PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Modal AI Tembus Batas, Investor Danai AS dan China

Investor danai AI AS dan China meskipun kedua negara terus membangun rantai pasok teknologi secara terpisah. Perbankan Amerika Serikat masih membantu perusahaan teknologi China memperoleh modal, sementara dana dari China mengalir ke saham dan perusahaan AI di AS.

Menurut laporan Reuters pada Selasa, 22 September 2026, hubungan keuangan antara kedua negara tetap kuat. Kondisi tersebut berlangsung di tengah pembatasan chip, pengawasan investasi, dan meningkatnya persaingan untuk memimpin pengembangan kecerdasan buatan.

Data LSEG menunjukkan bank-bank Wall Street menjadi penjamin emisi dalam 19 transaksi pasar modal perusahaan teknologi tinggi China sepanjang 2026. Nilai seluruh transaksi itu mencapai US$17,2 miliar.

Jumlah tersebut mewakili hampir 30 persen dari total penerbitan modal sektor teknologi tinggi China. Data ini memperlihatkan bahwa persaingan geopolitik belum sepenuhnya memutus hubungan pendanaan.

Investor Danai AI AS dan China

Amerika Serikat dan China sama-sama ingin memiliki rantai pasok AI yang mandiri. China mendorong produksi chip, model AI, dan pusat data dalam negeri agar tidak bergantung pada teknologi asing.

Sementara itu, Washington menjalankan strategi untuk mengamankan pasokan komponen teknologi. Pemerintah AS juga membatasi ekspor chip canggih dan peralatan pembuat semikonduktor ke China.

Namun, aturan tersebut tidak menghentikan seluruh aktivitas investasi. Terdapat pengecualian untuk sejumlah surat berharga yang diperdagangkan secara publik.

Pengecualian itu memungkinkan perusahaan keuangan AS tetap terlibat dalam pencatatan saham perusahaan teknologi China. Pada saat yang sama, investor China masih dapat memiliki saham perusahaan teknologi Amerika melalui jalur yang diizinkan.

Fred Hu, pendiri dan Ketua Primavera Capital Group, mengatakan hubungan bisnis tetap bertahan meskipun kondisi geopolitik bergejolak.

“Perusahaan dan investor AS serta China terus terhubung dan berinvestasi satu sama lain,” kata Hu sebagaimana dikutip Reuters.

Bank Wall Street Terlibat dalam IPO China

Sejumlah bank besar Amerika Serikat berperan dalam pencatatan saham perusahaan AI dan semikonduktor China. Goldman Sachs, Morgan Stanley, Citigroup, dan JPMorgan termasuk lembaga yang terlibat.

Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citigroup menjadi koordinator global bersama dalam pencatatan Zhongji Innolight di Hong Kong. Produsen komponen optik tersebut menghimpun dana sekitar US$6,8 miliar.

Goldman Sachs dan Morgan Stanley juga membantu pencatatan pengembang AI MiniMax. Kedua bank tersebut turut bekerja dalam penawaran saham Montage Technology dan Shanghai Iluvatar CoreX Semiconductor.

JPMorgan menjadi penjamin emisi dalam penjualan saham Victory Giant Technology di Hong Kong. Perusahaan pembuat papan sirkuit untuk server AI itu menghimpun dana sekitar US$2,6 miliar.

Keterlibatan bank Wall Street menunjukkan perusahaan keuangan melihat peluang bisnis dalam perkembangan teknologi China. Bank memperoleh pendapatan dengan membantu perusahaan menyiapkan dan memasarkan penawaran saham.

Dana China Mengalir ke Teknologi AS

Arus modal tidak hanya bergerak dari Amerika Serikat ke China. Investor China dan Hong Kong juga meningkatkan kepemilikan pada perusahaan teknologi AS.

Nilai saham AS yang dimiliki penduduk Hong Kong dan China daratan meningkat sekitar 23 persen dalam satu tahun. Nilainya kini melampaui US$750 miliar berdasarkan data pemerintah Amerika Serikat.

Saham AS mencakup hampir separuh dari dana kelolaan reksa dana China yang berinvestasi ke luar negeri. Nilai keseluruhan dana tersebut mencapai sekitar 1 triliun yuan atau US$150 miliar.

Data Sinolink Securities menunjukkan investor China meningkatkan kepemilikan di sejumlah produsen chip AS. Perusahaan tersebut mencakup Micron Technology, AMD, Sandisk, Lam Research, dan Applied Materials.

Sementara itu, data S&P Global Market Intelligence memperlihatkan peningkatan investasi China dalam pendanaan AI AS. Nilai putaran pendanaan yang melibatkan investor China atau Hong Kong naik dari sekitar US$436 juta pada 2023 menjadi US$8,9 miliar hingga pertengahan September 2026.

Investor Menyebarkan Risiko ke Dua Pasar

Investor memilih menempatkan dana di kedua negara karena belum ada kepastian mengenai pemenang persaingan AI. Amerika Serikat unggul dalam pengembangan sejumlah model canggih dan produksi chip tertentu.

China memiliki pasar domestik besar, dukungan pemerintah, serta perusahaan teknologi yang berkembang cepat. Pembatasan dari AS juga mendorong perusahaan China mempercepat pengembangan teknologi lokal.

James Buckley-Thorp, pendiri perusahaan AI Atlian, menilai investor perlu menghadapi kemungkinan terbentuknya dua ekosistem teknologi.

“Akan ada dua internet, dua tumpukan chip, dan dua aturan. Portofolio Anda membutuhkan paspor untuk keduanya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan strategi diversifikasi investor. Mereka tidak ingin hanya bergantung pada pertumbuhan AI di salah satu negara.

Xile He, pendiri perusahaan rintisan AI BrentX, juga menilai persaingan ini mungkin tidak menghasilkan satu pemenang.

“Dari sudut pandang investor, bertaruh sepenuhnya pada satu pihak merupakan risiko besar,” katanya.

Hubungan Keuangan Menghadapi Risiko Politik

Meskipun investor danai AI AS dan China, arus modal lintas negara tetap menghadapi risiko. Hubungan keuangan dapat terganggu apabila ketegangan politik meningkat.

Pemerintah AS telah memasukkan sejumlah perusahaan teknologi China ke daftar entitas yang dianggap membantu militer Beijing. Langkah tersebut dapat membatasi akses perusahaan terhadap modal maupun teknologi Amerika.

Sejumlah anggota parlemen AS juga mengkritik bank yang membantu pencatatan perusahaan China. Kritik itu muncul karena adanya kekhawatiran bahwa modal Amerika dapat mendukung sektor strategis negara pesaing.

Selain itu, struktur dana luar negeri sering kali tidak transparan. Thilo Hanemann dari Rhodium Group mengatakan investor kaya China masih berinvestasi pada perusahaan teknologi AS melalui dana offshore.

Namun, keterbatasan informasi membuat besarnya kepemilikan sulit dihitung secara tepat. Kondisi ini juga dapat meningkatkan pengawasan regulator.

Dialog AI Diharapkan Menjaga Stabilitas

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Washington. Isu AI diperkirakan menjadi salah satu agenda pembicaraan kedua pemimpin.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Mereka membahas kemungkinan pembentukan dialog AI antara kedua negara.

Salah satu gagasan yang dibicarakan adalah sistem pemberitahuan mengenai insiden AI. Mekanisme tersebut dapat membantu kedua negara berkomunikasi ketika muncul risiko yang berdampak pada keamanan bersama.

Bagi investor, komunikasi politik dapat mengurangi ketidakpastian. Akan tetapi, pertemuan Trump dan Xi belum tentu menghasilkan perubahan besar dalam aturan investasi atau ekspor teknologi.

Hubungan keuangan antara AS dan China memberikan kepentingan bersama untuk menjaga stabilitas. Namun, koneksi tersebut juga dapat menjadi sumber kerugian apabila pemisahan teknologi terjadi secara mendadak.

Untuk saat ini, modal tetap mengikuti peluang keuntungan. Investor masih mendanai perkembangan AI di kedua negara sambil mengantisipasi perubahan regulasi dan hubungan politik.