PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Open Cosmos Bangun 192 Satelit LEO, Jaringan Baru Eropa Siap Sambungkan Dunia dari Orbit

LONDON, pandutekno.id – Satelit LEO Open Cosmos bakal menjadi bagian dari jaringan komunikasi antariksa baru bernama ConnectedCosmos. Perusahaan teknologi antariksa Eropa itu mengungkap sebanyak 192 satelit orbit rendah Bumi atau low Earth orbit (LEO) akan menjadi fondasi utama jaringan tersebut.

Open Cosmos menargetkan lebih dari 96 satelit sudah berada di orbit pada akhir 2028. Setelah itu, perusahaan membidik cakupan global pada 2030.

Peluncuran ConnectedCosmos berikutnya juga direncanakan berlangsung sebelum akhir 2026.

Langkah tersebut semakin meramaikan persaingan industri konektivitas satelit orbit rendah yang saat ini telah diisi berbagai pemain global.

Satelit LEO Open Cosmos Berjumlah 192 Unit

Open Cosmos mengumumkan pada 5 Oktober 2026 bahwa 192 satelit akan menjadi tulang punggung konektivitas ConnectedCosmos.

Namun angka tersebut bukan batas akhir jaringan.

CEO dan pendiri Open Cosmos Rafel Jordà Siquier mengatakan:

“The 192 satellites are the foundation, not the ceiling.”

Artinya, 192 satelit merupakan fondasi awal dan jumlahnya masih dapat diperbesar mengikuti kebutuhan pelanggan.

Open Cosmos mengatakan kapasitas jaringan dapat ditingkatkan ketika pemerintah dan mitra membutuhkan layanan yang lebih besar.

Lebih dari 96 Satelit Ditargetkan Mengorbit pada 2028

Pembangunan satelit LEO Open Cosmos akan dilakukan secara bertahap.

Target perusahaan adalah memiliki lebih dari 96 satelit di orbit pada akhir 2028.

Jaringan kemudian diarahkan untuk mencapai cakupan global pada 2030.

Open Cosmos juga sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan beberapa penyedia layanan peluncuran untuk misi tambahan antara akhir 2026 hingga pertengahan 2027.

Dengan demikian, perusahaan tidak berencana mengirim seluruh 192 satelit dalam satu peluncuran.

ConnectedCosmos Bukan Sekadar Internet Satelit

ConnectedCosmos memiliki fungsi yang lebih luas daripada layanan internet satelit untuk konsumen.

Jaringan tersebut dirancang terutama untuk pemerintah, institusi dan pelanggan komersial yang membutuhkan konektivitas aman dan tangguh serta kontrol yang jelas terhadap data penting mereka.

Open Cosmos juga menawarkan broadband satelit dan konektivitas Internet of Things (IoT) melalui jaringan tersebut.

Perusahaan ingin menjadikannya alternatif Eropa untuk infrastruktur komunikasi berbasis satelit yang sudah tersedia.

Data Bisa Dikirim Langsung Antarsatelit

Salah satu teknologi penting ConnectedCosmos adalah Optical Inter-Satellite Links atau O-ISL.

Teknologi tersebut memungkinkan data dikirim langsung dari satu satelit menuju satelit lainnya.

Dengan arsitektur itu, jaringan dapat mengurangi ketergantungan terhadap stasiun bumi dan kabel bawah laut untuk bagian tertentu dari perjalanan data.

Open Cosmos mengatakan jaringan dapat membawa data dalam jumlah besar, termasuk citra mentah, aliran video hingga salinan basis data besar.

Teknologi tersebut menjadi penting ketika infrastruktur komunikasi di darat mengalami gangguan.

Tetap Beroperasi Saat GNSS Terganggu

ConnectedCosmos juga dirancang untuk lingkungan ketika sinyal Global Navigation Satellite System (GNSS) mengalami gangguan atau jamming.

Kemampuan seperti ini membuat jaringan satelit relevan untuk komunikasi kritis.

Open Cosmos menyebut ancaman jamming dan serangan siber sebagai salah satu alasan jaringan komunikasi antariksa yang tangguh semakin dibutuhkan.

Sistem tersebut terutama diarahkan untuk operasi yang membutuhkan tingkat ketahanan dan keamanan tinggi.

Satelit Komunikasi Dipadukan dengan Observasi Bumi

Hal menarik lainnya adalah Open Cosmos tidak memisahkan telekomunikasi dan observasi Bumi menjadi dua sistem yang sepenuhnya berbeda.

ConnectedCosmos akan berfungsi sebagai lapisan transportasi data bagi satelit observasi Bumi yang dioperasikan melalui misi pelanggan dan sistem OpenConstellation.

Sebagai contoh, satelit observasi dapat mengumpulkan citra dari suatu wilayah.

Data tersebut kemudian dapat diteruskan melalui jaringan ConnectedCosmos sehingga informasi dapat sampai kepada pengguna lebih cepat.

Pendekatan ini memungkinkan satu ekosistem satelit melakukan observasi sekaligus mendistribusikan data.

Open Cosmos Siapkan Produksi Satu Satelit per Hari

Ambisi membangun ratusan satelit membutuhkan kapasitas produksi besar.

Open Cosmos mengklaim fasilitas manufakturnya di Eropa memiliki kemampuan untuk menghasilkan hingga satu satelit per hari.

Perusahaan memiliki operasi di Inggris, Spanyol, Portugal dan Yunani.

Kemampuan produksi tersebut akan menjadi salah satu faktor penting apabila Open Cosmos ingin mengejar target lebih dari 96 satelit pada akhir 2028.

Dapat Suntikan Dana €300 Juta

Ekspansi tersebut didukung pendanaan besar.

Pada September 2026, Open Cosmos mengumumkan telah mendapatkan pendanaan sebesar €300 juta.

Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan produksi satelit secara massal sekaligus mempercepat ekspansi ConnectedCosmos, OpenConstellation dan DataCosmos.

Putaran pendanaan dipimpin investor Eropa dan melibatkan Lightrock, ETF Partners, Institut Català de Finances, Entrepreneurs First serta sejumlah investor lainnya.

Open Cosmos juga mengatakan telah menandatangani kontrak pelanggan bernilai lebih dari US$370 juta dalam tiga setengah tahun terakhir.

Eropa Cari Alternatif Infrastruktur Satelit

ConnectedCosmos juga mempunyai dimensi strategis bagi Eropa.

Open Cosmos memposisikan jaringannya sebagai alternatif Eropa yang dapat memberikan kendali lebih besar atas infrastruktur dan data penting.

CEO Rafel Jordà Siquier mengatakan kepada The Times bahwa kebutuhan mengurangi ketergantungan terhadap sistem luar Eropa semakin besar.

“There is a big need in Europe to avoid dependency on SpaceX and on Amazon.”

Open Cosmos ingin menawarkan alternatif bagi negara yang tidak ingin seluruh infrastruktur kritis mereka bergantung pada sistem Amerika Serikat maupun China.

Bisakah Menjadi Pesaing Starlink?

ConnectedCosmos memang memasuki industri yang juga dihuni Starlink, tetapi model bisnis keduanya tidak identik.

Starlink memiliki skala konstelasi yang jauh lebih besar dan menyediakan broadband kepada konsumen, perusahaan serta pemerintah.

Sementara Open Cosmos saat ini menekankan komunikasi aman, broadband, IoT, observasi Bumi dan kebutuhan pemerintah maupun perusahaan.

Karena itu, lebih akurat menyebut Open Cosmos sebagai pesaing baru di pasar konektivitas satelit LEO, bukan mengatakan layanan tersebut merupakan pengganti langsung Starlink.

Spektrum Bisa Mendukung Ekspansi Lebih Besar

Open Cosmos juga memiliki modal penting berupa akses spektrum.

The Times melaporkan perusahaan memenangkan akses terhadap pengajuan spektrum Ka-band Liechtenstein pada Januari 2026.

Hak spektrum tersebut berpotensi memungkinkan konstelasi diperluas hingga 576 satelit.

Namun rencana yang sudah diumumkan sekarang tetap menggunakan 192 satelit sebagai fondasi ConnectedCosmos.

Jadi angka 576 tidak boleh ditulis seolah-olah seluruh satelit tersebut sudah dipesan atau dipastikan akan diluncurkan.

Tantangan Besar Ada pada Roket

Membangun satelit hanyalah satu bagian dari proyek.

Seluruh satelit tersebut tetap membutuhkan roket untuk mencapai orbit.

Siquier mengakui ketersediaan kapasitas peluncuran merupakan persoalan besar bagi industri antariksa.

Open Cosmos saat ini sedang berdiskusi dengan beberapa operator peluncuran untuk misi antara akhir 2026 dan pertengahan 2027.

Kemampuan mendapatkan jadwal roket secara konsisten akan menjadi salah satu faktor penentu apakah target 2028 dan 2030 dapat dicapai.

Satelit LEO Open Cosmos Siap Ramaikan Orbit

Rencana satelit LEO Open Cosmos menunjukkan persaingan konektivitas dari luar angkasa semakin ramai.

Sebanyak 192 satelit akan menjadi fondasi ConnectedCosmos. Lebih dari 96 unit ditargetkan berada di orbit pada akhir 2028, sedangkan cakupan global dibidik pada 2030.

Open Cosmos juga memiliki kemampuan produksi hingga satu satelit per hari dan baru memperoleh pendanaan €300 juta untuk mempercepat ekspansi.

Namun keberhasilan proyek tersebut tetap bergantung pada produksi, ketersediaan peluncuran, pembangunan jaringan dan kemampuan perusahaan mendapatkan pelanggan.

Jika target tercapai, Eropa akan memiliki pemain tambahan dalam persaingan infrastruktur komunikasi LEO yang selama ini semakin strategis bagi konektivitas global.