
JAKARTA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah mencatat sekitar 1,43 juta peserta didik harus mengikuti pembelajaran dari rumah karena kualitas udara memburuk.
Data Kemendikdasmen hingga 1 September 2026 pukul 17.00 WIB menunjukkan, terdapat 12.874 satuan pendidikan di 27 wilayah pada enam provinsi yang menjalankan pembelajaran dari rumah dengan moda pengganti.
1,43 Juta Siswa Terdampak
Dari total tersebut, sebanyak 9.683 satuan pendidikan dengan 1.143.421 peserta didik telah terverifikasi. Sementara itu, 3.191 satuan pendidikan dengan 285.712 peserta didik masih dalam proses verifikasi.
Angka ini menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan. Pendidikan anak juga ikut terganggu akibat kualitas udara yang tidak aman.
Kalimantan Barat Paling Banyak Terdampak
Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan jumlah peserta didik terdampak terbesar.
Kemendikdasmen mencatat 8.888 satuan pendidikan dengan 1.001.440 peserta didik di Kalimantan Barat menjalankan pembelajaran dari rumah.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah terdapat 795 satuan pendidikan dengan 141.981 peserta didik yang telah terverifikasi menjalankan pembelajaran jarak jauh.
Palembang Ikut Alihkan Pembelajaran
Dampak kabut asap juga terasa di Sumatera Selatan. Kondisi udara yang memburuk membuat sekolah di Palembang beralih ke pembelajaran jarak jauh.
Menurut laporan Associated Press, lebih dari 250.000 siswa di 1.030 sekolah Palembang terdampak kebijakan tersebut.
Keputusan tersebut diambil untuk mengurangi paparan siswa terhadap polusi udara berbahaya.
Bukan Berarti Siswa Libur
Kemendikdasmen menegaskan bahwa belajar dari rumah bukan berarti libur.
Sekolah tetap wajib memastikan hak belajar siswa terpenuhi. Moda pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan kemampuan masing-masing sekolah.
Dengan demikian, perubahan dari pembelajaran tatap muka ke pembelajaran jarak jauh bersifat sementara dan mengikuti kondisi kualitas udara.
Kualitas Udara Jadi Dasar Keputusan
Pemerintah menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai salah satu dasar menentukan metode pembelajaran.
Pada kategori udara baik, pembelajaran dapat berlangsung normal. Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan di luar ruangan mulai dibatasi.
Jika ISPU masuk kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, pembelajaran tatap muka dihentikan sementara.
Pembelajaran Tidak Selalu Online
Pembelajaran dari rumah tidak harus dilakukan menggunakan internet.
Bagi siswa yang memiliki perangkat dan akses internet, sekolah dapat menggunakan pembelajaran daring.
Namun, bagi siswa yang tidak memiliki akses internet atau listrik, pemerintah menyiapkan alternatif berupa modul cetak, lembar aktivitas, penugasan berbasis rumah, guru kunjung dengan memperhatikan keselamatan, serta radio dan televisi lokal.
Hak Belajar Tetap Harus Terpenuhi
Pemerintah menekankan bahwa kesehatan dan pendidikan anak harus berjalan bersamaan.
Ketika kualitas udara memburuk, keselamatan menjadi prioritas. Namun, proses belajar tetap harus berlangsung dengan metode yang sesuai.
Kebijakan tersebut diterapkan agar anak tidak kehilangan hak memperoleh pendidikan selama kondisi darurat karhutla.
Sekolah Aman Asap Disiapkan
Kemendikdasmen juga memperkuat perlindungan di sekolah melalui penyediaan ruang kelas aman asap.
Selain itu, pemerintah menargetkan sedikitnya satu sekolah rujukan aman asap di setiap kecamatan terdampak.
Langkah ini menjadi salah satu upaya menjaga proses pendidikan tetap berjalan ketika kondisi udara belum memungkinkan pembelajaran normal.
El Niño Perparah Kondisi
Karhutla tahun ini diperburuk oleh kondisi cuaca yang sangat kering.
Laporan Reuters menyebut pola El Niño yang menguat dan musim kering berkepanjangan membuat kebakaran lebih sulit dikendalikan. Kabut asap kemudian menyebar ke berbagai wilayah Indonesia dan negara tetangga.
Situasi tersebut meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat, termasuk anak-anak.
Asap Juga Ganggu Negara Tetangga
Dampak kabut asap tidak berhenti di wilayah Indonesia.
Asap dari kebakaran di Sumatra dan Kalimantan telah menyebar ke beberapa wilayah Asia Tenggara. Malaysia dan sejumlah wilayah negara tetangga juga mengalami penurunan kualitas udara.
Kondisi tersebut membuat karhutla Indonesia kembali menjadi perhatian regional.
Pemerintah Evaluasi Secara Berkala
Pembelajaran dari rumah tidak diberlakukan tanpa batas waktu.
Kemendikdasmen menyebut penyesuaian pembelajaran dilakukan berdasarkan perkembangan kualitas udara di masing-masing wilayah. Ketika kondisi membaik, sekolah dapat kembali menggelar pembelajaran tatap muka.
Pendekatan ini membuat kebijakan pendidikan lebih fleksibel terhadap kondisi bencana.
Orang Tua Diminta Ikut Mengawasi
Pemerintah juga meminta orang tua dan wali murid memantau kualitas udara melalui sumber resmi.
Ketika kualitas udara memburuk, anak dianjurkan membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan perlindungan yang sesuai.
Orang tua juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan anak selama periode kabut asap.
Karhutla Ganggu Pendidikan Nasional
Besarnya jumlah siswa yang belajar dari rumah menunjukkan bahwa dampak karhutla sudah meluas ke sektor pendidikan.
Bukan hanya sekolah yang harus menyesuaikan kegiatan belajar. Guru, orang tua, dan siswa juga harus beradaptasi dengan kondisi darurat.
Pemerintah kini berupaya menjaga agar gangguan tersebut tidak berlangsung lebih lama.
Fakta Penting
- 1,43 juta peserta didik terdampak pembelajaran dari rumah.
- Tersebar di 27 wilayah pada enam provinsi.
- Terdapat 12.874 satuan pendidikan yang menjalankan pembelajaran dari rumah.
- Sebanyak 9.683 sekolah dan 1.143.421 siswa telah terverifikasi.
- Kalimantan Barat mencatat lebih dari 1 juta peserta didik terdampak.
- Palembang mengalihkan pembelajaran bagi lebih dari 250.000 siswa di 1.030 sekolah.
- Keputusan pembelajaran mengacu pada kondisi ISPU.
Kesimpulan
Kabut asap karhutla kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga mengganggu pendidikan. Sebanyak sekitar 1,43 juta siswa di berbagai wilayah Indonesia harus belajar dari rumah karena kualitas udara memburuk.
Pemerintah memastikan kegiatan belajar tetap berjalan dengan berbagai metode. Pembelajaran tatap muka akan kembali dilakukan setelah kondisi udara dinilai aman.
Di tengah situasi tersebut, penanganan karhutla menjadi semakin penting. Semakin cepat kebakaran dikendalikan dan kualitas udara membaik, semakin cepat pula jutaan siswa dapat kembali belajar di sekolah secara normal.

























































































































































































































