
DJI asal China menjadi salah satu nama terbesar dalam industri drone dunia. Dengan teknologi kamera, stabilisasi, sensor, hingga ekosistem perangkat lunak yang kuat, perusahaan ini berhasil menguasai porsi besar pasar drone konsumen dan komersial.
Judul “Bisnis Drone Paling Monopoli di Dunia” memang terdengar ekstrem. Namun, istilah yang lebih tepat adalah dominasi pasar drone.
DJI merupakan produsen drone nonmiliter terbesar di dunia. Reuters melaporkan bahwa DJI menguasai sekitar 70% pasar drone konsumen dan komersial global, berdasarkan sumber yang dikutip dalam laporan mengenai rencana pendanaan perusahaan.
Sementara itu, sejumlah analisis pasar memberikan estimasi yang bahkan lebih tinggi untuk segmen drone sipil tertentu. Le Monde, mengutip data Daxue Consulting, menyebut DJI menguasai sekitar 90% pasar drone global dalam kategori yang dianalisis.
DJI Bukan Sekadar Merek Drone
DJI atau Da-Jiang Innovations berdiri di Shenzhen, China, pada 2006.
Perusahaan ini awalnya dikenal melalui drone kamera untuk konsumen. Namun, bisnisnya berkembang ke berbagai sektor.
Drone DJI kini digunakan untuk kebutuhan fotografi dan videografi, pemetaan, inspeksi infrastruktur, konstruksi, pertanian, hingga berbagai aplikasi komersial.
Reuters melaporkan DJI juga berencana memperluas bisnis drone untuk sektor pertanian, energi, konstruksi, dan inspeksi infrastruktur.
Strategi tersebut membuat DJI tidak hanya bergantung pada pasar hobi.
Perusahaan memiliki peluang untuk mendapatkan pendapatan dari pasar profesional yang membutuhkan drone dengan kemampuan lebih tinggi.
Mengapa DJI Bisa Mendominasi?
Ada beberapa alasan yang membuat DJI sulit disaingi.
Pertama adalah teknologi.
DJI menggabungkan kamera, sensor, sistem stabilisasi, navigasi, baterai, perangkat lunak, dan pengendali dalam satu ekosistem.
Hasilnya, pengguna tidak harus membeli banyak komponen dari produsen berbeda.
Kedua adalah skala produksi.
China memiliki rantai pasok elektronik yang sangat besar. Kondisi tersebut membantu produsen seperti DJI mengembangkan dan memproduksi perangkat dalam jumlah besar.
Keunggulan rantai pasok China juga menjadi salah satu faktor penting dalam ekspansi global merek-merek teknologi China.
DJI Menguasai Pasar Drone Konsumen
Kekuatan DJI paling terlihat pada drone kamera untuk konsumen dan profesional.
Produk seperti seri Mavic membuat drone berukuran relatif kecil dapat membawa kamera berkualitas tinggi dan sistem stabilisasi canggih.
Pengguna cukup melipat drone, memasukkannya ke tas, kemudian membawanya ke lokasi pengambilan gambar.
Kemudahan tersebut membuat drone semakin populer di kalangan fotografer, videografer, kreator konten, hingga perusahaan.
Dominasi DJI juga terlihat di Amerika Serikat.
Reuters melaporkan pada Mei 2026 bahwa DJI menjual lebih dari separuh seluruh drone komersial di AS.
Bahkan Pasar Amerika Sulit Lepas dari DJI
Dominasi DJI kemudian menjadi persoalan strategis bagi pemerintah Amerika Serikat.
Washington khawatir ketergantungan terhadap drone buatan China dapat menciptakan risiko keamanan nasional, terutama karena drone dapat digunakan di sekitar fasilitas penting dan membawa kamera serta sensor yang mampu mengumpulkan data.
DJI membantah bahwa produknya menimbulkan risiko keamanan.
Dalam pernyataan yang dikutip Reuters, DJI mengatakan hasil pemeriksaan independen terhadap produknya tidak menemukan bukti transmisi data ke luar Amerika Serikat maupun mekanisme akses jarak jauh yang tidak sah.
Perdebatan tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan perdagangan dan keamanan teknologi.
Amerika Mulai Menekan Drone China
Pada Desember 2025, regulator Amerika Serikat mengambil langkah untuk membatasi persetujuan model drone asing baru dan komponen tertentu.
DJI kemudian menggugat keputusan tersebut.
Pada Maret 2026, Reuters melaporkan bahwa pemerintah AS memberikan pengecualian kepada beberapa model drone asing non-China, tetapi DJI dan Autel tetap menjadi perusahaan China yang berada dalam tekanan regulasi.
Artinya, Washington tidak hanya melihat drone sebagai produk elektronik biasa.
Drone kini dianggap sebagai bagian dari infrastruktur teknologi dan keamanan nasional.
Trump Naikkan Tarif Drone
Tekanan terhadap drone China semakin besar pada 2026.
Pada Agustus, Presiden Donald Trump menandatangani kebijakan tarif baru untuk drone dan komponen tertentu.
Gedung Putih menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat industri drone Amerika dan mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok asing.
Untuk kategori drone tertentu yang dianggap sensitif terhadap keamanan nasional, tarif yang ditetapkan mencapai 100%. Drone yang lebih kecil dikenai tarif 25%, sementara kategori tertentu dari negara-negara sekutu mendapatkan tarif berbeda.
Kebijakan tersebut mulai berlaku pada September 2026.
Langkah ini menunjukkan betapa strategisnya industri drone dalam persaingan teknologi Amerika-China.
Mengapa DJI Sulit Digantikan?
Masalah terbesar bagi pesaing DJI bukan sekadar membuat drone.
Membuat drone yang bisa terbang memang relatif mudah.
Yang sulit adalah membangun ekosistem lengkap.
Produsen harus mengembangkan:
- Kamera berkualitas tinggi
- Sistem stabilisasi
- Sensor penghindar rintangan
- Sistem navigasi
- Baterai dan manajemen daya
- Remote controller
- Aplikasi pengendali
- Perangkat lunak pemrosesan gambar
- Sistem keamanan
- Jaringan distribusi global
- Layanan purnajual
DJI sudah memiliki sebagian besar komponen tersebut dalam satu ekosistem.
Itulah yang membuat pesaing harus mengeluarkan biaya besar untuk mengejar ketertinggalan.
DJI Tidak Benar-Benar Tanpa Pesaing
Meski dominan, DJI tidak sendirian.
Ada perusahaan seperti Autel Robotics dari China, Skydio dari Amerika Serikat, Parrot dari Prancis, serta berbagai produsen drone industri dan militer lainnya.
Di Amerika Serikat, data registrasi drone komersial bahkan menunjukkan adanya sejumlah pemain lain.
Dokumen yang diajukan ke pemerintah AS pada 2025 mencatat DJI memiliki sekitar 90% pangsa registrasi drone Part 107 pada 2024, sementara Autel berada sekitar 3,8%, Skydio 3,1%, dan Parrot 2,4%. Namun, angka ini khusus untuk registrasi tertentu di AS, sehingga tidak boleh dianggap sebagai pangsa pasar global.
Perbedaan angka tersebut memperlihatkan mengapa istilah “monopoli dunia” harus digunakan secara hati-hati.
DJI Mulai Melirik Drone Industri
Pasar masa depan DJI tidak hanya berasal dari konsumen.
Kebutuhan drone untuk pertanian, energi, konstruksi, pemetaan, dan inspeksi infrastruktur terus berkembang.
Reuters menyebut DJI tengah memperluas fokus ke sektor-sektor tersebut.
Hal ini penting karena drone industri biasanya memiliki harga lebih tinggi dibandingkan drone konsumen.
Jika DJI berhasil mempertahankan keunggulannya di sektor profesional, sumber pendapatannya dapat menjadi semakin beragam.
Drone China Sudah Menjadi Rantai Industri
Dominasi China sebenarnya lebih luas daripada DJI.
China memiliki ekosistem drone yang mencakup produsen pesawat tanpa awak, motor, baterai, sensor, kamera, perangkat komunikasi, chip, hingga komponen elektronik.
Le Monde menyebut China mendominasi pasar drone sipil dan telah mengembangkan penggunaan drone secara luas untuk pertanian, survei, pengawasan, dan berbagai aktivitas ekonomi.
Dengan kata lain, kekuatan DJI tidak berdiri sendiri.
Perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan dari ekosistem manufaktur dan teknologi China yang sangat besar.
Ancaman Terbesar Justru Regulasi
Persaingan DJI ke depan bukan hanya mengenai teknologi.
Regulasi dapat menjadi faktor yang sama pentingnya.
Amerika Serikat sudah meningkatkan pembatasan terhadap drone dan komponen asing. Pada Agustus 2026, pemerintah AS bahkan menyatakan ketergantungan pada komponen asing dapat menimbulkan risiko bagi keamanan nasional dan industri pertahanan.
Jika negara lain mengikuti kebijakan serupa, akses DJI ke sejumlah pasar dapat menjadi lebih sulit.
Namun, di sisi lain, pembatasan tersebut juga dapat membuka peluang bagi perusahaan drone dari Amerika, Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan negara lain untuk mengambil pangsa pasar yang sebelumnya dikuasai perusahaan China.
Jadi, Apakah DJI Monopoli Dunia?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
DJI memang merupakan pemain yang sangat dominan dalam industri drone konsumen dan komersial. Berbagai sumber menempatkan pangsa pasarnya pada kisaran yang sangat besar, tergantung definisi produk, wilayah, dan periode pengukuran.
Namun, menyebut DJI sebagai perusahaan yang secara resmi memonopoli seluruh pasar drone dunia tidak tepat.
Ada pesaing dari China, Amerika Serikat, Eropa, dan negara lainnya.
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa DJI menjadi salah satu perusahaan dengan dominasi pasar paling kuat dalam industri drone sipil global.
Kesimpulan
DJI berhasil mengubah drone dari perangkat teknologi yang sebelumnya relatif khusus menjadi produk yang digunakan oleh konsumen, kreator konten, perusahaan, petani, hingga industri profesional.
Keunggulan teknologi, rantai pasok China, skala produksi, dan ekosistem produk menjadi faktor penting di balik dominasi tersebut.
Namun, posisi DJI kini menghadapi tantangan besar.
Amerika Serikat mulai membatasi drone China, meningkatkan tarif, dan mendorong produksi domestik.
Karena itu, pertarungan industri drone ke depan bukan hanya soal siapa yang membuat drone terbaik, tetapi juga siapa yang menguasai teknologi, komponen, data, rantai pasok, dan regulasi.
Untuk saat ini, satu hal cukup jelas: DJI masih menjadi kekuatan raksasa dalam bisnis drone global, tetapi dominasi tersebut mulai menghadapi tekanan geopolitik dan persaingan teknologi.
















































































































































































































