
Beijing – Persaingan teknologi China dan Amerika Serikat memasuki babak baru. Kali ini, pertarungan terjadi di industri robot humanoid yang berkembang pesat.
China kini memiliki keunggulan besar dalam produksi dan pengiriman robot humanoid. Di sisi lain, Amerika Serikat mulai memperketat akses terhadap robot buatan luar negeri dengan alasan keamanan nasional.
Kondisi tersebut memunculkan persaingan baru dalam industri teknologi global. China mengandalkan produksi massal dan rantai pasok yang kuat, sementara AS berusaha melindungi pasar domestiknya dari teknologi asing yang dianggap berisiko.
China Dominasi Pengiriman Robot Humanoid
Perkembangan robot humanoid China berlangsung sangat cepat.
Menurut data Counterpoint yang dikutip TechCrunch, pengiriman robot humanoid global mencapai sekitar 22.000 unit pada paruh pertama 2026. Sebagian besar berasal dari produsen China.
Lima produsen humanoid terbesar berdasarkan pengiriman pada periode tersebut juga berasal dari China. Mereka adalah AgiBot, Unitree, Galbot, UBTECH, dan Leju Robotics.
Kelima perusahaan tersebut secara gabungan menguasai sekitar 86 persen pengiriman robot humanoid global pada paruh pertama 2026.
Angka tersebut menunjukkan besarnya keunggulan China dalam skala produksi.
Keunggulan itu tidak hanya berasal dari perusahaan robot. China juga memiliki industri baterai, sensor, elektronik, kendaraan listrik, dan komponen yang mendukung perkembangan robotika.
China Unggul dari Sisi Manufaktur
Salah satu alasan utama China mampu bergerak cepat adalah kekuatan rantai pasok.
Perusahaan robot China dapat memanfaatkan ekosistem manufaktur yang sudah berkembang selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut membantu produsen mempercepat pengembangan produk sekaligus menekan biaya.
TechCrunch mencatat bahwa China memiliki keunggulan dalam skala manufaktur, kedalaman rantai pasok, dan biaya produksi. Sementara itu, Amerika Serikat masih memiliki keunggulan dalam AI frontier, perangkat lunak, dan inovasi semikonduktor.
Perbedaan tersebut membuat persaingan robot humanoid tidak hanya menjadi persaingan produk.
Pertarungannya juga menyangkut kemampuan sebuah negara memproduksi robot dalam jumlah besar dan dengan harga yang kompetitif.
AS Mulai Batasi Robot Buatan Asing
Di tengah dominasi China, Amerika Serikat mulai mengambil langkah untuk membatasi teknologi robot asing.
Pada Juli 2026, Federal Communications Commission atau FCC memasukkan advanced robotic devices ke dalam daftar teknologi yang dianggap memiliki risiko keamanan nasional.
Aturan tersebut berdampak terutama pada robot buatan luar negeri, termasuk robot humanoid dan robot berkaki empat.
Pemerintah AS menyatakan perangkat asing tertentu berpotensi digunakan untuk pengawasan, dikendalikan dari jarak jauh, atau dimanfaatkan dalam serangan siber.
Namun, kebijakan tersebut tidak berarti seluruh robot asing yang sudah digunakan di Amerika Serikat langsung dilarang.
Menurut IDC, aturan FCC lebih tepat dipahami sebagai pembatasan terhadap otorisasi perangkat baru, dengan sejumlah pengecualian dan jalur persetujuan bersyarat.
Robot China Jadi Perhatian Washington
Kebijakan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.
Robot humanoid China berkembang dengan cepat dan mulai memasuki berbagai sektor. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk demonstrasi, tetapi mulai diuji untuk pekerjaan industri, logistik, pelayanan, dan berbagai tugas yang membutuhkan otomatisasi.
Kekhawatiran Washington berkaitan dengan potensi keamanan perangkat yang memiliki sensor, konektivitas internet, kamera, dan kemampuan bergerak secara mandiri.
Robot yang terhubung ke jaringan dapat mengumpulkan data dari lingkungan sekitar. Karena itu, keamanan perangkat menjadi semakin penting ketika robot digunakan di fasilitas sensitif.
Lima Perusahaan China Kuasai Pasar
Dominasi China terlihat jelas dari daftar produsen terbesar.
AgiBot dan Unitree menjadi dua nama yang paling menonjol. Selain itu, terdapat Galbot, UBTECH, dan Leju Robotics yang juga mencatat pengiriman besar.
Kelima perusahaan tersebut berasal dari China dan secara bersama-sama menguasai sekitar 86 persen pengiriman humanoid global pada paruh pertama 2026.
Posisi tersebut memberikan keuntungan besar.
Semakin banyak robot yang diproduksi dan digunakan, semakin banyak pula data operasional yang dapat dikumpulkan. Data tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan robot dan mempercepat pengembangan generasi berikutnya.
China Bisa Perluas Pasar ke Negara Lain
Jika akses ke pasar Amerika Serikat semakin terbatas, perusahaan China masih memiliki ruang ekspansi yang sangat besar.
TechCrunch mencatat perusahaan robot China mulai mengincar pasar di Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Wilayah tersebut memiliki kebutuhan otomasi yang semakin besar karena persoalan tenaga kerja dan perubahan demografi.
Situasi ini dapat membuat industri robot global semakin terfragmentasi.
Perusahaan China kemungkinan semakin fokus pada pasar dengan kebutuhan robot berbiaya rendah. Sementara itu, perusahaan Amerika Serikat dan sekutunya dapat lebih fokus pada pasar yang membutuhkan standar keamanan tinggi.
AS Masih Punya Keunggulan di AI
Dominasi China dalam produksi robot tidak berarti Amerika Serikat kalah dalam seluruh aspek teknologi.
AS masih memiliki posisi kuat dalam kecerdasan buatan, perangkat lunak, dan teknologi semikonduktor.
Keunggulan tersebut sangat penting karena robot humanoid membutuhkan AI untuk memahami lingkungan, mengambil keputusan, mengenali objek, serta berinteraksi dengan manusia.
Masalahnya, robot juga membutuhkan komponen fisik dalam jumlah besar.
Karena itu, kemampuan AI saja tidak cukup. Produsen juga membutuhkan motor, baterai, sensor, aktuator, kamera, chip, dan komponen mekanis.
Di sinilah China memiliki keunggulan manufaktur yang sulit ditandingi dalam waktu singkat.
Persaingan Robot Mulai Mirip Industri Mobil Listrik
Persaingan tersebut mulai memiliki kemiripan dengan perkembangan industri kendaraan listrik.
Perusahaan China membangun skala besar di pasar domestik sebelum memperluas ekspansi ke luar negeri.
Strategi serupa dapat terjadi di industri robot humanoid.
Dengan produksi besar, perusahaan dapat menekan harga. Harga yang lebih rendah kemudian membuat robot lebih mudah digunakan di berbagai sektor.
Jika skenario tersebut terjadi, robot humanoid China dapat berkembang pesat di negara-negara yang membutuhkan otomatisasi tetapi tidak memiliki kemampuan produksi sendiri.
Robot Humanoid Belum Sepenuhnya Matang
Meski China mendominasi pasar awal, industri humanoid masih berada pada tahap perkembangan.
Robot humanoid menghadapi sejumlah masalah teknis. Beberapa di antaranya adalah konsumsi energi, daya tahan baterai, kemampuan berjalan di medan tidak terduga, dan keandalan sistem.
Reuters juga melaporkan bahwa robot humanoid China masih menghadapi keterbatasan energi dan keandalan ketika digunakan di luar lingkungan demonstrasi yang terkendali.
Artinya, dominasi China saat ini belum berarti robot humanoid sudah siap menggantikan manusia dalam skala besar.
Masih dibutuhkan pengembangan teknologi sebelum robot dapat bekerja secara konsisten dalam kondisi nyata.
Persaingan Teknologi China-AS Makin Panas
Persaingan robot humanoid menjadi bagian baru dari rivalitas teknologi China dan Amerika Serikat.
China memiliki keunggulan pada manufaktur dan rantai pasok. Amerika Serikat memiliki kekuatan dalam AI, perangkat lunak, dan semikonduktor.
Kedua keunggulan tersebut akan menentukan siapa yang mampu membangun ekosistem robot humanoid paling kuat.
Pembatasan AS dapat memperlambat masuknya robot China ke pasar Amerika. Namun, kebijakan tersebut tidak otomatis menghentikan ekspansi perusahaan China ke pasar dunia lainnya.
Justru, pembatasan tersebut berpotensi membuat industri robot global terbagi menjadi beberapa ekosistem regional.
Kesimpulan
China semakin dominan dalam industri robot humanoid, terutama dari sisi produksi dan pengiriman.
Pada paruh pertama 2026, lima produsen humanoid terbesar berdasarkan pengiriman semuanya berasal dari China dan menguasai sekitar 86 persen pengiriman global.
Sementara itu, Amerika Serikat mulai membatasi robot asing baru melalui kebijakan FCC yang didorong alasan keamanan nasional.
Namun, pembatasan tersebut belum berarti China kehilangan peluang.
Perusahaan China masih memiliki pasar domestik yang besar dan dapat memperluas bisnis ke Eropa, Asia, Asia Tenggara, Amerika Latin, serta Timur Tengah.
Persaingan robot humanoid kini bukan hanya soal siapa yang memiliki robot paling canggih. Pertarungan juga ditentukan oleh AI, manufaktur, rantai pasok, harga, keamanan, dan kemampuan memproduksi robot dalam skala besar.















































































































































































































