PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Kawah McGetchin Ditemukan di Bulan, Lebih Lebar dari Colosseum Roma

WASHINGTON – Kawah baru Bulan McGetchin ditemukan melalui citra Lunar Reconnaissance Orbiter atau LRO. Kawah yang terbentuk akibat tumbukan asteroid atau pecahan komet itu memiliki diameter sekitar 222 meter dan kedalaman mencapai 43 meter.

Diameter tersebut lebih besar daripada lebar Colosseum Roma yang mencapai sekitar 188 meter. Para ilmuwan menyebut McGetchin sebagai kawah tumbukan terbesar yang diketahui terbentuk pada masa modern di tata surya.

Tumbukan diperkirakan terjadi antara 11 April dan 22 Mei 2024. Namun, peristiwa tersebut tidak terdeteksi secara langsung oleh teleskop di Bumi maupun instrumen pengamatan luar angkasa.

Kawah baru diketahui setelah peneliti membandingkan rangkaian foto permukaan Bulan. Hasil penelitian mengenai kawah tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada 16 September 2026.

Kawah Baru Bulan McGetchin Terungkap dari Citra LRO

Wahana Lunar Reconnaissance Orbiter telah mengelilingi Bulan sejak 2009. Wahana tersebut mengambil foto permukaan Bulan secara berkala sehingga ilmuwan dapat membandingkan perubahan dari waktu ke waktu.

Pada 2025, peneliti menemukan perubahan besar ketika membandingkan rangkaian citra kamera sudut lebar LRO. Sebuah kawah yang tidak terlihat dalam foto sebelumnya tiba-tiba muncul pada gambar yang lebih baru.

Robert Wagner, ilmuwan LRO, pertama kali mengenali kawah tersebut ketika melakukan pemeriksaan rutin terhadap kualitas data pada Oktober 2025.

Tim kemudian menggunakan kamera sudut sempit LRO untuk mengambil gambar dengan resolusi lebih tinggi. Foto terperinci yang diperoleh pada Desember 2025 membantu peneliti mengukur diameter, kedalaman, serta material yang terlontar akibat tumbukan.

Konfirmasi ilmiah dilakukan setelah peneliti memeriksa foto sebelum dan sesudah tumbukan. Data itu mempersempit perkiraan waktu pembentukan kawah menjadi periode antara April dan Mei 2024.

Tumbukan Lolos dari Pengamatan Langsung

Objek yang menghantam Bulan diperkirakan berupa asteroid kecil atau pecahan komet. Ukurannya kemungkinan setara dengan bangunan bertingkat tiga hingga enam lantai.

Walaupun menghasilkan kawah sangat besar, tumbukan tersebut tidak diketahui ketika sedang terjadi. Tidak ada teleskop yang berhasil merekam kilatan tumbukan secara langsung.

Bulan tidak mempunyai jaringan alat pemantau permukaan seperti Bumi. Selain itu, luasnya permukaan Bulan membuat tidak semua tumbukan dapat diamati secara langsung.

Penemuan baru terjadi ketika ilmuwan memeriksa banyak foto yang dikumpulkan LRO. Kondisi itu menunjukkan pentingnya arsip citra jangka panjang dalam penelitian Bulan.

Foto sebelum tumbukan berfungsi sebagai pembanding. Sementara itu, foto setelah tumbukan memperlihatkan bentuk kawah dan perubahan yang terjadi di wilayah sekitarnya.

Lebih Lebar dari Colosseum Roma

Kawah McGetchin mempunyai diameter sekitar 222 meter. Sebagai perbandingan, Colosseum di Roma memiliki panjang sekitar 189 meter dan lebar kurang lebih 156 meter.

Artinya, diameter kawah lebih besar daripada sisi terpanjang bangunan bersejarah tersebut. Kedalamannya yang mencapai 43 meter juga hampir menyamai tinggi gedung bertingkat belasan lantai.

Meski demikian, McGetchin bukan kawah terbesar di Bulan. Permukaan satelit Bumi tersebut memiliki kawah purba yang ukurannya mencapai ratusan hingga ribuan kilometer.

Keistimewaan McGetchin terletak pada usianya yang sangat muda. Kawah itu menjadi kawah terbesar yang diketahui terbentuk dalam periode pengamatan modern.

Ukurannya tiga kali lebih besar dibandingkan pemegang rekor sebelumnya yang ditemukan melalui pengamatan LRO sekitar satu dekade lalu.

Peristiwa Sekali dalam 132 Tahun

Model ilmiah memperkirakan tumbukan yang menghasilkan kawah sebesar McGetchin terjadi di Bulan sekitar sekali dalam 132 tahun.

Para peneliti menggambarkannya sebagai kesempatan pengamatan yang sangat langka. Mereka dapat mempelajari sebuah kawah besar ketika bentuk dan material lontarannya masih relatif baru.

“Peristiwa ini merupakan pengamatan langka secara statistik dan praktis hanya terjadi sekali seumur hidup,” tulis peneliti dalam kajiannya.

Kawah yang sangat tua telah mengalami banyak perubahan akibat tumbukan kecil dan paparan lingkungan luar angkasa. Sebaliknya, kondisi McGetchin masih menunjukkan proses tumbukan dengan lebih jelas.

Data tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki model mengenai pembentukan kawah. Peneliti juga dapat mempelajari hubungan antara ukuran objek, kecepatan tumbukan, dan diameter kawah yang dihasilkan.

Material Tumbukan Menyebar Sangat Jauh

Dampak tumbukan tidak berhenti pada lubang selebar 222 meter. Debu, batuan, dan material permukaan terlontar hingga jarak yang sangat jauh.

Penelitian menunjukkan perubahan permukaan dapat dilacak hingga lebih dari 1.000 kali radius kawah. Jejak material tumbukan terlihat pada wilayah yang membentang lebih dari 100 kilometer.

Batuan dan debu terlempar pada sudut yang lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya. Temuan tersebut memberikan data baru mengenai mekanisme tumbukan di lingkungan dengan gravitasi rendah.

Bulan hanya memiliki gravitasi sekitar seperenam gravitasi Bumi. Material yang terlontar dapat bergerak lebih jauh sebelum kembali jatuh ke permukaan.

Kondisi itu perlu diperhitungkan dalam perencanaan misi Bulan. Tumbukan yang terjadi jauh dari pangkalan tetap dapat mengirimkan material menuju fasilitas manusia.

Muncul Titik Dingin Selebar Tujuh Kilometer

Instrumen Diviner pada LRO menemukan anomali suhu di sekitar kawah. Wilayah selebar kurang lebih tujuh kilometer tercatat lebih dingin dibandingkan area sekitarnya pada malam Bulan.

Suhunya sekitar 8 hingga 9 kelvin lebih rendah daripada lingkungan di sekelilingnya. Perbedaan tersebut diperkirakan terjadi karena tumbukan menggemburkan lapisan atas tanah Bulan atau regolit.

Tanah yang lebih renggang tidak mampu menyimpan panas sebaik lapisan yang lebih padat. Akibatnya, area tersebut mendingin lebih cepat ketika tidak terkena cahaya Matahari.

David Paige dari University of California, Los Angeles, membandingkan proses tersebut dengan kegiatan berkebun.

“Kami melihat tumbukan sebagai cara untuk menggemburkan regolit dan membawa material bawah ke permukaan,” kata Paige.

Data suhu memberikan cara lain untuk mempelajari dampak tumbukan. Perubahan tidak hanya dapat dilihat melalui foto, tetapi juga diukur melalui karakteristik termal permukaan.

Jejak Kaki Astronaut Tidak Akan Abadi

Permukaan Bulan sering dianggap tidak berubah karena tidak memiliki hujan, sungai, dan angin seperti Bumi. Namun, tumbukan meteorit terus mengubah lapisan tanahnya.

Pengamatan LRO menunjukkan material lontaran dapat membalik lapisan regolit paling atas. Proses itu secara bertahap menghapus jejak yang ditinggalkan di permukaan.

Mark Robinson, ilmuwan utama kamera LRO, memperkirakan lapisan tanah sedalam sekitar dua sentimeter mengalami perombakan setiap 80.000 tahun.

Perkiraan tersebut lebih cepat daripada pandangan sebelumnya. Artinya, jejak kaki astronaut Apollo tidak akan bertahan selamanya.

Robinson mengatakan jejak tersebut “pasti sudah lama hilang” dalam rentang waktu itu. Perubahannya berlangsung lambat jika dibandingkan dengan umur manusia, tetapi cepat dalam skala geologi Bulan.

Dinamai untuk Menghormati Ilmuwan Bulan

Kawah tersebut diberi nama McGetchin untuk menghormati Thomas McGetchin. Ia merupakan ilmuwan Bulan pada era program Apollo dan pernah menjabat sebagai direktur Lunar and Planetary Institute di Houston.

Nama itu dipilih untuk mengenang kontribusinya terhadap ilmu keplanetan. McGetchin banyak meneliti kawah tumbukan, struktur planet, dan sejarah geologi Bulan.

Penamaan tersebut juga menghubungkan penemuan modern dengan periode awal eksplorasi Bulan. Program Apollo memberikan sampel serta data yang menjadi dasar banyak penelitian lunar hingga saat ini.

Meski sudah disebut McGetchin dalam penelitian, penetapan nama objek di permukaan planet umumnya mengikuti prosedur resmi melalui International Astronomical Union.

Penting bagi Pembangunan Pangkalan Bulan

Penemuan kawah baru Bulan McGetchin memberikan informasi penting bagi rencana pembangunan fasilitas manusia.

Debu dan batuan yang terlontar dapat membahayakan habitat, panel surya, kendaraan, instrumen, serta sistem komunikasi. Material berkecepatan tinggi berpotensi menyebabkan kerusakan meskipun tumbukan terjadi jauh dari pangkalan.

Peneliti akan menghitung kemungkinan material lontaran mencapai wilayah yang direncanakan sebagai lokasi pendaratan atau pembangunan fasilitas.

“Informasi itu akan membantu para insinyur memperkuat struktur sehingga risiko kerusakan dapat dikurangi,” ujar Robinson.

Data tersebut dapat membantu perancang menentukan ketebalan pelindung dan posisi fasilitas. Para insinyur juga dapat mengembangkan sistem peringatan serta prosedur keselamatan untuk menghadapi tumbukan.

Membuka Pemahaman Baru tentang Bulan

McGetchin menawarkan kesempatan langka untuk mempelajari sebuah kawah ketika kondisinya masih baru. Peneliti memiliki foto sebelum tumbukan, citra setelah kejadian, pengukuran kedalaman, serta data suhu.

Gabungan informasi tersebut membantu ilmuwan memahami proses yang terjadi sejak objek menghantam permukaan hingga materialnya menyebar.

Penemuan juga memperlihatkan bahwa Bulan bukan dunia yang sepenuhnya diam. Permukaannya terus berubah karena dihantam batuan luar angkasa.

Kawah baru Bulan McGetchin kini menjadi laboratorium alami bagi ilmu keplanetan. Selain mengungkap proses pembentukan kawah, penemuan itu akan membantu meningkatkan keselamatan manusia dalam eksplorasi Bulan pada masa depan.