
PONTIANAK – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan memicu kabut asap berbahaya serta lonjakan gangguan pernapasan. Musim kebakaran Indonesia tahun 2026 tercatat sebagai yang paling intens dalam 11 tahun terakhir.
Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Kabut asap menyelimuti Pontianak, Kubu Raya, dan sejumlah daerah lain hingga menurunkan jarak pandang serta mengganggu kegiatan masyarakat.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 12,5 juta orang terpapar kabut asap di tujuh provinsi Kalimantan dan Sumatra. Kasus gangguan pernapasan juga meningkat lebih dari dua kali lipat pada awal September.
Kebakaran Kalimantan Diperparah El Niño
Kondisi El Niño ekstrem membawa suhu tinggi dan kekeringan panjang ke berbagai wilayah Indonesia. Keadaan tersebut membuat tumbuhan dan lahan gambut menjadi sangat kering.
Namun, El Niño bukan penyebab langsung kebakaran. Fenomena iklim itu menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api setelah kebakaran mulai terjadi.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebelumnya menjelaskan bahwa panas dan kekeringan menciptakan kondisi yang memungkinkan api menyebar lebih cepat.
Sebagian kebakaran juga berkaitan dengan pembukaan lahan menggunakan api. Metode tersebut dapat menimbulkan bencana ketika api merambat ke hutan dan lahan gambut yang mengering.
Tanah gambut menjadi tantangan besar bagi petugas. Api dapat menyebar di bawah permukaan tanah dan tetap menyala meskipun kebakaran di atasnya terlihat telah padam.
Kondisi itu membuat operasi pemadaman membutuhkan banyak air dan waktu panjang. Hujan lebat secara konsisten sering kali diperlukan untuk menghentikan api gambut sepenuhnya.
Jutaan Warga Terpapar Kabut Asap
Data pemerintah memperlihatkan dampak kesehatan yang semakin serius. Lebih dari 12,5 juta penduduk terpapar kabut asap di tujuh provinsi.
Jumlah warga yang mengalami gangguan pernapasan terkait kebakaran meningkat dari 50.891 kasus pada 1 September menjadi 113.336 kasus pada 9 September 2026.
Artinya, jumlah kasus bertambah lebih dari dua kali lipat hanya dalam delapan hari. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga dengan penyakit paru-paru termasuk kelompok paling rentan.
Puskesmas di Pontianak juga mencatat kenaikan jumlah pasien. Dalam 11 hari pertama September, salah satu fasilitas kesehatan merawat 187 warga yang mengalami kesulitan bernapas.
Sebagai perbandingan, puskesmas tersebut menangani 422 kasus sepanjang Agustus. Kunjungan harian saat kabut asap memburuk dapat mencapai 80 hingga 120 pasien.
Kepala puskesmas di Pontianak, Popong Solihat, mengatakan jumlah kunjungan akibat gangguan pernapasan terus bertambah.
“Kunjungan kasus gangguan pernapasan meningkat akibat kebakaran,” kata Popong Solihat.
Warga Mengeluhkan Sesak Napas
Kabut asap mengandung partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan dalam jangka pendek dapat menyebabkan batuk, iritasi mata, sakit tenggorokan, dan sesak napas.
Suriana, warga Kubu Raya berusia 54 tahun, mengatakan kondisinya memburuk ketika kualitas udara menurun.
“Saya sering sesak napas ketika terpapar asap,” ujar Suriana kepada Reuters.
Menurutnya, kabut asap terasa semakin tebal pada pagi dan malam hari. Ia menjadi salah satu warga yang menerima bantuan tabung oksigen dari relawan.
Mimi Marlina, seorang ibu di Kalimantan Barat, juga mengkhawatirkan kesehatan kedua anaknya. Mereka mengalami batuk, sakit tenggorokan, dan demam selama kabut asap berlangsung.
Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel. Namun, masyarakat tetap dianjurkan mengurangi kegiatan di luar rumah ketika kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat atau berbahaya.
Relawan Bentuk Program Rumah Oksigen
Sejumlah relawan di Kalimantan Barat menjalankan program bernama Rumah Oksigen. Mereka membagikan tabung oksigen kepada warga dan petugas pemadam yang mengalami gangguan pernapasan.
Relawan juga mendatangi rumah-rumah untuk membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh oksigen. Program tersebut menjadi penting ketika fasilitas kesehatan mulai menerima lebih banyak pasien.
Meski membantu dalam kondisi darurat, pemberian oksigen bukan solusi untuk seluruh gangguan akibat kabut asap. Warga dengan gejala berat tetap membutuhkan pemeriksaan tenaga medis.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan masker, obat, ruang udara bersih, dan layanan kesehatan. Sekolah dapat mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh apabila kualitas udara mencapai tingkat berbahaya.
Selain itu, informasi mengenai kualitas udara perlu diperbarui secara rutin. Masyarakat membutuhkan data tersebut untuk menentukan apakah aman melakukan aktivitas di luar ruangan.
Luas Kebakaran Terus Bertambah
Data pemerintah menunjukkan sekitar 202 ribu hektare lahan terbakar dari Januari hingga Juli 2026. Luas tersebut hampir tiga kali ukuran Singapura.
Namun, angka itu belum memasukkan seluruh kebakaran besar pada Agustus. Yayasan Konservasi Alam Nusantara atau YKAN memperkirakan sekitar 600 ribu hektare tambahan terdampak pada bulan tersebut.
Jika kedua perkiraan digabungkan, area terdampak hingga Agustus dapat mencapai sekitar 800 ribu hektare. Namun, angka Agustus berasal dari estimasi organisasi lingkungan dan masih dapat berubah setelah verifikasi.
Laporan lain pada akhir September menyebut area terbakar telah mendekati 895 ribu hektare. Perbedaan angka dapat terjadi karena waktu pengumpulan data, metode pemetaan, dan keberadaan api gambut bawah tanah.
Karena itu, angka luas kebakaran sebaiknya dipahami sebagai data sementara. Pemerintah masih perlu melakukan pemetaan dan pemeriksaan lapangan.
Emisi Kebakaran Indonesia Melonjak
Kebakaran juga menghasilkan emisi dalam jumlah besar. Data Copernicus menunjukkan emisi kebakaran Indonesia mencapai 19,7 juta metrik ton dalam satu pekan hingga 7 September.
Jumlah tersebut mewakili lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode yang sama. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai penyumbang emisi kebakaran terbesar dunia pada pekan tersebut.
Sebagian besar emisi berasal dari kebakaran di Kalimantan dan Sumatra bagian timur. Api pada lahan gambut melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun.
Emisi sebenarnya juga dapat lebih besar dari pengamatan satelit. Sebab, sebagian api gambut membara di bawah tanah dan sulit dideteksi.
Kabut asap dari kebakaran turut bergerak melintasi batas negara. Kualitas udara di Malaysia dan Singapura sempat mencapai tingkat tidak sehat akibat asap regional.
Pemerintah Kerahkan Puluhan Pesawat
Pemerintah mengerahkan lebih dari 50 pesawat dan helikopter untuk menangani kebakaran. Armada tersebut digunakan untuk pengeboman air dan operasi modifikasi cuaca.
Jepang juga mengirimkan bantuan berupa helikopter serta personel pemadam. Malaysia menawarkan dukungan untuk membantu Indonesia mengendalikan kebakaran.
Namun, operasi udara menghadapi tantangan besar. Asap tebal dapat mengurangi jarak pandang, sedangkan kebakaran gambut membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak.
Petugas darat tetap diperlukan untuk memadamkan titik api dan membasahi lapisan gambut. Mereka juga harus memantau lokasi yang berpotensi kembali terbakar.
Pemerintah memperkirakan kebakaran dapat berlangsung hingga awal November apabila musim hujan terlambat datang.
Penindakan Pelaku Karhutla Diperketat
Presiden Prabowo Subianto meminta penindakan lebih keras terhadap pelaku pembakaran lahan. Ia menyebut pembakaran yang menimbulkan kerusakan besar sebagai bentuk “terorisme ekologis”.
Kepolisian membuka 219 penyelidikan pidana dan menetapkan 162 orang sebagai tersangka. Aparat juga memeriksa dugaan keterlibatan 95 perusahaan.
Pemerintah daerah diminta mengevaluasi pengecualian pembukaan lahan dengan metode pembakaran. Polisi juga diperintahkan menyelidiki perusahaan yang diduga melanggar aturan.
Namun, proses hukum harus disertai bukti yang kuat. Penetapan tanggung jawab perlu membedakan kebakaran akibat kelalaian, tindakan sengaja, dan api yang menyebar dari lokasi lain.
Pencegahan Harus Menjadi Prioritas
Pemadaman tidak cukup untuk menyelesaikan masalah karhutla. Pemerintah perlu memperkuat pencegahan sebelum musim kemarau berikutnya.
Restorasi gambut dapat membantu menjaga kelembapan tanah. Penutupan kanal ilegal juga diperlukan agar air tidak cepat keluar dari kawasan gambut.
Perusahaan perkebunan wajib menjaga wilayah konsesinya dari kebakaran. Sementara itu, petani kecil membutuhkan pilihan pembukaan lahan tanpa pembakaran yang terjangkau.
Pemantauan titik panas harus diikuti pemeriksaan lapangan secepat mungkin. Api yang terdeteksi pada tahap awal lebih mudah dikendalikan daripada kebakaran yang telah menyebar luas.
Kebakaran Kalimantan menjadi ancaman kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Tanpa penegakan hukum serta pencegahan yang konsisten, bencana kabut asap dapat terus berulang setiap musim kering ekstrem.































































































































































































































































































