
Konsumsi Listrik dan Air AI Jadi Perhatian
Perkembangan AI atau kecerdasan buatan tidak hanya membawa perubahan pada sektor teknologi. Infrastruktur yang menjalankan AI juga membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyoroti kebutuhan energi yang semakin besar untuk mendukung pusat data berbasis AI.
Menurut Kemdiktisaintek, kebutuhan listrik data center AI diproyeksikan meningkat dari sekitar 155 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 465 TWh pada 2030.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan AI akan berjalan beriringan dengan kebutuhan infrastruktur komputasi dan energi.
Mengapa AI Membutuhkan Banyak Listrik?
AI membutuhkan kemampuan komputasi yang sangat besar untuk menjalankan model, memproses data, serta menghasilkan berbagai layanan digital.
Komputasi tersebut berlangsung di pusat data. Semakin besar model AI dan semakin banyak pengguna, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapasitas komputasi.
Stella menjelaskan bahwa AI tidak dapat dipisahkan dari data center karena teknologi tersebut membutuhkan algoritma, data, dan computing power.
Pada September 2026, Stella juga menjelaskan bahwa konsumsi listrik data center AI saat ini berada di kisaran 155 TWh dan diproyeksikan mencapai 465 TWh pada 2030.
Air Dibutuhkan untuk Mendinginkan Data Center
Selain listrik, konsumsi air AI juga menjadi perhatian.
Komputer dan chip yang bekerja dalam pusat data menghasilkan panas. Karena itu, fasilitas data center membutuhkan sistem pendinginan agar perangkat dapat beroperasi secara stabil.
ANTARA menjelaskan bahwa sistem pendinginan data center dapat menggunakan udara, air, cairan khusus, hingga teknologi direct-to-chip cooling yang mengalirkan cairan langsung ke bagian perangkat yang menghasilkan panas.
Dalam sistem pendingin berbasis air, sebagian air dapat menguap ketika panas dilepaskan. Sebagian sistem juga menghasilkan air buangan yang perlu dikelola sebelum dilepas kembali ke lingkungan.
Data Center Bisa Membutuhkan Air dalam Jumlah Besar
Kebutuhan air sangat bergantung pada teknologi pendinginan yang digunakan.
The Jakarta Post, mengutip Indonesian Data Center Provider Organization (IDPRO), melaporkan bahwa data center hyperscale dengan sistem pendinginan evaporatif dapat menggunakan sekitar 1 juta hingga 5 juta liter air per hari sebagai acuan global.
Namun, konsumsi tersebut tidak sama untuk semua data center.
Teknologi pendinginan berbasis udara dapat mengurangi ketergantungan terhadap air. Karena itu, pemilihan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam pembangunan pusat data baru.
Indonesia Melihat Peluang dari Energi Terbarukan
Besarnya kebutuhan listrik AI juga membuka peluang bagi Indonesia.
Kemdiktisaintek menilai Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan data center berbasis AI.
Stella menyebut Indonesia memiliki peluang menjadi pemain dalam ekonomi AI apabila sumber daya energi terbarukan dikelola dengan tepat.
Potensi tersebut mencakup pengembangan energi surya, panas bumi, angin, dan sumber energi terbarukan lainnya.
Indonesia Punya Modal untuk Industri Data Center
Menurut Kemdiktisaintek, Indonesia memiliki sejumlah modal dasar untuk mengembangkan industri data center, termasuk lahan, sumber air, energi, dan pasar digital.
Namun, pembangunan infrastruktur saja belum cukup.
Indonesia juga membutuhkan talenta yang mampu mengoperasikan, mengembangkan, dan menguasai teknologi data center serta AI.
“Pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu faktor penting,” ujar Stella.
Efisiensi Air Jadi Tantangan Baru
Pertumbuhan data center membuat efisiensi penggunaan air semakin penting, khususnya di wilayah yang memiliki tekanan terhadap sumber daya air.
Penggunaan teknologi pendinginan yang lebih efisien dapat menjadi salah satu cara mengurangi kebutuhan air.
Pada saat yang sama, pengelolaan air buangan dari sistem pendinginan juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan.
AI Tidak Hanya Soal Chip dan Software
Perkembangan AI selama ini banyak dibicarakan dari sisi model, chip, aplikasi, dan kemampuan perangkat lunak.
Namun, pertumbuhan teknologi tersebut juga membutuhkan infrastruktur fisik.
Listrik, air, data center, jaringan, chip, dan talenta merupakan bagian yang saling berkaitan dalam ekosistem AI.
Karena itu, pembangunan ekosistem AI Indonesia membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan aplikasi, tetapi juga pada kesiapan infrastrukturnya.
Energi Bersih Jadi Bagian Penting Masa Depan AI
Kebutuhan energi yang semakin besar membuat sumber listrik menjadi faktor strategis bagi perkembangan AI.
Kemdiktisaintek menyatakan Indonesia dapat memanfaatkan potensi energi terbarukan untuk mendukung pengembangan data center dan computing power nasional.
Dengan meningkatnya kebutuhan komputasi, ketersediaan energi yang cukup dan berkelanjutan akan menjadi salah satu bagian penting dari pembangunan infrastruktur AI.
Indonesia Bersiap Menghadapi Ledakan Data Center
Pemerintah kini melihat perkembangan AI sebagai peluang sekaligus tantangan.
Di satu sisi, data center dapat mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan menarik investasi teknologi. Di sisi lain, pembangunan fasilitas tersebut membutuhkan energi dan sumber daya air yang harus dikelola secara efisien.
Karena itu, konsumsi listrik dan air AI menjadi isu yang semakin relevan bagi Indonesia.
Pertumbuhan AI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi juga oleh kemampuan menyediakan energi, air, infrastruktur, dan talenta secara berkelanjutan.











































































































































































































































































