih tinggi dan sebagian jalur keuangan mulai terganggu.
Minyak Tetap Menjadi Andalan Iran
Meski tertekan, minyak masih merupakan sumber pemasukan paling penting bagi Iran.
Masalahnya, kemampuan ekspor minyak Iran kini mengalami penurunan tajam akibat blokade dan pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Ekspor Minyak Iran Anjlok
Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan pemuatan minyak mentah Iran turun menjadi sekitar 260 ribu barel per hari, dari sekitar 1,7 juta barel per hari setahun sebelumnya.
Penurunan tersebut sangat besar dan langsung memukul pemasukan negara.
Sebelumnya Iran Masih Bisa Menjual Minyak
Inilah yang membuat situasi terbaru berbeda.
Pada periode sanksi sebelumnya, minyak Iran masih bisa mengalir ke pasar melalui berbagai jalur. Reuters mencatat bahwa bahkan ketika tekanan maksimum diberlakukan pada 2019–2020, sebagian minyak Iran masih berhasil melewati Selat Hormuz setiap bulan.
Kini, aliran tersebut jauh lebih terbatas.
China Menjadi Pembeli Utama Iran
China merupakan pasar penting bagi minyak Iran.
Namun, Reuters melaporkan sejak blokade AS diberlakukan kembali pada Juli, tidak ada pengiriman minyak mentah Iran yang berhasil melewati Selat Hormuz menuju China dalam jumlah berarti.
Kondisi ini membuat Teheran semakin bergantung pada stok minyak yang sudah berada di laut.
Minyak Disimpan di Kapal
Iran masih memiliki minyak yang disimpan di kapal tanker.
Reuters menyebut minyak Iran dalam floating storage di luar Teluk meningkat menjadi sekitar 41,7 juta barel pada 26 Agustus, tetapi total minyak Iran yang berada di laut justru turun dari 135 juta menjadi 107 juta barel.
Persediaan tersebut tetap terbatas karena tanker kosong sulit kembali ke pelabuhan Iran.
Armada Bayangan Masih Bergerak
Jaringan kapal yang disebut shadow fleet juga belum hilang.
Reuters menyebut puluhan kapal terkait Iran masih beroperasi di kawasan Teluk Oman dan Asia, meskipun data jumlah kapal tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Ini menjadi salah satu alasan aliran uang dan minyak Iran belum benar-benar berhenti.
Jadi, Apakah Sanksi AS Gagal?
Tidak sepenuhnya.
Sanksi AS sebelumnya memang berhasil ditembus oleh jaringan perdagangan Iran. Namun, menurut perkembangan terbaru Reuters, kombinasi sanksi tambahan dan blokade minyak sekarang jauh lebih efektif mengurangi akses Iran terhadap valuta asing.
Iran Masih Bisa Menghasilkan Uang
Iran belum berhenti menghasilkan pemasukan.
Negara tersebut masih mempunyai minyak yang sudah berada di luar wilayah blokade, masih memiliki jaringan perdagangan alternatif, dan masih menerima piutang valuta asing.
Namun, jumlah dan kecepatannya semakin terbatas.
Biaya Menghindari Sanksi Makin Mahal
Salah satu masalah utama Iran adalah biaya transaksi.
Reuters menyebut perusahaan perantara kini meminta premi yang lebih tinggi untuk membantu transaksi Iran. Kondisi tersebut mengurangi keuntungan dari perdagangan yang sebelumnya menjadi salah satu penopang ekonomi.
Perdagangan Iran Turun Tajam
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut total perdagangan negara tersebut telah turun sekitar 25 hingga 35 persen, dengan impor terkena dampak lebih berat dibandingkan ekspor.
Penurunan tersebut menunjukkan tekanan mulai masuk ke ekonomi riil.
Uni Emirat Arab Jadi Faktor Penting
UEA selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan penting bagi Iran.
Namun, Reuters melaporkan UEA menghentikan seluruh transaksi komersial dan keuangan dengan Teheran pada 19 Agustus sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Langkah tersebut menutup salah satu jalur penting Iran.
Barang Impor Menjadi Lebih Mahal
Ketika jalur perdagangan ditutup atau dipersulit, pemasok meminta pembayaran tunai dan pengiriman harus melalui negara lain.
Pedagang Iran mengatakan kondisi tersebut membuat barang datang lebih lambat dan lebih mahal.
Rakyat Menanggung Beban
Tekanan sanksi akhirnya dirasakan masyarakat.
Gaji rata-rata bulanan yang dikutip Reuters sekitar US$125, sedangkan kebutuhan dasar rumah tangga mencapai sekitar US$450 per bulan.
Kesenjangan tersebut menggambarkan beratnya krisis biaya hidup Iran.
Pengangguran Juga Naik
Data resmi yang dikutip Reuters menunjukkan tingkat pengangguran meningkat menjadi 9,1 persen pada musim semi.
Jumlah orang yang bekerja juga turun sekitar 450 ribu orang dibandingkan setahun sebelumnya.
Iran Menghadapi Krisis Berlapis
Krisis Iran sekarang tidak hanya mengenai sanksi.
Negara itu menghadapi kombinasi jatuhnya mata uang, inflasi tinggi, gangguan perdagangan, penurunan ekspor minyak, serta konflik militer.
Sanksi Bukan Satu-satunya Masalah
Sebagian persoalan ekonomi Iran sudah ada sebelum eskalasi terbaru.
Reuters menyebut ekonomi Iran memang sudah berada dalam kondisi sulit sebelum konflik, sementara perang kemudian menambah tagihan besar untuk memperbaiki industri dan infrastruktur yang rusak.
Perang Membuat Tekanan Makin Berat
Konflik dengan AS ikut memperburuk situasi.
Serangan militer membuat perdagangan dan logistik terganggu. Pada saat bersamaan, pemerintah harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk kebutuhan perang dan pemulihan.
Iran Masih Bisa Bertahan
Meski kondisi berat, Iran belum mengalami keruntuhan ekonomi total.
Hemmati menegaskan Iran masih memiliki cadangan valuta asing dan sumber daya internal.
Artinya, Teheran masih mempunyai bantalan untuk menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
Namun Bantalan Itu Menipis
Masalahnya adalah kecepatan tekanan.
Ketika ekspor minyak turun, inflasi mendekati 70 persen, dan mata uang jatuh tajam, cadangan valuta asing akan semakin penting untuk menjaga impor dan stabilitas pasar.
Ancaman Terbesar Ada pada Impor
Iran tetap membutuhkan barang dari luar negeri.
Keterbatasan valuta asing dapat membuat pembayaran impor semakin sulit. Akibatnya, barang penting berpotensi semakin mahal.
Pemerintah Harus Memilih Prioritas
Teheran harus membagi valuta yang tersedia untuk kebutuhan penting.
Energi, pangan, obat-obatan, industri, serta kebutuhan militer semuanya bersaing mendapatkan sumber daya yang semakin terbatas.
Minyak Iran Masih Ada di Laut
Salah satu aset penting Iran adalah stok minyak di kapal.
Tetapi stok tersebut bukan sumber pendapatan tanpa batas. Setelah minyak terjual, tanker perlu kembali ke pelabuhan Iran untuk mengisi muatan baru, sementara blokade membuat proses itu semakin sulit.
China Masih Menjadi Kunci
China tetap sangat penting bagi Iran karena merupakan pembeli utama minyak Iran.
Namun, jalur pengiriman menjadi persoalan utama. Tanpa kemampuan mengirimkan minyak baru, Teheran semakin bergantung pada stok lama yang berada di luar wilayah blokade.
Sanksi Membuat Iran Lebih Kreatif
Selama bertahun-tahun, Iran membangun jaringan perdagangan alternatif.
Perusahaan cangkang, kapal berisiko tinggi, perantara, dan transaksi melalui negara ketiga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Tetapi Jaringan Itu Ada Batasnya
Semakin ketat pengawasan, semakin mahal jaringan tersebut.
Reuters melaporkan tekanan terbaru membuat perusahaan perantara mundur atau meminta pembayaran lebih tinggi.
AS Mengincar Akses Dolar
Salah satu target paling strategis Washington adalah akses Iran terhadap dolar.
Tanpa akses pembiayaan dan kliring internasional, Iran lebih sulit membeli barang, mengirim uang, atau menjual minyak secara normal.
Itulah Sebabnya Uang Iran Belum Benar-benar Berhenti
Iran masih bisa menggunakan jalur alternatif.
Tetapi setiap transaksi menjadi lebih mahal, lambat, dan berisiko. Inilah perbedaan antara “uang masih mengalir” dan “sanksi tidak efektif.”
Dua Klaim yang Berbeda
Pemerintah Iran mengatakan ekonomi tetap bertahan.
Sementara data perdagangan dan nilai tukar menunjukkan tekanan semakin berat.
Keduanya bisa benar pada saat yang sama.
Ekonomi Belum Runtuh, Tapi Tertekan
Ini adalah gambaran yang paling sesuai dengan data.
Iran belum kehilangan seluruh akses terhadap uang dan perdagangan. Namun, kemampuan menghasilkan dan mengakses valuta asing telah terganggu secara signifikan.
Apa Dampaknya bagi Dunia?
Tekanan terhadap Iran juga berdampak pada pasar energi.
Ketidakpastian di Selat Hormuz membuat investor khawatir terhadap pasokan minyak global. Harga Brent bahkan sempat melonjak tajam pada awal September.
Selat Hormuz Jadi Titik Kunci
Jalur ini sangat penting bagi perdagangan energi.
Reuters mencatat lalu lintas kapal komoditas melalui Hormuz turun jauh di bawah rata-rata setelah konflik kembali memanas.
Konflik Bisa Mendorong Harga Minyak
Jika ketegangan terus meningkat, pasokan global bisa semakin terganggu.
Kondisi tersebut dapat menaikkan harga energi dan akhirnya berdampak pada inflasi di berbagai negara.
Iran Ingin Menunjukkan Ketahanan
Secara politik, Teheran perlu menunjukkan bahwa sanksi tidak mampu melumpuhkan negara.
Pernyataan Hemmati mengenai cadangan valuta asing menjadi bagian dari pesan tersebut.
AS Ingin Menunjukkan Sanksi Efektif
Sebaliknya, Washington ingin menunjukkan bahwa tekanan ekonominya mulai memaksa Iran menghadapi pilihan sulit.
Reuters menilai tekanan terbaru memang mulai memberikan dampak lebih besar dibandingkan sanksi pada periode sebelumnya.
Jadi Siapa yang Lebih Unggul?
Belum ada pemenang yang jelas.
Iran masih bertahan dan masih memiliki jalur ekonomi. Namun, biaya untuk mempertahankan jalur tersebut semakin tinggi.
Perang Ekonomi Belum Selesai
Sanksi tidak selalu menghasilkan keruntuhan instan.
Efeknya dapat muncul melalui inflasi, nilai tukar, akses pembiayaan, perdagangan, dan kemampuan impor.
Kesimpulan
Sanksi AS terhadap Iran belum membuat seluruh aliran uang Teheran berhenti. Bank Sentral Iran masih mengklaim memiliki cadangan valuta asing yang cukup dan siap menyuntik hingga US$2 miliar untuk menstabilkan pasar.
Iran juga masih mempunyai minyak dalam floating storage dan jaringan perdagangan alternatif. Kapal-kapal yang terkait dengan perdagangan minyak Iran masih beroperasi di beberapa wilayah Asia dan sekitarnya, meskipun skalanya semakin terbatas.
Namun, fakta ekonomi terbaru menunjukkan sanksi dan blokade AS mulai jauh lebih efektif menekan Iran. Ekspor minyak turun menjadi sekitar 260 ribu barel per hari, dibandingkan 1,7 juta barel setahun sebelumnya. Nilai rial juga jatuh melewati 2,2 juta per dolar, sementara inflasi hampir 70 persen.
Jadi, judul “Sanksi AS Tak Mempan” terlalu mutlak. Gambaran yang lebih akurat adalah uang Iran masih mengalir melalui jalur yang tersisa, tetapi alirannya semakin mahal, lambat, dan terbatas.

































































































































































































