PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

68 Persen Ahli IT Waspadai Kesalahan Manusia, Ancaman Siber Kini Tak Hanya Datang dari Hacker

PANDUTEKNO.ID, JAKARTA – Kesalahan manusia dalam keamanan siber menjadi perhatian utama para profesional teknologi informasi di seluruh dunia. Survei terbaru perusahaan keamanan dan manajemen IT, Kaseya, mengungkap bahwa 68 persen responden menilai faktor manusia sebagai ancaman serangan siber yang paling mengkhawatirkan dalam 12 bulan mendatang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ancaman digital tidak hanya berasal dari malware, peretasan server, atau celah perangkat lunak.

Kesalahan pengguna, penipuan melalui rekayasa sosial, serta kurangnya pelatihan keamanan juga menjadi persoalan besar bagi perusahaan.

Laporan bertajuk Cybersecurity Report: Building Security That Survives Human Error dirilis Kaseya pada 6 Oktober 2026.

Penelitian tersebut melibatkan 1.132 penyedia layanan IT terkelola atau managed service provider (MSP) dan profesional teknologi informasi dari lebih dari 60 negara.

Kesalahan Manusia Jadi Ancaman Siber Paling Dikhawatirkan

Berdasarkan hasil survei Kaseya, sebanyak 68 persen responden menyebut kesalahan manusia sebagai vektor serangan yang paling mereka khawatirkan selama satu tahun ke depan.

Faktor tersebut mencakup kelalaian pengguna, gangguan konsentrasi, hingga manipulasi psikologis melalui teknik social engineering.

Sementara itu, 55 persen responden mengkhawatirkan ancaman yang masuk melalui email.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa serangan terhadap pengguna masih menjadi perhatian besar di tengah meningkatnya investasi teknologi keamanan.

Namun, hasil survei ini merupakan penilaian risiko dari para responden.

Angka 68 persen bukan berarti 68 persen dari seluruh serangan siber di dunia disebabkan oleh kesalahan manusia.

Kaseya: Sistem Keamanan Harus Mampu Menghadapi Kesalahan Pengguna

Senior Vice President dan General Manager Security Suite Kaseya, David Baggett, menilai perusahaan perlu mengubah cara menghadapi risiko keamanan digital.

Menurutnya, organisasi tidak bisa terus bergantung pada asumsi bahwa seluruh pengguna akan selalu mengambil keputusan yang benar.

“People aren’t perfect, and everyone knows it,” ujar Baggett dalam siaran pers resmi Kaseya.

Pernyataan tersebut berarti manusia tidak sempurna dan kenyataan itu sudah dipahami secara luas.

Baggett menekankan bahwa ketahanan siber harus dibangun dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kesalahan.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya berusaha mencegah kekeliruan pengguna.

Perusahaan juga perlu memastikan bahwa satu kesalahan tidak langsung berkembang menjadi insiden keamanan yang lebih besar.

Praktik Pengguna Buruk dan Minim Pelatihan Jadi Sorotan

Survei Kaseya juga meneliti faktor yang berkontribusi terhadap insiden keamanan pada organisasi yang mengalami serangan dalam tiga tahun terakhir.

Hasilnya, empat dari lima faktor penyebab utama berkaitan dengan perilaku manusia.

Sebanyak 41 persen responden dalam kelompok terkait menyoroti praktik pengguna yang buruk atau kecenderungan mudah tertipu.

Sementara itu, 40 persen menyebut kurangnya pelatihan keamanan siber bagi pengguna akhir.

Kondisi tersebut dapat terlihat dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Contohnya adalah penggunaan kata sandi lemah, membuka lampiran mencurigakan, atau memberikan informasi sensitif kepada pihak yang tidak berwenang.

Karena itu, kesalahan manusia dalam keamanan siber perlu ditangani melalui kombinasi edukasi dan perlindungan teknologi.

Phishing dan Rekayasa Sosial Masih Mengancam

Salah satu ancaman yang berkaitan erat dengan faktor manusia adalah phishing.

Dalam serangan phishing, pelaku berusaha mengelabui korban melalui pesan atau situs yang menyerupai layanan resmi.

Tujuannya dapat berupa pencurian kata sandi, pengambilalihan akun, atau penyalahgunaan informasi pribadi.

Rekayasa sosial juga dapat dilakukan melalui telepon, aplikasi percakapan, dan media sosial.

Pelaku biasanya memanfaatkan rasa takut, kepanikan, atau kepercayaan korban.

Misalnya, seseorang menerima pesan yang mengaku berasal dari bank dan meminta kode OTP untuk menghindari pemblokiran rekening.

Jika korban mengikuti instruksi tersebut, informasi yang diberikan dapat disalahgunakan.

Ancaman semacam ini memperlihatkan pentingnya verifikasi identitas dan prosedur keamanan yang mudah dipahami.

Sebanyak 77 Persen Tim IT Mengaku Kekurangan Sumber Daya

Selain faktor manusia, laporan Kaseya menemukan persoalan lain yang memengaruhi kesiapan organisasi menghadapi ancaman siber.

Sebanyak 77 persen departemen IT yang disurvei menyatakan bahwa sumber daya mereka belum memadai untuk menghadapi risiko yang terus berkembang.

Sementara itu, hanya 20 persen yang menyebut pertumbuhan anggaran keamanan siber sudah sejalan dengan peningkatan ancaman.

Keterbatasan tersebut dapat memengaruhi kemampuan perusahaan memperbarui sistem, melakukan pelatihan, dan merespons insiden.

Tim keamanan juga harus membagi waktu antara menangani gangguan operasional dan menjalankan langkah pencegahan.

Akibatnya, pekerjaan yang bersifat mendesak dapat mengurangi perhatian terhadap perencanaan keamanan jangka panjang.

Lulus Audit Belum Tentu Berarti Aman

Kaseya juga menemukan bahwa sekitar 65 persen responden merasa organisasi mereka dapat lolos audit kepatuhan tanpa persiapan tambahan.

Namun, keyakinan tersebut tidak selalu mencerminkan kesiapan operasional secara menyeluruh.

Sebanyak 49 persen responden mengkhawatirkan dokumentasi atau kebijakan yang belum lengkap.

Kemudian, 34 persen menyoroti kontrol keamanan yang belum diterapkan sepenuhnya.

Adapun 33 persen mengkhawatirkan kurangnya kesadaran atau pelatihan keamanan bagi karyawan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan administratif perlu disertai penerapan keamanan secara konsisten.

Perusahaan tidak cukup hanya memiliki kebijakan tertulis.

Aturan tersebut juga harus dipahami dan dijalankan oleh seluruh pihak yang terlibat.

Pelatihan Karyawan Jadi Bagian Penting Pertahanan Siber

Mengurangi risiko kesalahan manusia dalam keamanan siber membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan.

Pelatihan keamanan sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika karyawan pertama kali bergabung.

Perusahaan perlu memberikan pembaruan mengenai modus penipuan, pengelolaan kata sandi, serta perlindungan informasi sensitif.

Simulasi phishing juga dapat membantu karyawan mengenali pesan mencurigakan.

Selain itu, organisasi dapat menerapkan autentikasi multifaktor dan membatasi akses sesuai kebutuhan pekerjaan.

Pembaruan perangkat lunak, pencadangan data, dan pemantauan aktivitas tidak biasa juga menjadi bagian penting dari perlindungan.

Tujuannya bukan menyalahkan pengguna ketika terjadi kesalahan, melainkan mengurangi kemungkinan kesalahan tersebut menimbulkan kerugian besar.

Pengujian Respons Insiden Masih Perlu Ditingkatkan

Dalam laporan yang sama, Kaseya membandingkan praktik keamanan penyedia layanan IT dengan kinerja bisnis berbeda.

Hampir 30 persen MSP berkinerja tinggi menguji rencana respons insiden pelanggan setiap tiga bulan.

Sebaliknya, pada kelompok berkinerja rendah, angkanya sekitar 18 persen.

Pengujian berkala membantu organisasi mengetahui apakah prosedur yang telah disusun dapat dijalankan ketika insiden benar-benar terjadi.

Selain itu, latihan dapat memperjelas tanggung jawab masing-masing tim.

Perusahaan juga dapat menemukan kelemahan dalam proses komunikasi dan pemulihan layanan.

Namun, hubungan antara pengujian rutin dan kinerja bisnis dalam survei tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa pengujian menjadi satu-satunya penyebab keberhasilan perusahaan.

Apa Dampaknya bagi Perusahaan di Indonesia?

Hasil survei Kaseya memberikan pelajaran bagi perusahaan Indonesia yang semakin bergantung pada layanan digital.

Bisnis perbankan, perdagangan elektronik, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik mengelola berbagai informasi penting.

Kebocoran data atau pengambilalihan akun dapat mengganggu operasional dan menurunkan kepercayaan pelanggan.

Karena itu, organisasi perlu membangun budaya keamanan yang melibatkan seluruh karyawan.

Perusahaan kecil dan menengah juga dapat memulai dari langkah sederhana, seperti penggunaan autentikasi multifaktor dan pencadangan data.

Penting untuk dicatat bahwa survei Kaseya bersifat internasional.

Laporan tersebut tidak secara khusus menyatakan bahwa 68 persen profesional IT Indonesia memiliki pandangan yang sama.

Kesimpulan

Kesalahan manusia dalam keamanan siber menjadi ancaman yang paling dikhawatirkan menurut 68 persen responden survei Kaseya 2026.

Penelitian terhadap 1.132 profesional IT dan MSP dari lebih dari 60 negara menunjukkan bahwa perilaku pengguna dan kurangnya pelatihan masih menjadi tantangan utama.

Selain itu, keterbatasan anggaran dan sumber daya membuat organisasi semakin sulit menjaga keamanan digital.

Kaseya menekankan pentingnya membangun sistem yang tetap mampu bertahan ketika kesalahan manusia terjadi.

Dengan menggabungkan pelatihan, perlindungan teknologi, serta pengujian respons insiden, perusahaan dapat meningkatkan ketahanan terhadap ancaman siber yang terus berkembang.