
Jakarta – Indonesia terus memperkuat keamanan digital berbasis kecerdasan buatan (AI) seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, bisnis, dan pemerintah di ruang digital. Pemerintah menilai teknologi AI dapat membantu mendeteksi dan merespons ancaman siber, tetapi penerapannya tetap membutuhkan regulasi, talenta digital, dan kolaborasi lintas sektor.
Langkah tersebut menjadi perhatian pemerintah setelah perkembangan AI ikut mengubah pola ancaman siber. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai kejahatan seperti deepfake dan rekayasa sosial berbasis AI membuat penipuan digital semakin sulit dikenali.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan pentingnya menerapkan konsep security by design, yaitu memasukkan aspek keamanan sejak teknologi atau platform digital dirancang.
“Kita perlu bergeser ke desain atau proses bisnis yang mengutamakan keamanan. Ini yang kita sebut sebagai security by design,” ujar Nezar dalam acara Kaspersky’s Academic Partners Summit pada 19 Agustus 2026.
AI Digunakan untuk Memperkuat Pertahanan Siber
Pemanfaatan AI dalam keamanan digital tidak hanya berkaitan dengan mendeteksi serangan. Teknologi tersebut juga dapat membantu menganalisis data dalam jumlah besar, mengenali pola mencurigakan, serta mempercepat respons terhadap potensi ancaman.
Namun, AI juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Karena itu, kemampuan pertahanan digital perlu dikembangkan sejalan dengan kemampuan manusia dalam memahami teknologi tersebut.
Laporan mengenai keterampilan keamanan siber di Indonesia menunjukkan tantangan tersebut semakin besar. Survei Fortinet yang diberitakan pada Agustus 2026 mencatat 92 persen organisasi Indonesia yang disurvei mengalami setidaknya satu pelanggaran keamanan siber dalam 12 bulan sebelumnya.
Kondisi itu menunjukkan bahwa penggunaan teknologi keamanan perlu disertai peningkatan kemampuan tenaga profesional.
Pemerintah Dorong AI Lokal untuk Keamanan Siber
Pemerintah juga mendorong pengembangan solusi AI lokal untuk keamanan siber.
Pada Juli 2026, Komdigi menyatakan dukungannya terhadap pengembangan teknologi AI dalam negeri yang dapat digunakan untuk membantu kebutuhan keamanan siber nasional. Salah satu contohnya adalah pengembangan platform AI-assisted automated penetration testing oleh ITSEC Asia.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menyebut perkembangan AI membuka peluang besar bagi ekonomi digital, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam keamanan siber.
“Perkembangan kecerdasan artifisial membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, sekaligus membawa tantangan baru yang perlu diantisipasi, termasuk dalam aspek keamanan siber,” kata Edwin.
Pengembangan teknologi keamanan siber berbasis AI di dalam negeri dinilai dapat membantu Indonesia membangun kemampuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan ekosistem digital nasional.
Keamanan Digital Membutuhkan Kolaborasi
Penguatan keamanan digital tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Komdigi mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas untuk membangun sistem keamanan yang lebih kuat.
Nezar Patria sebelumnya menyebut terdapat tiga aspek penting untuk membangun AI-driven security di Indonesia, yaitu regulasi yang adaptif, pengembangan teknologi, serta penguatan talenta digital.
Pendekatan tersebut penting karena perkembangan AI berlangsung cepat. Regulasi dan kemampuan sumber daya manusia perlu mengikuti perubahan teknologi agar pemanfaatan AI tetap aman dan bertanggung jawab.
Keamanan Siber Jadi Perhatian Pemerintah
Pada September 2026, pemerintah kembali memperkuat koordinasi pertahanan digital nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melakukan koordinasi untuk memperkuat keamanan ekosistem digital Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan keamanan ekosistem digital merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan kemampuan untuk mendeteksi, mencegah, serta merespons ancaman.
“Kita ingin membangun ekosistem digital yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga aman, tangguh, dan terlindungi,” kata Meutya.
Koordinasi tersebut mencakup pertukaran informasi antarlembaga dan penanganan berbagai ancaman di ruang siber.
Talenta Digital Menjadi Kunci
Perkembangan keamanan digital berbasis AI juga membutuhkan tenaga profesional yang memahami teknologi sekaligus risiko keamanan.
Fortinet mencatat sebagian besar organisasi yang disurvei melihat kekurangan tenaga profesional dengan keahlian khusus AI sebagai tantangan. Karena itu, pelatihan, sertifikasi, mentoring, dan pengembangan talenta keamanan siber menjadi bagian penting dari strategi menghadapi ancaman digital.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI di Indonesia, penguatan keamanan digital akan menjadi proses berkelanjutan. Teknologi dapat membantu mendeteksi ancaman dengan lebih cepat, tetapi keputusan, pengawasan, tata kelola, dan pengelolaan risiko tetap membutuhkan peran manusia.
Kesimpulannya, Indonesia kini mengembangkan pendekatan keamanan digital yang menggabungkan AI, regulasi, talenta, dan kolaborasi lintas sektor. Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi digital sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem digital nasional.

































































































































































































































































