
NEW YORK – Kacamata pintar, pin AI, liontin digital, dan perekam suara berbasis kecerdasan buatan mulai menarik perhatian konsumen. Namun, masalah privasi perangkat AI berpotensi menghambat pertumbuhan teknologi tersebut.
Perangkat wearable AI dapat melihat, mendengar, dan memahami lingkungan pengguna. Kemampuan itu membuat interaksi dengan teknologi terasa lebih alami, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai perekaman dan persetujuan.
Perusahaan teknologi kini berusaha mencari desain yang lebih aman. Sebagian produsen mengembangkan kacamata tanpa kamera, sedangkan perusahaan lain memilih sistem perekaman yang hanya aktif setelah pengguna menekan tombol.
Privasi Perangkat AI Menjadi Sorotan
Perangkat AI menjadi semakin berguna apabila mampu memahami situasi di sekitar pengguna. Kacamata pintar dapat menggunakan kamera dan mikrofon untuk mengenali objek, menerjemahkan percakapan, atau memberikan petunjuk.
Namun, perangkat tersebut juga dapat merekam orang yang tidak mengetahui keberadaan kamera. Kondisi ini menimbulkan masalah karena pihak yang terekam belum tentu memberikan persetujuan.
Berbeda dengan telepon genggam, kacamata dapat merekam dari sudut pandang pemakainya. Orang di sekitar pengguna mungkin sulit mengetahui kapan proses perekaman berlangsung.
Jika perusahaan tidak mampu membangun kepercayaan, fungsi utama wearable AI justru dapat menghambat penerimaannya. Kamera, mikrofon, dan pemahaman lingkungan bisa dianggap sebagai ancaman terhadap privasi.
Kacamata Pintar Meta Hadapi Penolakan
Kacamata Ray-Ban yang terintegrasi dengan AI Meta membantu membawa perangkat tersebut ke pasar konsumen yang lebih luas. Produk itu menggabungkan desain kacamata populer dengan kamera, mikrofon, dan asisten AI.
Namun, perangkat tersebut juga menjadi pusat perdebatan. Sejumlah pengguna mengkhawatirkan kemungkinan perekaman tersembunyi dan penggunaan data tanpa penjelasan yang cukup.
Beberapa tempat di Inggris telah membatasi penggunaan kacamata tersebut. Salah satunya adalah jaringan pub Wetherspoon yang menerapkan pembatasan terhadap perangkat itu.
Selain itu, pengadilan sedang memeriksa gugatan terkait klaim privasi kacamata pintar. Gugatan tersebut masih berlangsung sehingga tuduhan di dalamnya belum menjadi putusan hukum.
Gugatan Persoalkan Rekaman Sensitif
Firma hukum yang mewakili konsumen menggugat Meta dan Luxottica of America. Mereka menuduh perusahaan memberikan informasi privasi yang menyesatkan mengenai kacamata pintar.
Gugatan itu menyatakan bahwa peninjau manusia melihat dan memberikan label pada sejumlah rekaman yang diunggah ke server Meta untuk meningkatkan sistem AI.
Materi yang disebut dalam gugatan mencakup rekaman orang berganti pakaian, menggunakan kamar mandi, dan menangani informasi finansial. Orang-orang yang terekam diduga tidak selalu menyadari keberadaan kamera.
Namun, klaim tersebut masih berupa tuduhan dari pihak penggugat. Pengadilan belum menetapkan kebenaran seluruh tuduhan tersebut.
Meta menyatakan tidak setuju dengan gugatan itu dan akan melawannya. Perusahaan mengatakan peninjauan data pengguna untuk meningkatkan produk merupakan praktik yang umum dalam industri.
Meta juga menyatakan pihaknya menyaring informasi yang dapat mengidentifikasi seseorang. Selain itu, perusahaan menggunakan lampu indikator yang menyala ketika kamera merekam.
Meta Sebut Indikator Melindungi Orang Sekitar
Meta mengatakan lampu perekaman tidak dapat dimatikan saat kamera digunakan. Apabila lampu tersebut ditutup atau dimanipulasi, kamera diklaim akan berhenti bekerja.
Fitur tersebut bertujuan memberi tahu orang lain bahwa proses perekaman sedang berlangsung. Namun, kritikus mempertanyakan apakah indikator kecil cukup terlihat di tempat ramai.
Masalah lain muncul ketika orang tidak mengetahui arti lampu tersebut. Indikator hanya efektif apabila masyarakat memahami bahwa perangkat sedang mengambil gambar.
Oleh sebab itu, perusahaan dapat mempertimbangkan tanda tambahan. Suara peringatan, indikator yang lebih besar, atau penutup kamera fisik dapat memberikan informasi yang lebih jelas.
Produsen juga harus menjelaskan lokasi penyimpanan rekaman. Pengguna dan orang yang terekam perlu mengetahui apakah data diproses di perangkat atau dikirim ke server.
Samsung Siapkan Kacamata melalui Kemitraan
Samsung berencana memasuki pasar kacamata pintar melalui kemitraan dengan Gentle Monster dan Warby Parker. Perusahaan tidak melihat perangkat tersebut sebagai pengganti langsung telepon pintar.
Samsung menilai wearable AI harus menawarkan kegunaan yang jelas dan tetap memberikan kendali kepada pengguna.
“Desain pemenang akan membuat interaksi lebih alami, berguna, dan tepercaya,” kata eksekutif Samsung Jay Kim kepada Reuters.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi unsur penting. Konsumen tidak hanya menilai kemampuan AI, tetapi juga cara perangkat menangani kamera, mikrofon, dan data pribadi.
Pasar telepon pintar yang bernilai lebih dari 600 miliar dolar menjadi peluang besar bagi perusahaan teknologi. Namun, perangkat baru harus menawarkan alasan kuat agar konsumen bersedia menggunakannya setiap hari.
OpenAI Usulkan Pemrosesan Data Lokal
CEO OpenAI Sam Altman pernah menjelaskan visi perangkat AI yang selalu aktif dan mampu memahami lingkungan pengguna. Perangkat tersebut diharapkan mengetahui kapan harus membantu dan kapan harus tetap diam.
Namun, Altman menilai data sebaiknya diproses secara lokal. Informasi tidak harus terus-menerus dikirim ke server cloud.
Pemrosesan lokal dapat mengurangi jumlah rekaman pribadi yang meninggalkan perangkat. Cara itu juga dapat mempercepat respons karena data tidak perlu selalu dikirim melalui internet.
Meski demikian, pemrosesan AI yang kompleks membutuhkan chip kuat dan efisien. Perangkat wearable memiliki ukuran kecil serta keterbatasan baterai.
Altman memperkirakan kemampuan pemrosesan lokal yang diperlukan mungkin membutuhkan waktu beberapa tahun. Perkembangannya akan bergantung pada peningkatan kemampuan prosesor AI.
Kacamata Tanpa Kamera Jadi Alternatif
Kekhawatiran mengenai privasi mendorong perusahaan lain memilih pendekatan berbeda. Even Realities mengembangkan kacamata pintar tanpa kamera.
Perusahaan rintisan asal Shenzhen tersebut didirikan oleh Will Wang, mantan insinyur Apple yang pernah mengerjakan Apple Watch. Produk G1 diperkenalkan pada 2024, kemudian G2 diluncurkan pada November 2025.
Wang menilai konsumen semakin menghubungkan kacamata pintar dengan perekaman tersembunyi. Menurutnya, kamera sebaiknya ditambahkan setelah perusahaan memiliki perlindungan yang lebih kuat.
Valuasi Even Realities mencapai 1 miliar dolar pada Juli 2026. Perusahaan berharap memiliki beberapa ratus ribu pengguna sebelum akhir tahun.
Sekitar 90 persen penjualannya berasal dari konsumen. Data tersebut menunjukkan bahwa kacamata pintar tetap dapat menarik pembeli meskipun tidak dilengkapi kamera.
Perekam yang Harus Diaktifkan Pengguna
Perusahaan Pocket mengambil pendekatan berbeda. Produk tersebut merupakan perekam yang ditempelkan secara magnetis pada telepon genggam.
Pengguna harus menekan tombol sebelum merekam percakapan. Tindakan tersebut membuat proses perekaman lebih disengaja dan lebih mudah terlihat oleh orang lain.
Sekitar 170.000 perangkat Pocket digunakan dalam delapan bulan setelah peluncuran. Penggunanya mencakup pekerja di perusahaan seperti DoorDash, Michelin, dan Santander.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan dapat menawarkan fitur AI tanpa membuat perangkat selalu aktif. Pengguna tetap memiliki kendali langsung terhadap waktu perekaman.
Namun, tombol fisik belum menyelesaikan semua masalah. Pemilik perangkat tetap harus memperoleh persetujuan sesuai aturan yang berlaku di wilayahnya.
Plaud Gunakan Lampu dan Peringatan Suara
Plaud menjual perekam AI berbentuk kartu serta perangkat wearable. Salah satu produknya adalah Plaud One Explorer Edition yang memiliki sistem earbud dan wadah khusus.
Perangkat seharga 249,99 dolar itu hanya merekam setelah diaktifkan. Plaud juga menggunakan lampu atau pengumuman suara untuk memberi tahu orang di sekitar pengguna.
Perusahaan mengatakan telah memiliki 2,5 juta pengguna. Pendapatan berulang tahunannya juga telah melampaui 100 juta dolar.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dapat menggabungkan fungsi perekaman dengan mekanisme pemberitahuan yang lebih jelas.
Meski demikian, efektivitas perlindungan tetap bergantung pada perilaku pengguna. Sebuah fitur keamanan tidak banyak membantu apabila sengaja diabaikan atau disalahgunakan.
Perusahaan Lebih Cepat Mengadopsi Wearable AI
Sejumlah produsen menemukan bahwa pelanggan bisnis lebih cepat mengadopsi perangkat AI daripada konsumen umum.
Pekerja dapat menggunakan perekam AI untuk membuat transkrip rapat, merangkum percakapan, dan menyusun daftar pekerjaan. Perangkat juga dapat membantu menyimpan informasi tanpa mencatat secara manual.
Namun, perusahaan harus menetapkan aturan internal. Rapat yang membahas data pelanggan, rahasia dagang, atau informasi pegawai tidak boleh direkam sembarangan.
Organisasi juga perlu menentukan berapa lama rekaman disimpan. Akses terhadap data harus dibatasi hanya untuk orang yang membutuhkan.
Selain itu, penggunaan AI harus mematuhi peraturan perlindungan data. Perusahaan tidak dapat menganggap persetujuan otomatis tersedia hanya karena pegawai menghadiri rapat.
Persetujuan Menjadi Tantangan Utama
Pengguna perangkat wearable dapat menyetujui kebijakan privasi saat membeli produk. Namun, orang lain di sekitar pengguna tidak ikut menyetujui kebijakan tersebut.
Situasi itu menciptakan masalah baru. Satu orang dapat membawa perangkat yang menangkap suara dan gambar puluhan orang dalam satu ruangan.
Persetujuan juga berbeda di setiap negara. Sejumlah wilayah mengizinkan perekaman percakapan dengan persetujuan satu pihak, sedangkan wilayah lain mewajibkan izin semua pihak.
Perusahaan teknologi perlu merancang perangkat yang dapat digunakan dalam berbagai kondisi hukum. Pengguna juga harus memperoleh informasi yang jelas mengenai aturan setempat.
Tanpa edukasi, konsumen dapat melanggar privasi orang lain tanpa menyadarinya. Karena itu, petunjuk penggunaan harus menjelaskan tanggung jawab pengguna.
Privasi Menentukan Masa Depan Perangkat AI
Kekhawatiran terhadap teknologi perekaman bukan hal baru. Telepon pintar juga menghadapi penolakan ketika kamera dan mikrofon mulai menjadi fitur umum.
Seiring waktu, masyarakat mengembangkan aturan sosial mengenai kapan seseorang boleh mengambil foto atau merekam suara. Namun, wearable AI membuat proses tersebut jauh lebih sulit terlihat.
Masa depan privasi perangkat AI akan bergantung pada transparansi. Produsen harus menjelaskan kapan sensor aktif, data apa yang dikumpulkan, dan siapa yang dapat mengaksesnya.
Pemrosesan lokal, indikator yang jelas, tombol aktivasi, dan perangkat tanpa kamera menjadi beberapa solusi yang sedang diuji.
Kacamata pintar dan pin AI memiliki peluang menjadi platform komputasi baru. Namun, teknologi tersebut hanya akan diterima luas apabila konsumen dan masyarakat di sekitarnya merasa aman.









































































































































































































































































