
LUBUKLINGGAU — Beruang madu mendekati permukiman warga di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, dan kemunculannya terjadi dua kali dalam tiga hari. Satwa yang diduga beruang madu itu pertama kali terlihat pada Rabu, 2 September 2026, sekitar pukul 16.00 WIB di perkebunan Kelurahan Lubuk Binjai, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I.
Kemunculan tersebut menjadi perhatian karena lokasi perkebunan hanya berjarak sekitar 50 meter dari permukiman. Warga kemudian melaporkan kejadian itu kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan.
Pada Jumat, 4 September 2026, satwa tersebut kembali terlihat. Kali ini, beruang diduga merusak pohon kelapa milik warga dan meninggalkan jejak di sekitar kebun.
Beruang Madu Muncul Dekat Permukiman
Beruang madu mendekati permukiman setelah terlihat keluar dari semak-semak menuju area perkebunan warga.
Penampakan pertama diketahui oleh petugas PT KAI yang sedang bekerja di sekitar rel. Setelah itu, sejumlah warga ikut melihat dan merekam kemunculan satwa tersebut. Video tersebut kemudian menyebar di media sosial.
Kondisi ini membuat warga khawatir karena habitat satwa berada tidak jauh dari kebun dan rumah penduduk.
Jarak Beruang Hanya Sekitar 50 Meter dari Rumah
Lurah Lubuk Binjai Mustaqim mengatakan beruang terlihat di kebun yang berjarak sekitar 50 meter dari permukiman.
Jarak yang cukup dekat membuat pemerintah setempat meminta warga meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang bekerja di kebun.
Diduga Keluar untuk Mencari Minum
Kemunculan beruang diduga berkaitan dengan kondisi cuaca yang panas dan kemarau.
Camat Lubuklinggau Selatan I, M Reza, menduga beruang keluar karena haus dan lapar. Ia menyebut satwa tersebut kemungkinan mencari makanan dan air di sekitar perkebunan serta permukiman.
Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan resmi.
BKSDA Masih Menyelidiki Penyebabnya
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumatera Selatan, Yusmono, mengatakan tim sudah turun ke lokasi.
Menurutnya, dari video warga, satwa tersebut kemungkinan merupakan beruang madu. Namun, BKSDA masih melakukan pengecekan untuk memastikan jenis satwa dan penyebab kemunculannya.
Beruang Kembali Muncul pada 4 September
Situasi semakin membuat warga waspada karena beruang kembali terlihat pada Jumat pagi.
Menurut Lurah Lubuk Binjai, satwa tersebut masih berkeliaran di area perkebunan. Selain terlihat warga, beruang juga diduga merusak pohon kelapa milik Ketua RT setempat.
Warga Sempat Ingin Memburu Beruang
Kemunculan kedua membuat sebagian warga ingin memburu satwa tersebut karena khawatir beruang masuk ke permukiman.
Namun, rencana tersebut dilarang oleh lurah. Pemerintah mengingatkan bahwa beruang madu merupakan satwa yang dilindungi sehingga penanganannya harus dilakukan petugas berwenang.
Warga Diminta Tidak Menyerang
Pemerintah setempat meminta warga tidak mencoba membunuh atau menangkap beruang.
Warga yang melihat satwa tersebut diminta menjauh dan segera melaporkan kepada petugas. Imbauan ini penting untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa liar.
Aktivitas ke Kebun Sementara Dibatasi
Karena beruang diduga masih berada di sekitar kebun, warga diminta tidak beraktivitas di lokasi penampakan untuk sementara waktu.
Langkah tersebut dilakukan hingga petugas BKSDA memastikan kondisi kawasan aman.
Habitat Beruang Berbatasan dengan Hutan Luas
Wilayah sekitar Lubuk Binjai memiliki kawasan hutan yang luas dan berbatasan dengan wilayah lain.
Camat Lubuklinggau Selatan I menyebut kawasan tersebut berhubungan dengan wilayah Rejang Lebong, Bengkulu, dan daerah sekitar Musi Rawas. Kondisi geografis itu membuat pergerakan satwa sulit dipantau hanya dari satu lokasi.
Dugaan Karhutla Belum Terbukti
Selain kemarau, kemungkinan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla sempat disebut sebagai faktor yang membuat satwa keluar dari habitat.
Namun, pemerintah setempat mengaku belum menerima laporan kebakaran di sekitar lokasi penampakan. Kondisi di dalam hutan juga masih perlu diperiksa karena wilayahnya cukup luas.
Karena itu, dugaan karhutla belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kemunculan beruang.
BKSDA Turunkan Tim
BKSDA Sumsel telah mengirim tim untuk mengecek lokasi.
Petugas juga berupaya mengetahui arah pergerakan beruang dan kemungkinan cara terbaik untuk mengembalikannya ke habitat tanpa membahayakan masyarakat.
Beruang Madu Merupakan Satwa Dilindungi
Beruang madu atau Helarctos malayanus termasuk satwa liar yang mendapat perlindungan.
Karena itu, masyarakat tidak boleh mengambil tindakan sendiri yang dapat melukai atau membunuh satwa tersebut. Penanganan konflik harus dilakukan bersama petugas konservasi.
Konflik Manusia dan Satwa Harus Dicegah
Kemunculan satwa liar di dekat rumah menjadi tanda bahwa batas antara habitat alami dan aktivitas manusia semakin penting untuk diperhatikan.
Ketika makanan atau air berkurang, satwa dapat bergerak lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Bukan Berarti Beruang Sengaja Menyerang
Kemunculan beruang di dekat permukiman tidak otomatis berarti satwa tersebut ingin menyerang manusia.
Namun, beruang tetap merupakan satwa liar yang bisa berbahaya jika merasa terancam. Karena itu, menjaga jarak merupakan pilihan paling aman.
Jangan Berkerumun Saat Beruang Terlihat
Kerumunan warga dapat membuat satwa stres dan merasa terdesak.
Karena itu, warga sebaiknya tidak mengejar, merekam dari jarak dekat, atau mencoba mengusir beruang secara bersama-sama.
Sampah dan Sumber Makanan Perlu Diamankan
Warga juga perlu memastikan sampah dan sumber makanan tidak dibiarkan terbuka.
Aroma makanan dapat menarik satwa liar semakin dekat ke permukiman. Pengelolaan lingkungan sekitar rumah menjadi salah satu langkah pencegahan konflik.
Kemunculan Beruang Bukan Kasus Pertama di Sumatera
Konflik antara beruang madu dan manusia juga terjadi di wilayah lain di Sumatera.
Pada Juli 2026, BBKSDA Riau menangani kemunculan beruang madu di sekitar permukiman Kerumutan. Petugas memasang kandang jebak dan akhirnya melepasliarkan satwa tersebut kembali ke habitat yang jauh dari permukiman.
Penanganan Harus Terukur
Kasus di Lubuklinggau menunjukkan pentingnya respons cepat.
Warga membutuhkan rasa aman, sementara satwa juga harus ditangani tanpa tindakan yang dapat membahayakan manusia atau membuat satwa mati.
Pencarian Beruang Masih Berlangsung
Sampai Jumat, 4 September 2026, BKSDA Sumsel masih berada di lapangan.
Petugas belum menyatakan beruang sudah berhasil dievakuasi atau kembali ke hutan.
Warga Diminta Tetap Tenang
Pemerintah mengingatkan masyarakat tidak membuat tindakan berdasarkan kepanikan.
Apabila beruang terlihat, warga diminta segera menghubungi aparat atau BKSDA dan menghindari lokasi.
Kesimpulan
Beruang madu mendekati permukiman warga di Lubuklinggau dan kembali muncul pada 4 September 2026. Satwa tersebut pertama kali terlihat pada 2 September di perkebunan Kelurahan Lubuk Binjai, sekitar 50 meter dari permukiman warga.
Pada kemunculan kedua, beruang diduga merusak pohon kelapa dan meninggalkan jejak di kebun warga. Kondisi itu membuat masyarakat semakin waspada dan sebagian warga sempat ingin memburu satwa tersebut. Namun, pemerintah melarang tindakan tersebut karena beruang madu merupakan satwa yang dilindungi.
Pemerintah setempat menduga kemarau dan cuaca panas menjadi salah satu faktor yang membuat beruang mencari makanan dan air. Kemungkinan karhutla juga disebut, tetapi belum ada bukti bahwa kebakaran menjadi penyebab kemunculan satwa tersebut.
BKSDA Sumatera Selatan telah menurunkan tim untuk memastikan jenis satwa, mencari penyebab kemunculan, dan menentukan langkah penanganan. Sampai perkembangan terakhir, beruang masih diduga berada di sekitar perkebunan.
Bagi warga, langkah paling aman adalah tidak mendekati, mengejar, atau menyerang beruang. Masyarakat yang kembali melihat satwa tersebut sebaiknya segera melapor kepada BKSDA atau aparat setempat.

































































































































































































