
AI Masuk ke Smartphone dan Infrastruktur
Perkembangan AI masuk ke smartphone semakin terlihat pada generasi terbaru chip perangkat mobile. Kecerdasan buatan kini tidak hanya bergantung pada server cloud, tetapi mulai diproses langsung di perangkat melalui prosesor khusus.
Salah satu perkembangan terbaru datang dari MediaTek yang memperkenalkan Dimensity 9600 Pro, chip smartphone yang menggunakan proses fabrikasi 2 nanometer dari TSMC. MediaTek menyebut chip tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan AI yang berjalan langsung di perangkat.
Di sisi lain, perkembangan AI juga mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi yang jauh lebih besar. Pusat data, jaringan, akselerator AI, dan sistem pendingin kini menjadi bagian penting dari ekosistem teknologi tersebut.
Chip 2nm Bawa AI Lebih Dekat ke Pengguna
MediaTek memperkenalkan Dimensity 9600 Pro pada 15 September 2026 sebagai prosesor flagship dengan teknologi fabrikasi 2nm. Chip ini memiliki unit pemrosesan AI atau NPU yang dirancang untuk menjalankan tugas generative AI langsung di smartphone.
Menurut MediaTek, NPU pada Dimensity 9600 Pro memberikan peningkatan 51% dalam pemrosesan LLM prefill dibandingkan generasi sebelumnya. Perusahaan juga mengklaim peningkatan efisiensi dan kemampuan pemrosesan AI pada perangkat.
Dengan kemampuan tersebut, smartphone dapat menjalankan lebih banyak fungsi AI tanpa selalu mengirim seluruh proses ke server eksternal.
Apa Itu On-Device AI?
On-device AI adalah teknologi yang memungkinkan sebagian proses kecerdasan buatan berlangsung langsung di perangkat pengguna.
Pendekatan ini berbeda dengan AI berbasis cloud. Pada sistem cloud, perangkat mengirimkan data ke server untuk diproses sebelum hasilnya dikirim kembali.
Sementara itu, pemrosesan lokal memungkinkan sejumlah tugas AI dilakukan oleh CPU, GPU, dan NPU yang berada di dalam smartphone.
Keuntungannya dapat mencakup respons yang lebih cepat serta pengurangan kebutuhan komunikasi dengan server untuk tugas tertentu. Namun, kemampuan on-device AI tetap bergantung pada kapasitas perangkat, model AI, konsumsi daya, dan jenis pekerjaan yang dilakukan.
AI Masuk ke Smartphone Lewat Chip yang Semakin Canggih
Perubahan ini membuat desain chip smartphone menjadi semakin penting.
Dimensity 9600 Pro menggunakan arsitektur yang menggabungkan CPU, GPU, NPU, dan ISP untuk menangani berbagai beban kerja. MediaTek juga menyatakan chip tersebut mendukung kemampuan AI untuk fotografi, video, konektivitas, serta aplikasi generative AI.
ANTARA melaporkan bahwa prosesor tersebut memiliki konfigurasi CPU 2+3+3 dan membawa peningkatan performa serta efisiensi dibandingkan generasi sebelumnya.
Dengan demikian, persaingan chip smartphone kini tidak hanya berbicara tentang kecepatan CPU atau kemampuan grafis.
Kemampuan menjalankan AI secara efisien menjadi salah satu bagian penting dalam desain perangkat generasi baru.
AI Tidak Berhenti di Smartphone
Menariknya, perkembangan AI masuk ke smartphone berjalan bersamaan dengan ekspansi AI ke infrastruktur data center.
MediaTek juga memperluas bisnisnya ke produk AI untuk pusat data dan chip khusus. Reuters melaporkan bahwa akselerator AI pertama MediaTek yang dirancang untuk salah satu penyedia cloud besar di AS ditargetkan masuk produksi massal pada kuartal IV 2026.
Artinya, perusahaan chip tidak lagi hanya mengejar pasar smartphone.
Mereka juga berusaha mengambil bagian dalam rantai pasok komputasi AI yang lebih luas, mulai dari perangkat pengguna hingga pusat data.
Data Center Menjadi Tulang Punggung AI
Di belakang berbagai aplikasi AI terdapat infrastruktur komputasi dengan kebutuhan besar terhadap chip, jaringan, penyimpanan, listrik, dan sistem pendingin.
NVIDIA saat ini menggelar AI Infra Summit 2026 pada 15–17 September di Santa Clara, California. Agenda tersebut membahas infrastruktur untuk era agentic AI, termasuk komputasi, pergerakan data, AI data center, energi, dan sistem berskala besar.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI bukan hanya perlombaan membuat model yang semakin pintar.
Ada pula perlombaan membangun infrastruktur yang mampu menjalankan model tersebut dalam skala besar.
Kebutuhan Infrastruktur AI Mendorong Chip Baru
Besarnya kebutuhan komputasi AI juga menciptakan ruang bagi perusahaan baru untuk mengembangkan teknologi khusus.
Reuters melaporkan bahwa Delos Data, startup chip yang didirikan oleh mantan karyawan Intel, berhasil mengumpulkan US$100 juta untuk mengembangkan chip dan software yang ditujukan bagi pergerakan data di pusat data AI.
Masalah pergerakan data menjadi semakin penting karena sistem AI modern menggunakan banyak chip yang harus bertukar data dengan cepat.
Karena itu, performa AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan satu prosesor. Kecepatan jaringan dan komunikasi antarchip juga dapat menjadi bagian penting dari kinerja keseluruhan sistem.
Data Center AI Mulai Menghadapi Masalah Energi
Pertumbuhan AI juga membawa tantangan baru berupa kebutuhan energi.
Pada 16 September 2026, Google, NVIDIA, dan startup Emerald AI mengumumkan AI Energy Management Alliance, sebuah koalisi yang beranggotakan perusahaan teknologi dan energi untuk mengembangkan cara agar data center dapat menyesuaikan penggunaan listrik secara lebih fleksibel.
Tujuannya adalah memungkinkan pusat data mengurangi konsumsi listrik ketika jaringan berada pada periode permintaan tinggi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa ekspansi AI membutuhkan lebih dari sekadar GPU dan server.
Energi dan jaringan listrik juga menjadi bagian dari infrastruktur AI.
Smartphone dan Data Center Kini Saling Terhubung
Perkembangan AI masuk ke smartphone dan pertumbuhan data center sebenarnya merupakan dua sisi dari ekosistem yang sama.
Di sisi pengguna, smartphone membutuhkan chip yang mampu menjalankan AI secara cepat dan hemat energi.
Di sisi lain, cloud dan data center tetap diperlukan untuk menjalankan model berukuran besar, menyimpan data, melakukan pelatihan model, serta menangani pekerjaan AI yang terlalu berat untuk perangkat mobile.
Karena itu, masa depan AI kemungkinan akan menggunakan kombinasi on-device AI dan cloud AI, bukan hanya salah satunya.
Apa Dampaknya bagi Pengguna Smartphone?
Bagi pengguna, perkembangan tersebut dapat membuat fungsi AI semakin terintegrasi dengan perangkat.
AI dapat digunakan untuk membantu pengolahan foto, penerjemahan, pencarian informasi, pembuatan konten, pengelolaan dokumen, hingga berbagai fungsi asisten digital.
Namun, kemampuan tersebut juga bergantung pada dukungan perangkat lunak dan aplikasi. Memiliki chip dengan kemampuan AI tinggi tidak otomatis berarti seluruh fitur AI akan tersedia di setiap smartphone.
Produsen perangkat tetap harus mengembangkan software yang memanfaatkan kemampuan hardware tersebut.
Persaingan Teknologi Makin Luas
Perkembangan AI masuk ke smartphone memperlihatkan bahwa persaingan teknologi global semakin melebar.
Perusahaan chip bersaing mengembangkan prosesor dengan kemampuan AI lebih tinggi. Perusahaan cloud membangun data center. Sementara itu, perusahaan energi dan infrastruktur mencari cara agar kebutuhan listrik AI dapat dipenuhi secara lebih efisien.
Dengan demikian, AI telah berkembang menjadi ekosistem teknologi yang mencakup smartphone, chip, cloud, data center, jaringan, dan energi.
Kesimpulan
AI masuk ke smartphone semakin nyata melalui hadirnya chip generasi baru seperti MediaTek Dimensity 9600 Pro berbasis proses 2nm. Chip tersebut membawa kemampuan AI on-device yang memungkinkan lebih banyak pekerjaan kecerdasan buatan diproses langsung pada perangkat.
Pada saat yang sama, kebutuhan AI berskala besar terus mendorong pembangunan infrastruktur data center, jaringan, akselerator, dan sistem energi. Perkembangan di sektor smartphone dan data center tersebut menunjukkan bahwa AI kini bergerak dari sekadar aplikasi menjadi ekosistem teknologi yang semakin luas.

































































































































































































































