PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Korea Selatan Gaspol Satelit 6G, Dua Satelit LEO Ditargetkan Meluncur 2030

CHANGWON, pandutekno.id – Korea Selatan semakin serius mengembangkan satelit 6G Korea Selatan sebagai bagian dari strategi memperkuat jaringan komunikasi berbasis antariksa. Korea Aerospace Industries (KAI) kini mengembangkan dua satelit komunikasi orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) yang ditargetkan siap menuju tahap peluncuran pada 2030.

KAI memperlihatkan strategi tersebut dalam pameran AEROTEC 2026 di Changwon, Korea Selatan. Perusahaan memamerkan satelit generasi berikutnya, termasuk satelit SAR berukuran kecil, satelit observasi serta konsep satelit komunikasi 6G.

Pengembangan ini menunjukkan ambisi Korea Selatan tidak berhenti pada satelit pengamatan Bumi. Negara tersebut ingin memperluas kemampuan antariksa menuju komunikasi berkecepatan tinggi dan membangun jaringan satelit LEO domestik.

Satelit 6G Korea Selatan Ditargetkan Meluncur 2030

Program tersebut sebenarnya sudah mulai dipersiapkan sebelum AEROTEC 2026.

Pada Juni 2025, KAI mengumumkan kesepakatan pengembangan senilai sekitar 184 miliar won untuk mengembangkan dua satelit komunikasi 6G orbit rendah hingga 2030.

Dalam proyek tersebut, KAI bertanggung jawab terhadap integrasi sistem dan pengembangan badan utama kedua satelit.

Lingkup pekerjaan KAI juga mencakup proses perakitan, pengujian hingga peluncuran satelit.

Dengan demikian, target 2030 bukan berarti jaringan 6G Korea Selatan langsung tersedia secara komersial pada tahun tersebut. Satelit ini terlebih dahulu akan digunakan untuk mengembangkan dan menguji teknologi yang dibutuhkan jaringan komunikasi generasi berikutnya.

Terbang di Orbit Sekitar 888 Kilometer

Salah satu bagian menarik dari proyek satelit 6G Korea Selatan adalah spesifikasi awal wahana antariksa yang sedang dikembangkan.

Menurut laporan Energy Economy yang mengulas teknologi KAI di AEROTEC 2026, konsep 6G COMSAT memiliki bobot sekitar 500 kilogram.

Satelit tersebut dirancang beroperasi pada orbit sekitar 888 kilometer di atas Bumi, dengan masa operasi yang direncanakan sekitar tiga tahun.

Namun, spesifikasi tersebut masih bersifat sementara.

Karena proyek masih dalam tahap pengembangan, konfigurasi teknis dapat berubah sebelum satelit benar-benar diluncurkan.

Dibekali Antena Canggih hingga Komunikasi Laser

Teknologi yang direncanakan untuk satelit tersebut cukup menarik.

Konsep 6G COMSAT mencakup phased-array antenna untuk koneksi pengguna dan digital regenerative onboard processing (OBP).

Satelit juga direncanakan memiliki feeder-link antenna serta sistem komunikasi laser untuk inter-satellite link (ISL).

Teknologi ISL memungkinkan satelit berkomunikasi langsung dengan satelit lain di orbit.

Kemampuan tersebut menjadi penting ketika jaringan terdiri atas banyak satelit LEO karena data tidak selalu harus langsung dikirim menuju stasiun di permukaan Bumi.

KAI Gandeng KT dan KT SAT

KAI tidak mengembangkan ekosistem komunikasi satelit tersebut sendirian.

Perusahaan juga menggandeng KT dan KT SAT dalam pengembangan teknologi dan strategi komersialisasinya.

KAI membawa pengalaman dalam pengembangan wahana dan sistem satelit, sementara KT serta KT SAT memiliki keahlian dalam jaringan telekomunikasi dan layanan komunikasi satelit.

Kolaborasi tersebut ditujukan tidak hanya untuk pengembangan teknologi.

Korea Selatan juga melihat peluang mengubah teknologi satelit yang dikembangkan menjadi bisnis yang dapat dipasarkan secara global.

Korea Selatan Ingin Punya Jaringan LEO Sendiri

Program satelit 6G memiliki tujuan strategis yang lebih luas.

Pemerintah Korea Selatan ingin mengurangi keterbatasan jaringan komunikasi berbasis darat sekaligus memperluas layanan hingga wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional.

Korea Aerospace Administration (KASA) pada September menegaskan rencana membangun jaringan komunikasi satelit LEO Korea.

Administrator KASA Taeseog Oh mengatakan:

“We will further expand R&D investment.”

Ia menyatakan pemerintah juga akan membangun jaringan komunikasi LEO Korea dan memperluas ekosistem industri satelit, tidak hanya mengejar kedaulatan komunikasi.

Internet Bisa Menjangkau Laut dan Udara

Salah satu alasan pemerintah mengembangkan jaringan tersebut adalah memperluas jangkauan komunikasi.

Rencana pemerintah sebelumnya menyebut komunikasi satelit dapat digunakan untuk memperluas layanan dari daratan menuju wilayah laut dan udara.

Program tersebut mencakup pengembangan jaringan demonstrasi yang terdiri dari satelit komunikasi, stasiun darat serta terminal pengguna.

Konsep seperti ini penting karena jaringan seluler berbasis menara memiliki keterbatasan geografis.

Satelit LEO dapat menjadi lapisan tambahan yang menyediakan konektivitas di kapal, pesawat ataupun wilayah terpencil.

Satelit SAR Juga Jadi Andalan KAI

AEROTEC 2026 tidak hanya menjadi panggung teknologi komunikasi.

KAI juga memperlihatkan satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) berukuran kecil.

Teknologi SAR menggunakan gelombang radar untuk menghasilkan gambar permukaan Bumi dan dapat bekerja dalam kondisi yang sulit bagi kamera optik biasa.

KAI memang memiliki sejarah panjang dalam industri satelit Korea Selatan.

Perusahaan terlibat dalam program KOMPSAT atau Arirang sejak satelit pertama dan kemudian berpartisipasi dalam pengembangan Arirang 2, 3, 5, 3A, 6, 7 hingga 7A.

Pengalaman tersebut kini digunakan untuk mengembangkan platform satelit yang lebih terstandardisasi.

Platform Satelit Dibuat Lebih Fleksibel

Strategi KAI adalah menggunakan teknologi badan satelit yang dapat digunakan kembali untuk berbagai misi.

Alih-alih membangun seluruh desain dari awal untuk setiap proyek, perusahaan dapat mempertahankan platform dasar kemudian mengganti muatan sesuai kebutuhan.

Pendekatan tersebut dapat digunakan untuk satelit pengamatan, SAR maupun komunikasi.

KAI memperlihatkan strategi tersebut melalui jajaran satelit generasi berikutnya, satelit SAR kecil dan satelit komunikasi LEO dalam AEROTEC 2026.

KAI Juga Gandeng Perusahaan Satelit Eropa

Ambisi Korea Selatan semakin terlihat dari kerja sama internasional.

Pada September 2026, KAI menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan satelit Eropa Aerospacelab (ASL) untuk bekerja sama dalam program K-LEO.

K-LEO dirancang sebagai konstelasi komunikasi orbit rendah Korea Selatan untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan nasional.

KAI dan Aerospacelab berencana menggabungkan kemampuan masing-masing untuk mengembangkan konektivitas yang aman dan tahan terhadap gangguan.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa strategi satelit Korea Selatan memiliki jalur sipil, komersial sekaligus pertahanan.

6G Belum Berarti Pengganti 5G dalam Waktu Dekat

Meski membawa label 6G, teknologi ini tidak berarti masyarakat Korea Selatan akan langsung menggunakan internet 6G melalui satelit dalam waktu dekat.

Sistem yang dikembangkan KAI berfungsi sebagai bagian dari proses penelitian, demonstrasi dan validasi teknologi menuju standar komunikasi generasi berikutnya.

Bahkan kebijakan spektrum internasional untuk 6G masih terus dipersiapkan.

Pada Juni 2026, regulator Korea Selatan dan Jepang membahas kandidat pita spektrum untuk 6G dan komunikasi satelit LEO, sekaligus menyepakati koordinasi menjelang World Radiocommunication Conference 2027 atau WRC-27.

Karena itu, standar dan ekosistem 6G global masih terus berkembang.

Korea Selatan Kejar Kedaulatan Komunikasi

Di balik teknologi tersebut terdapat kepentingan strategis yang lebih besar: kedaulatan komunikasi.

CEO KAI Kim Jong-chul sebelumnya berpendapat Korea Selatan perlu memiliki jaringan komunikasi satelit LEO berbasis 6G secara independen.

Menurutnya, ketergantungan terhadap satelit negara lain dapat menjadi keterbatasan terutama untuk komunikasi militer dan sistem komando.

Korea Selatan ingin menggabungkan kemampuan observasi dan komunikasi sehingga data yang diperoleh satelit dapat diteruskan melalui jaringan secara cepat.

Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika komunikasi satelit LEO berkembang menjadi bagian penting dari infrastruktur telekomunikasi modern.

Persaingan Internet Satelit Semakin Ketat

Pengembangan satelit 6G Korea Selatan juga terjadi ketika pasar komunikasi orbit rendah berkembang pesat.

Korea Selatan sebelumnya telah membuka jalan bagi layanan LEO asing seperti Starlink dan OneWeb untuk memasuki pasar domestik.

Pada saat bersamaan, pemerintah dan industri Korea berusaha membangun kemampuan sendiri.

Jika program KAI berjalan sesuai rencana, dua satelit yang ditargetkan pada 2030 dapat menjadi salah satu batu loncatan menuju jaringan LEO domestik yang lebih luas.

Proyek tersebut bukan sekadar perlombaan mencapai kecepatan internet lebih tinggi. Korea Selatan juga mengejar penguasaan teknologi satelit, komunikasi di laut dan udara, kebutuhan keamanan serta peluang ekspor.

Dengan KAI mengembangkan wahana, perusahaan telekomunikasi terlibat dalam jaringan, dan pemerintah mendorong ekosistem LEO nasional, satelit 6G Korea Selatan kini menjadi salah satu proyek teknologi antariksa yang layak diperhatikan menjelang 2030.