PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Fosil 240 Juta Tahun Ungkap Spesies Baru Kerabat Purba Mamalia di Tanzania

BRISTOL – Spesies hewan purba Tanzania yang hidup sekitar 240 juta tahun lalu akhirnya berhasil diidentifikasi. Hewan bernama Dinodontosaurus isiyavamanda itu merupakan dicynodont, kelompok vertebrata pemakan tumbuhan yang masih berada dalam garis evolusi menuju mamalia.

Fosilnya ditemukan di Tanzania dalam ekspedisi Inggris pada 1963. Namun, spesimen tersebut tersimpan di Natural History Museum London selama lebih dari 60 tahun sebelum penelitian terbaru memastikan identitasnya sebagai spesies baru.

Penelitian dipimpin University of Bristol dan diterbitkan dalam Journal of Vertebrate Paleontology pada 16 September 2026.

Selain menambah daftar hewan purba, penemuan itu membantu ilmuwan memperkirakan ulang usia lapisan batuan Tanzania yang menyimpan sejumlah calon fosil dinosaurus paling awal.

Spesies Hewan Purba Tanzania Berasal dari Zaman Trias

Dinodontosaurus isiyavamanda hidup pada periode Trias, sekitar 240 juta tahun lalu. Periode tersebut berlangsung setelah kepunahan massal terbesar dalam sejarah Bumi.

Ekosistem daratan saat itu sedang mengalami pemulihan. Beragam kelompok reptil, amfibi, dan synapsida berkembang sebelum dinosaurus mendominasi lingkungan darat.

Dicynodont termasuk kelompok synapsida. Kelompok besar ini berada dalam cabang evolusi yang pada akhirnya menghasilkan mamalia.

Namun, Dinodontosaurus isiyavamanda bukan mamalia dan bukan pula dinosaurus. Hewan tersebut merupakan kerabat sangat jauh mamalia yang hidup puluhan juta tahun sebelum mamalia modern muncul.

Dicynodont tersebar luas pada zaman Permian dan Trias. Fosil kelompok ini telah ditemukan di Afrika, Amerika Selatan, Asia, Eropa, dan Antarktika.

Tubuh Besar dengan Paruh dan Sepasang Taring

Dinodontosaurus diperkirakan mempunyai tubuh besar, kekar, dan berbentuk seperti tong. Kakinya kuat untuk menopang berat tubuh ketika berjalan di daratan.

Bagian depan mulutnya tidak mempunyai gigi seperti mamalia pemakan tumbuhan modern. Sebaliknya, hewan tersebut memiliki paruh keras yang dipakai untuk memotong tanaman.

Sepasang taring besar tumbuh dari rahang atas. Ciri inilah yang membuat nama dicynodont berarti “dua gigi anjing”.

Taring tersebut kemungkinan mempunyai beberapa fungsi. Hewan dapat menggunakannya untuk menggali, mencari tanaman, mempertahankan diri, atau berkompetisi dengan sesamanya.

Meskipun bentuk tubuhnya kerap dibandingkan dengan babi besar yang mempunyai paruh kura-kura, perbandingan itu hanya membantu masyarakat membayangkan penampilannya.

Secara ilmiah, dicynodont merupakan kelompok hewan tersendiri yang tidak berkerabat dekat dengan babi maupun kura-kura.

Fosil Ditemukan dalam Ekspedisi Tahun 1963

Fosil tersebut berasal dari ekspedisi Inggris ke wilayah yang kini menjadi Tanzania pada 1963.

Ekspedisi itu mengumpulkan banyak fosil synapsida dari lapisan batuan Manda Beds. Material tersebut kemudian dibawa ke Natural History Museum di London untuk disimpan dan diteliti.

Besarnya koleksi membuat tidak seluruh spesimen dapat diperiksa secara lengkap. Sebagian fosil hanya mendapat penelitian awal, sedangkan lainnya tersimpan selama beberapa dekade.

Spesimen yang akhirnya ditetapkan sebagai Dinodontosaurus isiyavamanda berupa kerangka terkait yang belum pernah dideskripsikan secara lengkap.

Peneliti juga membandingkan kerangka tersebut dengan fragmen tengkorak lain yang ditemukan lebih baru. Pemeriksaan anatomi menunjukkan keduanya berasal dari genus Dinodontosaurus.

Namun, karakteristik tulangnya berbeda dari seluruh spesies yang telah dikenal. Karena itu, tim menetapkannya sebagai spesies baru.

Sudah Diduga sebagai Spesies Baru sejak 1994

Paleontolog Nigel Larkin mempelajari salah satu kerangka tersebut ketika menyusun tesis magister di University College London pada 1994.

Saat itu, Larkin menduga spesimen tersebut merupakan spesies yang belum pernah dikenal ilmu pengetahuan. Namun, penelitian lengkap baru dimulai hampir tiga dekade kemudian.

“Saya menilai kerangka dicynodont itu sebagai spesies baru, tetapi hampir 30 tahun berlalu sebelum penulisannya dimulai,” kata Larkin.

Perkembangan teknologi membantu tim menganalisis fosil secara lebih terperinci. Teknik pemindaian mikro-CT memungkinkan peneliti memeriksa struktur tulang tanpa merusak spesimen.

Kolaborasi internasional juga mempertemukan ahli anatomi, geologi, evolusi, dan paleontologi dari berbagai lembaga.

Menurut Larkin, kemajuan teknologi memungkinkan peneliti melakukan pemeriksaan yang sulit dibayangkan ketika ia mempelajari fosil itu pada 1990-an.

Nama Menghormati Masyarakat Wamanda

Tim penelitian memberikan nama Dinodontosaurus isiyavamanda kepada spesies tersebut.

Nama isiyavamanda merujuk pada tanah masyarakat Wamanda yang mendiami kawasan Tanzania tempat fosil ditemukan.

Pemberian nama itu menghubungkan spesies dengan wilayah asalnya. Penamaan lokal juga menjadi bentuk pengakuan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan fosil.

Sebelumnya, genus Dinodontosaurus hanya diketahui melalui fosil dari Amerika Selatan. Spesimen Tanzania menjadi catatan pertama yang terkonfirmasi di luar benua tersebut.

“Penemuan kami menjadi catatan pertama genus Dinodontosaurus di luar Amerika Selatan,” ujar pemimpin penelitian Hady George.

Hubungkan Tanzania dengan Amerika Selatan

Keberadaan genus yang sama di Tanzania dan Amerika Selatan memberikan petunjuk penting mengenai hubungan lapisan batuan kedua wilayah.

Sekitar 240 juta tahun lalu, benua-benua modern masih tergabung dalam superbenua Pangaea. Afrika dan Amerika Selatan belum dipisahkan oleh Samudra Atlantik.

Hewan darat dapat tersebar melewati wilayah yang kini berada pada benua berbeda. Karena itu, kesamaan fosil membantu ilmuwan mencocokkan usia lapisan batuan dari berbagai negara.

Fosil Dinodontosaurus menunjukkan bahwa Manda Beds di Tanzania kemungkinan berusia sama dengan lapisan batuan tertentu di Amerika Selatan.

Penanggalan radiometrik terbaru di Amerika Selatan menunjukkan lapisan tersebut lebih muda hingga sekitar 10 juta tahun dibandingkan batuan di Afrika Selatan yang sebelumnya dianggap seusia.

Kesimpulan itu berdampak langsung terhadap perdebatan mengenai asal-usul dinosaurus.

Usia Calon Dinosaurus Tertua Perlu Ditinjau Ulang

Manda Beds juga menghasilkan fosil Nyasasaurus dan Asilisaurus. Keduanya kerap dibahas dalam penelitian tentang tahap awal evolusi dinosaurus.

Nyasasaurus pernah dianggap sebagai salah satu kandidat dinosaurus tertua. Sementara itu, Asilisaurus termasuk silesaur, kelompok yang sangat dekat dengan dinosaurus.

Sebelumnya, lapisan batuan Tanzania dianggap berusia sama dengan batuan Trias Tengah di Afrika Selatan. Anggapan tersebut membuat fosil dari Tanzania terlihat sangat tua.

Namun, keberadaan Dinodontosaurus menghubungkan Manda Beds dengan lapisan Amerika Selatan yang lebih muda.

Hasil itu menunjukkan calon dinosaurus dari Tanzania mungkin tidak lebih tua daripada fosil serupa di Amerika Selatan.

“Temuan ini membantu memastikan kandidat dinosaurus tertua Tanzania mungkin tidak lebih tua dari temuan Amerika Selatan,” kata George.

Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa fosil Tanzania bukan dinosaurus. Temuan ini terutama memperbaiki perkiraan usia lapisan batuan dan urutan kemunculan dinosaurus.

Koleksi Museum Menyimpan Penemuan Penting

Kisah Dinodontosaurus isiyavamanda menunjukkan bahwa penemuan spesies baru tidak selalu dimulai dari penggalian terbaru.

Museum di seluruh dunia menyimpan jutaan spesimen yang belum diteliti secara lengkap. Sebagian dikumpulkan ketika teknologi dan pengetahuan ilmiah masih terbatas.

Penelitian ulang dapat menemukan karakteristik yang sebelumnya terlewat. Pemindaian digital juga memungkinkan ilmuwan memeriksa struktur internal fosil tanpa membelah tulangnya.

Mike Day, kurator tetrapoda nonmamalia di Natural History Museum London, mengatakan spesimen Tanzania telah dirawat lembaganya selama lebih dari 60 tahun.

“Meneliti kembali koleksi museum dapat mengubah pemahaman masa lalu sebesar penemuan fosil baru di lapangan,” ujar Day.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya perawatan koleksi. Fosil yang belum teridentifikasi hari ini dapat menjawab pertanyaan besar ketika dianalisis dengan teknologi masa depan.

Masih Banyak Fosil yang Belum Diteliti

Sebagian besar material Dinodontosaurus dari Tanzania belum diperiksa secara mendalam. Penelitian awal lebih banyak membahas tengkorak serta rahang.

Tim berikutnya akan mempelajari tulang di bagian belakang kepala atau kerangka postkranial. Bagian itu mencakup tulang belakang, bahu, lengan, panggul, dan kaki.

Analisis tersebut dapat mengungkap cara hewan berdiri dan berjalan. Peneliti juga ingin memahami kemampuan menggali, mencari makanan, serta menggunakan taringnya.

Perbandingan dengan fosil Amerika Selatan dapat menunjukkan perbedaan bentuk tubuh antarpopulasi.

Tim juga berencana mempelajari biomekanika dicynodont. Penelitian itu diharapkan menjelaskan bagaimana beberapa spesies herbivor bertubuh besar dapat hidup berdampingan dalam ekosistem Trias.

Mereka mungkin memakan jenis tumbuhan berbeda atau mencari makanan pada ketinggian yang tidak sama. Perbedaan perilaku dapat mengurangi persaingan antarspesies.

Bukan Dinosaurus, tetapi Penting bagi Sejarahnya

Dinodontosaurus isiyavamanda tidak termasuk dinosaurus. Namun, keberadaannya membantu ilmuwan menentukan usia batuan yang menyimpan fosil kerabat awal dinosaurus.

Fungsi tersebut dikenal sebagai biostratigrafi. Fosil dengan persebaran serta rentang waktu tertentu digunakan untuk mencocokkan usia relatif lapisan batuan.

Semakin tepat identitas fosil, semakin akurat perbandingan antara lokasi yang berbeda.

Penemuan ini juga menggambarkan kehidupan sebelum dinosaurus menjadi kelompok dominan. Dicynodont termasuk herbivor penting yang mengisi banyak ekosistem darat.

Mereka hidup melewati perubahan lingkungan besar dan menyebar ke berbagai bagian Pangaea.

Karena itu, spesies hewan purba Tanzania ini tidak hanya menarik karena penampilannya. Fosilnya menjadi petunjuk untuk memahami hubungan benua, umur batuan, dan awal evolusi dinosaurus.

Fosil Lama Membuka Sejarah Baru

Identifikasi Dinodontosaurus isiyavamanda membutuhkan waktu lebih dari enam dekade sejak fosil dikumpulkan.

Penelitian tersebut membuktikan bahwa nilai sebuah spesimen tidak berakhir setelah dipindahkan ke museum. Fosil dapat terus menghasilkan pengetahuan ketika metode ilmiah berkembang.

Temuan ini memperluas persebaran Dinodontosaurus dari Amerika Selatan hingga Afrika Timur. Pada saat yang sama, spesies tersebut membantu mengoreksi perkiraan usia situs fosil Tanzania.

Spesies hewan purba Tanzania berusia sekitar 240 juta tahun itu akhirnya memperoleh nama dan tempat dalam pohon evolusi.

Penelitian berikutnya diharapkan mengungkap bentuk tubuh, cara bergerak, serta perannya dalam ekosistem Trias yang dihuni kerabat awal dinosaurus dan mamalia.