PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Ledakan AI Makin Besar, Risiko Finansial Baru Mulai Mengintai Pasar Global

Ledakan AI Tak Lagi Sekadar Soal Teknologi

Ledakan kecerdasan buatan atau AI kini mulai memasuki wilayah yang lebih luas: pasar keuangan dan stabilitas ekonomi global.

Investasi besar-besaran untuk membangun data center, membeli chip, memperluas jaringan komputasi, hingga mengembangkan model AI membuat kebutuhan modal melonjak.

Di balik pertumbuhan tersebut, muncul perhatian terhadap risiko finansial AI, terutama ketika ekspansi industri semakin banyak dibiayai melalui utang dan struktur pembiayaan yang kompleks.

Bank for International Settlements (BIS) bahkan telah memperingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi menciptakan risiko baru bagi stabilitas keuangan.

Investasi AI Tembus Angka Fantastis

Besarnya kebutuhan modal menjadi salah satu alasan utama risiko mulai diperhatikan.

BIS memperkirakan lima perusahaan teknologi terbesar dunia akan menginvestasikan lebih dari US$1 triliun untuk AI sepanjang 2025 dan 2026.

Sementara itu, perkiraan industri menunjukkan investasi AI global berpotensi meningkat dari sekitar US$500 miliar saat ini menjadi hingga US$4 triliun pada 2030.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar skala pembangunan ekosistem AI.

Namun, investasi sebesar itu juga membutuhkan pembiayaan yang besar.

Utang Mulai Menjadi Bagian Penting Ekspansi AI

Salah satu perhatian utama regulator adalah meningkatnya penggunaan utang untuk membiayai infrastruktur AI.

Bank of England dalam laporan stabilitas keuangannya menyebut perusahaan AI semakin banyak menggunakan pembiayaan eksternal, terutama utang, untuk membangun infrastruktur.

Menurut bank sentral Inggris tersebut, porsi pembiayaan kredit swasta untuk investasi AI meningkat dari 9% pada 2024 menjadi 34% pada 2025, berdasarkan estimasi OECD.

Pertumbuhan utang tersebut belum otomatis berarti krisis.

Namun, semakin besar pembiayaan berbasis utang, semakin penting kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membayar kewajibannya.

Struktur Pembiayaan AI Makin Rumit

Persoalan lainnya adalah bentuk pembiayaan yang digunakan untuk membangun infrastruktur AI.

Bank of England mencatat bahwa pembiayaan AI semakin melibatkan sekuritisasi, special purpose vehicles atau SPV, aset data center, serta berbagai bentuk pembiayaan khusus.

Struktur tersebut dapat membuat risiko lebih sulit dilacak karena kewajiban tidak selalu berada langsung pada neraca perusahaan teknologi.

Reuters juga melaporkan pada September 2026 bahwa perusahaan teknologi besar semakin agresif menggunakan utang untuk mendukung ekspansi AI.

Kondisi ini membuat hubungan antara perusahaan teknologi, bank, investor, perusahaan data center, dan penyedia chip menjadi semakin erat.

Ada Risiko Jika Investasi AI Tak Sesuai Harapan

Pertanyaan terbesar bukan apakah AI akan berkembang.

Pertanyaannya adalah apakah pendapatan dan produktivitas yang dihasilkan AI nantinya mampu mengimbangi investasi yang sangat besar tersebut.

BIS memperingatkan bahwa lonjakan investasi AI dapat menghadapi risiko overinvestment apabila permintaan, produktivitas, atau keuntungan yang diharapkan tidak terealisasi sesuai perkiraan.

Jika kondisi tersebut terjadi, tekanan tidak hanya berpotensi dirasakan perusahaan teknologi.

Lembaga pembiayaan, investor, operator data center, perusahaan utilitas, hingga sektor konstruksi yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur AI juga dapat terkena dampaknya.

Data Center Jadi Titik Penting

Data center merupakan salah satu pusat investasi terbesar dalam ledakan AI.

Perusahaan teknologi membutuhkan fasilitas komputasi dalam jumlah besar untuk menjalankan model AI dan memenuhi permintaan layanan cloud.

Reuters Breakingviews memperkirakan sekitar US$500 miliar utang data center telah diterbitkan pada 2026 hingga laporan September. Kondisi tersebut menunjukkan betapa cepatnya pembiayaan mengalir ke pembangunan infrastruktur AI.

Masalahnya, teknologi AI berkembang sangat cepat.

Perubahan generasi chip dapat membuat sebagian infrastruktur menjadi kurang menarik atau membutuhkan investasi tambahan untuk diperbarui.

Bank of England juga menyoroti risiko tersebut karena data center dan chip AI dapat menghadapi perubahan nilai ekonomi apabila teknologi berkembang lebih cepat dari perkiraan.

Contoh Nyata: Utang Data Center Mulai Diperhatikan

Pada September 2026, Reuters melaporkan sekitar US$18 miliar pinjaman terkait data center yang disewa Oracle di New Mexico berada di bawah tekanan.

Pinjaman tersebut dilaporkan diperdagangkan sekitar 89 hingga 91 sen per dolar melalui sejumlah bank sindikasi, menurut laporan Financial Times yang dikutip Reuters.

Kasus tersebut tidak berarti seluruh pembiayaan AI berada dalam masalah.

Namun, perkembangan itu menjadi contoh bagaimana pembiayaan infrastruktur AI mulai menjadi perhatian di pasar kredit.

Bank Juga Ikut Masuk ke Bisnis AI

Ekspansi AI membuat perbankan dan pasar kredit semakin terhubung dengan industri teknologi.

Reuters melaporkan pada 16 September bahwa sekelompok 10 bank menyediakan pinjaman US$22 miliar untuk mendukung usaha cloud baru yang dibangun Blackstone dan Alphabet.

Dana tersebut digunakan untuk membantu pembelian chip dan pengembangan kapasitas data center.

Semakin banyak transaksi seperti ini terjadi, semakin besar pula keterkaitan antara perkembangan AI dan kondisi pasar keuangan.

BIS Soroti Risiko Utang dan Leverage

Pada September 2026, BIS kembali memperingatkan mengenai meningkatnya utang dan leverage dalam ekosistem AI.

Frank Smets dari BIS mengatakan perhatian utama berada pada peningkatan utang dan leverage yang cepat, termasuk struktur pembiayaan yang dianggap lebih sulit dilihat secara transparan.

Artinya, risiko finansial AI tidak hanya berasal dari harga saham perusahaan teknologi.

Risikonya juga dapat muncul melalui utang, kredit swasta, data center, chip, kontrak jangka panjang, serta hubungan pembiayaan antarperusahaan.

Apakah Ledakan AI Bisa Menjadi Gelembung?

Istilah “gelembung AI” banyak digunakan dalam diskusi pasar, tetapi belum tepat menyimpulkan bahwa seluruh industri AI merupakan gelembung.

Yang dapat dipastikan adalah valuasi, investasi, dan pembiayaan AI telah tumbuh sangat cepat, sementara regulator mulai mengamati apakah pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan.

BIS pada September menyebut momentum saham terkait AI menunjukkan tanda-tanda kerentanan dan investor mulai lebih berhati-hati terhadap profitabilitas investasi AI di masa depan.

Karena itu, perkembangan AI perlu dilihat dari dua sisi: potensi produktivitas dan pertumbuhan di satu sisi, serta risiko pembiayaan dan stabilitas keuangan di sisi lain.

AI Tetap Punya Potensi Besar bagi Ekonomi

Peringatan mengenai risiko finansial AI bukan berarti AI tidak memberikan manfaat ekonomi.

IMF pada September 2026 memperkirakan AI dapat meningkatkan produktivitas Eropa sekitar 1% dalam lima tahun.

Namun, IMF juga memperingatkan bahwa AI dapat meningkatkan ketimpangan, memberi tekanan pada jaringan listrik, dan meningkatkan ketergantungan terhadap teknologi asing jika tidak diimbangi kebijakan yang tepat.

Dengan kata lain, manfaat AI sangat bergantung pada bagaimana investasi, regulasi, tenaga kerja, energi, dan infrastruktur dikembangkan.