PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Banjir Utang Infrastruktur AI Membuat Investor Semakin Selektif

NEW YORK – Investor obligasi mulai berhati-hati menghadapi lonjakan utang infrastruktur AI yang diterbitkan perusahaan teknologi besar. Kebutuhan dana untuk membangun pusat data, membeli chip, dan memperluas layanan cloud diperkirakan menghasilkan gelombang penerbitan obligasi baru.

Penerbitan utang kotor perusahaan hyperscaler diproyeksikan mencapai rekor US$420 miliar pada 2027. Nilai tersebut meningkat sekitar 60 persen dibandingkan perkiraan penerbitan sepanjang 2026, menurut data Goldman Sachs.

Investor tidak secara langsung mengkhawatirkan kemampuan perusahaan teknologi besar membayar utangnya. Perhatian mereka lebih tertuju pada besarnya pasokan obligasi, konsentrasi portofolio, dan belum jelasnya tingkat keuntungan dari investasi AI.

Utang Infrastruktur AI Diperkirakan Mencapai Rekor

Perusahaan teknologi mengeluarkan belanja modal dalam jumlah besar untuk mendukung pertumbuhan AI. Uang tersebut digunakan untuk membangun pusat data, jaringan listrik, sistem pendingin, chip akselerator, serta koneksi antarpusat komputasi.

Sebagian investasi dapat dibiayai menggunakan arus kas perusahaan. Namun, kebutuhan modal yang sangat besar mendorong perusahaan mencari tambahan dana melalui penerbitan obligasi.

Perusahaan hyperscaler adalah penyedia komputasi cloud berskala sangat besar. Kelompok ini mencakup perusahaan teknologi yang mengoperasikan jaringan pusat data di berbagai negara.

Penerbitan obligasi memberikan dana jangka panjang tanpa mengurangi kepemilikan pemegang saham. Sebagai gantinya, perusahaan harus membayar bunga dan mengembalikan pokok utang saat jatuh tempo.

Besarnya kebutuhan investasi AI membuat perusahaan diperkirakan berulang kali memasuki pasar obligasi. Kondisi tersebut menyebabkan investor memperhitungkan kemungkinan pasokan baru yang terus muncul.

Investor Tidak Langsung Mencemaskan Gagal Bayar

Sebagian besar perusahaan teknologi besar memiliki peringkat kredit tinggi, neraca kuat, dan arus kas dalam jumlah besar. Oleh karena itu, sikap berhati-hati investor bukan terutama disebabkan kekhawatiran mengenai gagal bayar.

Masalah utamanya adalah kemampuan pasar menyerap obligasi dalam jumlah sangat besar. Ketika pasokan meningkat lebih cepat daripada permintaan, penerbit harus menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Kepala pendapatan tetap Brown Advisory di London, Colby Stilson, mengatakan perusahaannya semakin selektif membeli obligasi perusahaan hyperscaler.

“Kami sangat selektif dalam menentukan investasi pada utang hyperscaler,” ujar Stilson.

Menurutnya, keputusan investasi membutuhkan keyakinan tinggi karena pasokan obligasi akan bertambah. Investor juga belum memiliki gambaran lengkap mengenai keuntungan yang akan diperoleh dari belanja modal AI.

Spread Obligasi AI Semakin Lebar

Investor menggunakan spread untuk mengukur tambahan imbal hasil suatu obligasi dibandingkan surat utang pemerintah yang dianggap lebih aman.

Data Goldman Sachs menunjukkan spread penerbit obligasi terkait AI berada di sekitar 115 basis poin. Sebagai perbandingan, pasar obligasi perusahaan berperingkat investasi secara keseluruhan memiliki spread sekitar 78 basis poin.

Satu basis poin setara dengan 0,01 persen. Dengan demikian, 115 basis poin berarti tambahan imbal hasil sekitar 1,15 persen di atas acuan yang digunakan.

Spread yang lebih lebar menunjukkan investor meminta kompensasi lebih besar. Namun, kondisi itu tidak otomatis berarti penerbit sedang mengalami masalah keuangan.

Menurut Wakil Kepala Investasi Pendapatan Tetap Global BlackRock Russell Brownback, pelebaran tersebut lebih banyak mencerminkan dinamika pasokan dan permintaan daripada memburuknya kualitas kredit.

Perusahaan bersedia membayar bunga lebih tinggi karena memperkirakan investasi AI menghasilkan keuntungan yang melampaui biaya pinjaman.

Pasar Obligasi Terbagi Menjadi Dua

Pasar kredit perusahaan kini menunjukkan perbedaan antara penerbit terkait AI dan perusahaan dari sektor tradisional.

Obligasi baru dari sektor farmasi, asuransi, dan industri masih menerima permintaan tinggi. Beberapa transaksi bahkan memperoleh pesanan jauh lebih besar daripada jumlah obligasi yang ditawarkan.

Sebaliknya, perusahaan teknologi harus memberikan potongan harga atau konsesi lebih besar untuk menarik pembeli.

Induk Google, Alphabet, dilaporkan harus menawarkan konsesi besar ketika menerbitkan obligasi pada Agustus. Sementara itu, pembiayaan akuisisi senilai US$13,5 miliar milik broker asuransi Aon memperoleh pesanan sekitar US$65 miliar.

Perbedaan tersebut menunjukkan investor masih memiliki dana untuk ditempatkan. Namun, sebagian mulai mencari aset di luar kelompok perusahaan yang melakukan investasi AI besar-besaran.

Risiko Konsentrasi Portofolio Meningkat

Banyak investor institusional memiliki batas jumlah investasi pada satu perusahaan. Aturan tersebut bertujuan mencegah kerugian besar apabila kondisi satu penerbit memburuk.

Persoalannya, pembiayaan pusat data tidak selalu diterbitkan langsung oleh perusahaan teknologi. Sebagian utang diterbitkan melalui perusahaan khusus atau kendaraan pembiayaan yang mendapat dukungan dari perusahaan induk.

Setelah seluruh keterkaitan dihitung, investor dapat menemukan bahwa eksposur mereka terhadap satu grup teknologi sudah mendekati batas.

Risiko konsentrasi membuat pengelola dana tidak dapat terus membeli setiap obligasi baru. Mereka perlu menjaga ruang dalam portofolio untuk menghadapi penerbitan berikutnya.

Investor juga memilih menyimpan dana apabila spread obligasi AI melebar lebih jauh. Strategi ini memungkinkan mereka membeli surat utang pada harga yang lebih menarik pada masa mendatang.

“Investor hanya mampu menyerap dalam jumlah tertentu dan dalam waktu tertentu,” kata pengelola portofolio Thornburg Investment Management, Lon Erickson.

Hasil Investasi AI Belum Sepenuhnya Terlihat

Pusat data dan chip AI membutuhkan investasi besar sebelum menghasilkan pendapatan. Proses pembangunan dapat berlangsung beberapa tahun, sedangkan permintaan dan harga layanan AI masih terus berubah.

Perusahaan teknologi berharap AI meningkatkan pendapatan cloud, iklan, perangkat lunak, dan layanan berlangganan. Namun, pasar belum dapat memastikan kapan seluruh belanja tersebut menghasilkan keuntungan yang sebanding.

Persaingan juga dapat menekan harga. Apabila banyak perusahaan menawarkan kapasitas komputasi serupa, biaya layanan berpotensi turun sebelum investasi awal sepenuhnya kembali.

Selain itu, chip AI dapat mengalami penyusutan nilai dengan cepat ketika prosesor generasi baru diluncurkan. Pusat data juga menghadapi biaya listrik, pendinginan, dan pemeliharaan.

Ketidakpastian inilah yang membuat investor meminta penjelasan lebih rinci mengenai rencana belanja, jadwal pembangunan, serta proyeksi keuntungan.

Penerbitan Mendadak Dapat Menekan Kepercayaan

Investor dapat mempersiapkan dana apabila perusahaan menyampaikan rencana pinjaman secara jelas. Namun, penerbitan baru yang muncul hanya beberapa bulan setelah transaksi sebelumnya dapat mengejutkan pasar.

Pasokan mendadak berpotensi menyebabkan harga obligasi lama turun dan spread melebar. Kondisi tersebut membuat investor meminta kompensasi lebih besar dalam transaksi berikutnya.

Beberapa obligasi perusahaan pembelanja AI besar, termasuk Meta dan Alphabet, diperdagangkan dengan spread lebih lebar daripada perusahaan lain dengan peringkat kredit sebanding.

Walaupun begitu, kedua perusahaan tetap memiliki bisnis yang menghasilkan arus kas besar. Pelebaran spread lebih menggambarkan kekhawatiran mengenai frekuensi penerbitan dan skala investasi, bukan kesimpulan bahwa perusahaan akan gagal membayar.

Investor Waspada, Bukan Meninggalkan AI

Sikap selektif tidak berarti pasar obligasi menolak seluruh pembiayaan AI. Investor masih bersedia membeli apabila harga, tingkat bunga, dan risiko dinilai seimbang.

Bagi perusahaan, pasar utang tetap menjadi sumber dana penting. Bahkan dengan bunga lebih tinggi, investasi dapat dianggap layak apabila pusat data dan layanan AI menghasilkan pertumbuhan pendapatan jangka panjang.

Sementara itu, investor memperoleh imbal hasil yang biasanya dikaitkan dengan perusahaan berperingkat lebih rendah meskipun membeli obligasi dari penerbit berkualitas tinggi.

Lonjakan utang infrastruktur AI menunjukkan bahwa perlombaan kecerdasan buatan tidak hanya bergantung pada teknologi. Perusahaan juga membutuhkan kemampuan pembiayaan yang kuat dan kepercayaan pasar.

Pesan utama pasar saat ini bukan kepanikan terhadap perusahaan AI, melainkan tuntutan agar penerbit memberikan harga menarik, rencana modal jelas, dan bukti bahwa investasi besar tersebut dapat menghasilkan keuntungan.