PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

QRIS Makin Meledak! Pengguna Mendekati 68 Juta, UMKM Jadi Motor Utama

Jakarta, 17 September 2026 — Penggunaan QRIS di Indonesia terus berkembang pesat. Jumlah pengguna QRIS kini disebut telah berada di kisaran 67 hingga 68 juta pengguna, memperlihatkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Sementara itu, data resmi Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai 65,77 juta pengguna pada Juni 2026. Dalam periode yang sama, QRIS telah digunakan oleh 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan QRIS semakin menjadi bagian penting dari ekosistem pembayaran digital Indonesia.

Pengguna QRIS Terus Bertambah

QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard merupakan standar pembayaran berbasis kode QR yang ditetapkan Bank Indonesia.

Melalui satu kode QR, masyarakat dapat melakukan pembayaran menggunakan berbagai aplikasi dan sumber dana dari penyedia jasa pembayaran yang mendukung QRIS.

Data BI menunjukkan pertumbuhan pengguna masih berlangsung cepat. Hingga Juni 2026, tercatat 65,77 juta pengguna, termasuk 6,23 juta pengguna baru yang bergabung sepanjang Januari-Juni 2026.

Angka tersebut menjadi dasar kuat bahwa adopsi pembayaran digital masih terus meluas.

QRIS Sudah Dipakai 44,86 Juta Merchant

Pertumbuhan QRIS tidak hanya terlihat dari jumlah pengguna.

BI mencatat terdapat 44,86 juta merchant QRIS hingga Juni 2026. Sebanyak 96,68 persen dari jumlah tersebut merupakan UMKM.

Besarnya porsi UMKM menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya digunakan oleh perusahaan besar atau pusat perbelanjaan.

Pedagang makanan, warung, toko kecil, pelaku usaha rumahan, hingga berbagai bisnis mikro dapat menerima pembayaran digital dengan menggunakan satu standar QR.

Menurut BI, QRIS menjadi salah satu pintu masuk UMKM ke ekosistem keuangan digital.

Transaksi QRIS Tembus 12,55 Miliar

Lonjakan pengguna juga diikuti pertumbuhan transaksi.

Sepanjang semester I 2026, volume transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar transaksi. BI mencatat pertumbuhan volume transaksi tersebut mencapai 100,12 persen secara tahunan.

Dari sisi nilai, BI mencatat transaksi QRIS pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp1,12 kuadriliun dalam data yang disampaikan pada Agustus.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa pembayaran berbasis QR semakin sering digunakan dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.

Target BI Capai 70 Juta Pengguna

Bank Indonesia sebelumnya menetapkan target 70 juta pengguna QRIS hingga akhir 2026.

Dengan jumlah resmi 65,77 juta pengguna pada Juni, QRIS sudah berada cukup dekat dengan target tersebut. BI juga menargetkan 47 juta merchant pada akhir 2026.

Karena itu, perkembangan jumlah pengguna pada paruh kedua 2026 menjadi perhatian untuk melihat apakah target tersebut dapat tercapai.

Laporan media pada September menyebut jumlah pengguna sudah berada di kisaran 67-68 juta, tetapi angka tersebut perlu dibedakan dari angka resmi BI yang terakhir dipublikasikan secara rinci, yakni 65,77 juta per Juni.

UMKM Jadi Kekuatan Utama QRIS

Salah satu alasan QRIS berkembang cepat adalah kemudahannya bagi pelaku UMKM.

Merchant cukup bekerja sama dengan salah satu penyedia jasa pembayaran berizin BI. Setelah mendapatkan QRIS, merchant dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi pembayaran yang mendukung standar tersebut.

Dengan demikian, pedagang tidak perlu menyediakan banyak kode QR dari berbagai penyedia pembayaran.

Digitalisasi tersebut juga membantu UMKM masuk ke ekosistem keuangan formal.

QRIS Bukan Sekadar Alat Pembayaran

Bank Indonesia menempatkan QRIS sebagai bagian dari pengembangan ekonomi dan keuangan digital nasional.

BI menjelaskan bahwa QRIS diarahkan sebagai entry point bagi UMKM menuju ekosistem digital, sekaligus mendukung inklusi ekonomi dan keuangan.

Dengan semakin banyak transaksi yang dilakukan secara digital, pelaku usaha juga memiliki peluang untuk memperluas akses terhadap berbagai layanan keuangan digital lainnya.

Karena itu, pertumbuhan QRIS tidak hanya berkaitan dengan pembayaran, tetapi juga dengan perkembangan ekosistem ekonomi digital.

QRIS Terus Didorong untuk Transaksi yang Lebih Murah

Bank Indonesia juga mengambil kebijakan untuk mendorong penggunaan QRIS.

Mulai 1 Oktober 2026, kebijakan Merchant Discount Rate atau MDR 0 persen diperluas. Untuk merchant usaha mikro, MDR 0 persen berlaku bagi transaksi hingga Rp500.000. Sementara itu, MDR 0 persen juga diperluas kepada seluruh kategori merchant untuk transaksi hingga Rp100.000.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan biaya transaksi bagi merchant pada kategori yang ditetapkan.

Dengan biaya yang lebih efisien, penggunaan pembayaran digital diharapkan semakin mudah diterima oleh pelaku usaha.

Keamanan QRIS Jadi Perhatian

Pertumbuhan pengguna juga membawa tantangan baru, terutama terkait keamanan transaksi digital.

Semakin banyak masyarakat menggunakan pembayaran QR, semakin penting pula edukasi mengenai penipuan digital, perlindungan akun, serta kewaspadaan terhadap pihak yang mengaku sebagai penyedia layanan pembayaran.

BI sendiri menekankan bahwa sistem pembayaran perlu terus dikembangkan agar semakin inklusif, efisien, aman, dan terintegrasi.

Karena itu, pertumbuhan pengguna QRIS perlu berjalan bersamaan dengan peningkatan literasi dan keamanan digital.

Pemerintah Integrasikan QRIS dengan Inklusi Keuangan

QRIS juga mulai dikaitkan dengan agenda pemerintah untuk memperluas kepemilikan rekening dan akses layanan keuangan.

Pada September 2026, pemerintah menyampaikan rencana memperluas kepemilikan rekening masyarakat melalui BRI dan Bank Syariah Indonesia. Sistem pembayaran digital melalui QRIS akan menjadi salah satu bagian dari integrasi tersebut.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan QRIS disiapkan sebagai gateway system dalam upaya meningkatkan inklusi keuangan.

“Yang kedua gateway system-nya jadi menggunakan QRIS.”

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga setelah rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto pada 7 September 2026.

QRIS Menuju Ekonomi Digital yang Lebih Luas

Perkembangan QRIS memperlihatkan perubahan kebiasaan masyarakat dalam melakukan pembayaran.

Dari data BI, pertumbuhan pengguna, merchant, dan volume transaksi berlangsung secara bersamaan. UMKM juga menjadi kelompok terbesar di sisi merchant.

Ke depan, tantangan QRIS bukan hanya meningkatkan jumlah pengguna. Sistem pembayaran digital juga harus memastikan keamanan, keandalan infrastruktur, perlindungan konsumen, serta akses yang merata.

Dengan basis pengguna yang terus bertambah, QRIS menjadi salah satu infrastruktur penting dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia.

Kesimpulan

QRIS semakin mendekati 68 juta pengguna pada 2026, sementara data resmi Bank Indonesia mencatat 65,77 juta pengguna hingga Juni 2026. QRIS juga telah menjangkau 44,86 juta merchant, dengan mayoritas besar berasal dari UMKM.

Pada semester I 2026, volume transaksi QRIS bahkan mencapai 12,55 miliar transaksi, menunjukkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital di Indonesia.

Pertumbuhan tersebut membuat QRIS semakin penting bagi UMKM dan ekonomi digital. Namun, peningkatan penggunaan juga perlu diikuti dengan penguatan keamanan transaksi, literasi digital, dan perlindungan konsumen.