PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Energi Pusat Data AI Disorot, Climate Week Dorong Infrastruktur Hijau

Energi pusat data AI menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian dalam rangkaian Climate Week New York 2026. Pesatnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan dinilai dapat meningkatkan konsumsi listrik, air, dan kebutuhan lahan.

Para peserta Climate Week membahas dua sisi perkembangan AI. Teknologi tersebut dapat membantu penelitian iklim dan meningkatkan efisiensi energi. Namun, pengoperasian model AI membutuhkan pusat data dengan pasokan listrik serta sistem pendingin dalam jumlah besar.

Associated Press melaporkan bahwa AI dan pusat data menjadi bagian penting dalam pembicaraan Climate Week. Isu tersebut muncul ketika pemerintah dan perusahaan berusaha meningkatkan kapasitas energi terbarukan sekaligus memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik.

Energi Pusat Data AI Menjadi Perhatian

Pusat data berisi server yang digunakan untuk menyimpan, mengolah, dan mengirim informasi. Sistem AI memerlukan ribuan prosesor untuk melatih model serta melayani permintaan pengguna.

Proses tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Selain itu, banyak pusat data menggunakan air untuk mendinginkan server agar tetap beroperasi pada suhu yang aman.

Laporan United Nations University Institute for Water, Environment and Health memperkirakan konsumsi listrik dan air pusat data dapat meningkat dua kali lipat pada 2030.

Pada 2025, pusat data di seluruh dunia menggunakan sekitar 448 terawatt-jam listrik. Jumlah itu lebih besar daripada konsumsi listrik tahunan Arab Saudi.

AI diperkirakan menyumbang sekitar seperlima dari total penggunaan listrik pusat data tersebut. Namun, porsinya diproyeksikan terus bertambah seiring meningkatnya penggunaan layanan AI.

Konsumsi Listrik Diproyeksikan Berlipat Ganda

Peneliti PBB memperkirakan konsumsi listrik tahunan pusat data mencapai sekitar 945 terawatt-jam pada 2030. Angka itu hampir setara dengan konsumsi listrik Jepang.

AI diproyeksikan menyumbang sekitar 40 persen dari keseluruhan penggunaan listrik pusat data pada tahun tersebut. Namun, angka itu masih berupa perkiraan yang dapat berubah sesuai perkembangan teknologi dan kebijakan energi.

Kaveh Madani, Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health, menegaskan bahwa AI bukan hanya perangkat lunak.

“AI juga merupakan infrastruktur fisik: pusat data, listrik, pendinginan, jaringan, chip, mineral, tanah, dan air,” kata Madani sebagaimana dikutip Reuters.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa perkembangan AI memiliki dampak di luar dunia digital. Setiap layanan AI bergantung pada fasilitas fisik yang membutuhkan energi dan sumber daya.

Penggunaan Air Turut Meningkat

Selain listrik, konsumsi air menjadi perhatian dalam pembangunan pusat data. Air digunakan dalam sejumlah sistem pendinginan dan pembangkit listrik yang memasok fasilitas tersebut.

Pada 2025, pusat data diperkirakan menggunakan sekitar 4,5 triliun liter air. Peneliti PBB menyebut jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 600 juta penduduk Afrika Sub-Sahara.

Konsumsi air pusat data diproyeksikan mencapai 9,3 triliun liter pada 2030. Namun, dampak setiap fasilitas berbeda sesuai lokasi, teknologi pendinginan, dan sumber listrik yang digunakan.

Pembangunan pusat data di wilayah yang memiliki persediaan air terbatas dapat menimbulkan persaingan dengan masyarakat serta sektor pertanian. Karena itu, kajian sumber daya lokal perlu dilakukan sebelum proyek disetujui.

Teknologi pendinginan yang lebih hemat air dapat mengurangi dampak tersebut. Perusahaan juga dapat membangun fasilitas di wilayah dengan suhu lebih rendah agar kebutuhan pendinginan berkurang.

Emisi Karbon Berpotensi Bertambah

Pusat data menghasilkan emisi tidak langsung apabila listriknya berasal dari batu bara atau gas. Pertumbuhan permintaan listrik dapat mendorong pembangunan pembangkit fosil baru jika energi bersih tidak berkembang cukup cepat.

Peneliti memperkirakan emisi karbon pusat data naik dari 189 juta ton menjadi sekitar 399 juta ton pada 2030. Angka tersebut memperlihatkan pentingnya sumber listrik rendah karbon.

Namun, tidak semua pusat data menghasilkan dampak yang sama. Fasilitas yang menggunakan tenaga surya, angin, hidro, atau nuklir dapat memiliki jejak karbon lebih rendah.

Lokasi pembangunan juga memengaruhi dampak lingkungan. Pusat data yang terhubung dengan jaringan listrik bersih cenderung menghasilkan emisi lebih kecil dibandingkan fasilitas yang bergantung pada pembangkit fosil.

Karena itu, target energi terbarukan perlu disertai bukti mengenai sumber listrik yang benar-benar digunakan. Pembelian sertifikat energi saja belum tentu mengurangi tekanan pada jaringan lokal.

Climate Week Dorong Solusi Energi Bersih

Pembahasan Climate Week menekankan perlunya menyeimbangkan perkembangan AI dan target iklim. Pemerintah serta perusahaan perlu memastikan pembangunan pusat data tidak menghambat transisi energi.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun energi bersih bersamaan dengan pusat data. Perusahaan juga dapat menggunakan baterai untuk mengurangi beban jaringan pada jam sibuk.

Sistem AI sendiri dapat membantu mengatur penggunaan energi. Teknologi tersebut dapat memperkirakan permintaan listrik, menyeimbangkan jaringan, dan menemukan pemborosan.

Panas yang dihasilkan server juga dapat dimanfaatkan. Di sejumlah wilayah, panas dari pusat data dapat dialirkan untuk membantu pemanasan bangunan dan fasilitas umum.

Namun, peningkatan efisiensi belum tentu menurunkan konsumsi secara keseluruhan. Apabila jumlah pusat data tumbuh lebih cepat, total kebutuhan listrik tetap dapat naik.

Transparansi Menjadi Bagian Penting

Pemerintah membutuhkan data akurat untuk mengukur dampak pembangunan pusat data. Informasi tersebut mencakup pemakaian listrik, air, sumber energi, emisi, dan jumlah limbah elektronik.

Uni Eropa telah mengusulkan aturan yang mewajibkan pusat data berkapasitas minimal 500 kilowatt melaporkan efisiensi energi serta air. Kawasan itu juga merencanakan sistem label untuk memberikan informasi yang lebih transparan.

Saat ini, pusat data menggunakan sekitar 2,5 persen listrik Uni Eropa. Kapasitasnya diperkirakan naik dari 12 gigawatt pada 2025 menjadi 28 gigawatt pada 2030.

Aturan tersebut belum menetapkan batas penggunaan energi secara langsung. Namun, data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk menyusun standar efisiensi pada masa mendatang.

Transparansi juga membantu masyarakat memahami pengaruh sebuah pusat data terhadap biaya listrik dan persediaan air di wilayahnya.

Pertumbuhan AI Perlu Direncanakan

Sorotan terhadap energi pusat data AI bukan berarti pengembangan teknologi harus dihentikan. Perencanaan yang baik dapat mengurangi dampak lingkungan tanpa menutup peluang inovasi.

Pemerintah dapat menempatkan fasilitas di wilayah yang memiliki pasokan energi bersih dan jaringan memadai. Perusahaan juga perlu menggunakan chip, perangkat lunak, dan sistem pendinginan yang lebih efisien.

Menurut Madani, masalah utama bukan karena dunia akan kehabisan listrik atau air secara keseluruhan. Risiko lebih besar muncul apabila pembangunan pusat data dilakukan di lokasi yang telah mengalami tekanan sumber daya.

Karena itu, pembahasan di Climate Week menjadi pengingat bahwa perkembangan AI harus disertai pembangunan energi bersih. Tanpa perencanaan, kebutuhan listrik dan air dapat menambah tekanan terhadap masyarakat serta target iklim global.