
CALIFORNIA – Perusahaan teknologi berlomba mengembangkan kacamata pintar, pin, liontin, perekam suara, dan perangkat AI berukuran kecil. Namun, kepercayaan terhadap perangkat AI menjadi tantangan yang dapat menentukan penerimaan konsumen.
Perangkat tersebut dirancang untuk mendampingi pengguna sepanjang hari. Sebagian produk dapat mendengar percakapan, melihat lingkungan, membuat ringkasan, dan menjalankan tugas melalui perintah suara.
Kemampuan itu menawarkan kemudahan baru. Namun, konsumen mulai mempertanyakan kapan perangkat merekam, siapa yang dapat mengakses data, dan apakah orang di sekitar pengguna telah memberikan persetujuan.
Kepercayaan terhadap Perangkat AI Menjadi Penentu
Perusahaan teknologi melihat wearable AI sebagai calon platform komputasi setelah telepon pintar. Mereka ingin membuat interaksi digital terasa lebih cepat tanpa mengharuskan pengguna terus melihat layar ponsel.
Kacamata pintar dapat menampilkan informasi langsung di depan mata. Sementara itu, pin dan liontin AI dapat merekam percakapan untuk membuat transkrip serta pengingat.
Namun, fitur tersebut membutuhkan akses terhadap lingkungan pengguna. Kamera dan mikrofon dapat menangkap wajah, suara, lokasi, dan percakapan orang lain.
Jika konsumen tidak memahami cara data digunakan, mereka mungkin menolak perangkat tersebut. Kekhawatiran dapat semakin besar apabila perusahaan tidak memberikan kendali yang jelas.
Reuters melaporkan bahwa perdebatan privasi dapat menentukan masa depan pasar wearable AI. Fitur yang membuat perangkat berguna juga dapat menjadi penghambat utama penerimaannya.
Pasar Telepon Pintar Menjadi Sasaran
Perusahaan teknologi membidik bagian dari pasar telepon pintar yang bernilai lebih dari 600 miliar dolar. Mereka berharap perangkat AI dapat menjadi pendamping atau alternatif bagi ponsel.
Namun, menggantikan kebiasaan penggunaan telepon pintar bukan hal mudah. Ponsel telah menjadi pusat komunikasi, hiburan, pembayaran, dan pekerjaan.
Perangkat AI harus menawarkan fungsi yang benar-benar berguna. Produk juga perlu memiliki daya tahan baterai baik, desain nyaman, dan harga terjangkau.
Selain itu, konsumen membutuhkan alasan untuk mempercayai teknologi yang selalu berada di dekat tubuh. Jaminan privasi dapat menjadi sama pentingnya dengan kemampuan AI.
Produk AI Sebelumnya Gagal Menarik Pasar
Beberapa perangkat AI genggam yang diperkenalkan sebelumnya gagal mendapatkan permintaan luas. Pengguna mengeluhkan fungsi terbatas, respons lambat, serta ketergantungan terhadap koneksi internet.
Kegagalan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik teknologi baru tidak selalu menghasilkan penjualan berkelanjutan. Konsumen tetap mempertimbangkan kegunaan, harga, dan kenyamanan.
Produsen sekarang mencoba desain yang berbeda. Perangkat tersedia dalam bentuk kacamata, pin, liontin, earbud, jam saku, dan perekam yang ditempelkan pada telepon.
Beragam desain itu menunjukkan industri masih mencari bentuk yang paling sesuai. Belum ada satu jenis perangkat yang terbukti dapat menggantikan telepon pintar.
Meta Memperkenalkan Muse Charm
Meta memperkenalkan perangkat kecil bernama Muse Charm dalam acara Meta Connect pada 23 September 2026. Produk tersebut berbentuk seperti jam saku atau gantungan kunci.
Charm memiliki layar sentuh berukuran sekitar dua inci dan modem 5G. Pengguna dapat mengetuk perangkat untuk mengakses asisten AI Muse tanpa membuka aplikasi di telepon.
Meta mengatakan perangkat itu akan tersedia menjelang musim liburan pada Desember 2026. Namun, perusahaan belum mengumumkan harganya.
Charm tidak dapat digunakan untuk melakukan panggilan telepon. Perangkat tersebut berfungsi sebagai akses langsung menuju asisten AI Muse.
Analis menilai desain yang menggabungkan AI, mode, dan personalisasi dapat menarik pengguna muda. Meski demikian, permintaan di luar kelompok pengguna awal masih belum dapat dipastikan.
Meta Meluncurkan Kacamata Tanpa Kamera
Meta juga memperkenalkan Ray-Ban Meta Audio yang tidak dilengkapi kamera. Produk tersebut memakai asisten AI Muse dan dapat menerima perintah suara.
Perangkat itu dirancang untuk mendengarkan musik, menjalankan tugas, dan berinteraksi dengan AI. Harga awalnya ditetapkan sebesar 349 dolar.
Ketiadaan kamera dapat mengurangi kekhawatiran mengenai perekaman visual tersembunyi. Namun, persoalan privasi belum sepenuhnya hilang karena perangkat masih memakai mikrofon.
Percakapan pengguna dan orang di sekitarnya tetap dapat menjadi data sensitif. Produsen perlu menjelaskan kapan mikrofon aktif dan bagaimana informasi diproses.
Ray-Ban Meta Audio menunjukkan bahwa perusahaan mulai merespons kekhawatiran publik melalui perubahan desain.
Kamera dan Mikrofon Menimbulkan Kekhawatiran
Kamera wearable berbeda dari kamera telepon karena posisinya mengikuti pandangan pengguna. Orang lain mungkin tidak menyadari bahwa mereka berada dalam area perekaman.
Mikrofon juga memiliki tantangan serupa. Sebuah perangkat dapat menangkap percakapan pribadi meskipun pihak lain tidak pernah menyetujui perekaman.
Situasi tersebut menjadi lebih rumit ketika data dikirim ke server cloud. Rekaman dapat digunakan untuk membuat transkrip, melatih model, atau meningkatkan produk.
Pengguna perlu mengetahui berapa lama data disimpan. Mereka juga harus memahami apakah pegawai atau kontraktor dapat meninjau hasil rekaman.
Tanpa transparansi, konsumen dapat merasa kehilangan kendali. Kondisi inilah yang berpotensi menghambat kepercayaan terhadap perangkat AI.
Gugatan Meningkatkan Kekhawatiran Publik
Kacamata AI Meta menjadi pusat gugatan terkait dugaan klaim privasi yang menyesatkan. Penggugat menyatakan peninjau manusia melihat dan memberikan label pada rekaman sensitif.
Tuduhan itu mencakup rekaman orang berganti pakaian, menggunakan kamar mandi, dan menangani informasi keuangan. Namun, klaim tersebut belum menjadi putusan pengadilan.
Meta membantah tuduhan itu dan menyatakan akan melawan gugatan tersebut. Perusahaan juga mengatakan informasi yang dapat mengidentifikasi seseorang telah disaring.
Meta menyebut lampu perekaman tidak dapat dimatikan ketika kamera digunakan. Kamera juga dinonaktifkan apabila lampu ditutup atau dimanipulasi.
Meski demikian, perdebatan tetap berlangsung mengenai apakah lampu kecil cukup memberi tahu orang di sekitar pengguna.
Persetujuan Orang Sekitar Belum Jelas
Pemilik perangkat dapat menyetujui kebijakan privasi sebelum memakai produk. Namun, persetujuan tersebut tidak mencakup setiap orang yang berada di dekat pengguna.
Seseorang di restoran, kantor, kendaraan, atau tempat umum dapat ikut terekam. Mereka mungkin tidak memahami bahwa perangkat yang dipakai orang lain memiliki kamera atau mikrofon.
Perbedaan aturan antarnegara juga menambah kerumitan. Beberapa wilayah mengizinkan perekaman dengan persetujuan satu pihak, sedangkan wilayah lain mewajibkan izin semua pihak.
Produsen perlu mempertimbangkan perbedaan hukum tersebut. Perangkat sebaiknya memiliki indikator yang mudah terlihat serta metode aktivasi yang disengaja.
Pemberitahuan suara juga dapat digunakan untuk memberi tahu orang lain. Namun, fitur tersebut harus dirancang agar tidak mudah dinonaktifkan.
Desain Tanpa Kamera Mulai Bermunculan
Even Realities menjadi salah satu perusahaan yang memilih kacamata tanpa kamera. Perusahaan asal Shenzhen itu meluncurkan G1 pada 2024 dan G2 pada November 2025.
Pendiri Even Realities Will Wang menilai konsumen semakin menghubungkan kacamata pintar dengan perekaman tersembunyi. Ia berpendapat kamera sebaiknya menunggu hingga perlindungan privasi semakin kuat.
Pendekatan tersebut tidak menghentikan pertumbuhan perusahaan. Valuasi Even Realities mencapai 1 miliar dolar pada Juli 2026.
Perusahaan memperkirakan jumlah penggunanya mencapai beberapa ratus ribu pada akhir tahun. Sekitar 90 persen penjualan berasal dari konsumen.
Data itu menunjukkan bahwa perangkat AI tanpa kamera tetap dapat memiliki daya tarik pasar.
Aktivasi Manual Memberikan Kendali
Perusahaan lain menggunakan tombol fisik agar pengguna harus mengaktifkan perekaman secara sengaja.
Pocket menawarkan perekam yang ditempelkan pada telepon. Pengguna harus menekan tombol sebelum perangkat mulai merekam percakapan.
Sekitar 170.000 perangkat tersebut digunakan dalam delapan bulan sejak peluncuran. Produk itu juga digunakan oleh pekerja di DoorDash, Michelin, dan Santander.
Sementara itu, Plaud menawarkan perekam berbentuk kartu serta perangkat wearable. Plaud One menggunakan lampu atau pengumuman suara untuk memberi tahu orang di sekitar pengguna.
Plaud memiliki sekitar 2,5 juta pengguna dan pendapatan berulang tahunan lebih dari 100 juta dolar. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme privasi tidak selalu mengurangi nilai sebuah produk.
Pemrosesan Lokal Dapat Membangun Kepercayaan
Pemrosesan data secara lokal menjadi salah satu solusi yang paling banyak dibahas. Data diproses langsung di perangkat tanpa selalu dikirim ke server cloud.
Cara tersebut dapat mengurangi risiko kebocoran dan akses oleh pihak lain. Selain itu, perangkat dapat merespons lebih cepat ketika koneksi internet tidak tersedia.
CEO OpenAI Sam Altman menilai perangkat yang mendengar dan melihat kehidupan pengguna tidak seharusnya mengirim seluruh informasi ke cloud.
Namun, pemrosesan lokal membutuhkan chip yang kuat dan hemat energi. Perangkat wearable memiliki keterbatasan ruang, baterai, dan kemampuan pendinginan.
Perusahaan mungkin membutuhkan beberapa tahun untuk mencapai kemampuan tersebut dalam bentuk produk kecil yang terjangkau.
Produsen Harus Memberikan Kendali
Wakil Presiden Eksekutif Samsung Jay Kim mengatakan konsumen akan memilih perangkat yang berguna, alami, dan dapat dipercaya.
“Desain pemenang membuat interaksi lebih alami, berguna, dan tepercaya,” ujar Kim kepada Reuters.
Kendali pengguna dapat diberikan melalui tombol fisik, penutup kamera, indikator perekaman, dan pengaturan penyimpanan.
Pengguna juga harus dapat menghapus data dengan mudah. Perusahaan perlu menjelaskan apakah rekaman dipakai untuk melatih model atau dibagikan kepada mitra.
Kebijakan privasi yang panjang dan rumit tidak cukup. Informasi penting harus tersedia langsung ketika konsumen memakai fitur.
Masa Depan Perangkat AI Bergantung pada Kepercayaan
Perangkat AI generasi baru memiliki peluang besar. Teknologi tersebut dapat membantu pengguna mengingat informasi, menerjemahkan bahasa, mengatur jadwal, dan menyelesaikan pekerjaan.
Namun, kemampuan itu membutuhkan akses terhadap kehidupan sehari-hari. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan, semakin besar risiko privasinya.
Produk yang mengabaikan persetujuan berpotensi ditolak konsumen atau dibatasi di tempat umum. Sebaliknya, perangkat yang memberikan kendali dapat memperoleh kepercayaan lebih cepat.
Karena itu, kepercayaan terhadap perangkat AI akan menjadi penentu utama. Kecanggihan teknologi saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan sebuah produk.
Industri harus membuktikan bahwa perangkat dapat membantu tanpa mengorbankan privasi. Jika gagal, visi dunia pascatelepon pintar kemungkinan akan sulit terwujud.









































































































































































































































































