
PANDUTEKNO.ID, JAKARTA – Investasi data center Indonesia terus menarik perhatian seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), layanan komputasi awan, dan aktivitas ekonomi digital.
Namun, pertumbuhan industri pusat data menghadirkan tantangan baru. Kebutuhan listrik yang besar dan penggunaan air untuk sistem pendinginan menjadi perhatian pemerintah, pengusaha, serta organisasi lingkungan.
Pada Oktober 2026, perdebatan mengenai keberlanjutan investasi pusat data semakin menguat setelah proyek BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, dihentikan sementara.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur digital tidak cukup hanya mempertimbangkan nilai investasi. Ketersediaan energi, air, perizinan, dan kepentingan masyarakat juga perlu diperhitungkan.
Investasi Data Center Indonesia Terus Berkembang
Pertumbuhan layanan AI menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kebutuhan infrastruktur pusat data.
Data center berfungsi menyimpan, mengelola, dan memproses data yang digunakan berbagai layanan digital.
Fasilitas tersebut dibutuhkan oleh perusahaan teknologi, lembaga keuangan, penyedia layanan internet, hingga pengembang AI.
Seiring meningkatnya permintaan komputasi, minat investor terhadap pembangunan pusat data di Indonesia juga bertambah.
Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kawasan Industri (HKI), Sanny Iskandar, mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan pusat data sudah terlihat di sejumlah kawasan industri.
Mengutip Bisnis.com pada 2 September 2026, Sanny mengatakan:
“Merujuk pada minat-minat yang ada di kawasan industri, permintaan data center menunjukkan kenaikan sehingga kebutuhan akan lahan, listrik, dan air juga mengalami peningkatan.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi pusat data membutuhkan dukungan infrastruktur yang lebih luas.
Kebutuhan Listrik Data Center Diperkirakan Melonjak
Investasi data center Indonesia juga mendorong peningkatan kebutuhan energi listrik.
Menurut Institute for Essential Services Reform (IESR), Komdigi sebelumnya memperkirakan kebutuhan listrik pusat data di Indonesia pada 2029 dapat melampaui 2 gigawatt (GW).
Angka tersebut merupakan proyeksi kebutuhan, bukan konsumsi listrik aktual seluruh pusat data saat ini.
Peningkatan kebutuhan energi menjadi tantangan bagi penyedia listrik dan pengelola kawasan industri.
Selain menyediakan pasokan yang memadai, pemerintah perlu memastikan keandalan jaringan listrik bagi pelanggan lainnya.
Pengembangan energi terbarukan juga menjadi bagian penting dalam pembahasan masa depan pusat data.
Menteri ESDM Ajak Investor Bangun Data Center di Indonesia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengajak investor memanfaatkan potensi energi Indonesia untuk pembangunan pusat data.
Ajakan tersebut disampaikan saat pembukaan Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada 22 September 2026.
Menurut Bahlil, Indonesia memiliki potensi sumber energi yang dapat mendukung pertumbuhan industri digital.
Mengutip keterangan resmi Kementerian ESDM, Bahlil mengatakan:
“Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, tidak perlu ragu para investor kalau membangun data center di Indonesia.”
Pemerintah menyoroti potensi pembangkit listrik tenaga air di Sungai Mamberamo, Papua, dan Sungai Kayan, Kalimantan.
Potensi energi tersebut dapat menjadi daya tarik investasi dalam jangka panjang.
Namun, potensi pembangkitan listrik tidak berarti seluruh kapasitas tersebut telah tersedia atau siap digunakan.
Proyek Data Center BDx di Jatiluhur Dihentikan Sementara
Perhatian terhadap dampak lingkungan pusat data meningkat setelah penghentian sementara pembangunan proyek BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Purwakarta.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil langkah tersebut pada akhir September 2026.
Persoalan yang disoroti mencakup kelengkapan dokumen lingkungan dan persetujuan bangunan, serta kebutuhan air proyek.
Waduk Jatiluhur memiliki peran penting bagi kebutuhan air dan irigasi.
Karena itu, rencana pemanfaatan air untuk industri pusat data perlu mempertimbangkan fungsi yang sudah berjalan.
Penghentian sementara tersebut bukan berarti seluruh investasi pusat data di Indonesia dilarang.
Kasus ini justru memperlihatkan pentingnya penilaian lokasi dan perizinan sebelum pembangunan dilanjutkan.
Kebutuhan Air Data Center Jadi Sorotan
Selain listrik, pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga suhu perangkat komputasi.
Sebagian teknologi pendinginan menggunakan air dalam jumlah besar.
Namun, kebutuhan air setiap pusat data berbeda-beda, bergantung pada kapasitas, teknologi pendinginan, kondisi iklim, dan desain fasilitas.
Pada proyek AI Campus 2 atau CGK4 di Jatiluhur, kapasitas yang direncanakan disebut dapat mencapai 640 megawatt.
Dalam pemberitaan Katadata pada Oktober 2026, kebutuhan air proyek tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 384 liter per detik atau lebih dari 33.000 meter kubik per hari.
Angka tersebut merupakan proyeksi kebutuhan pada skenario pengembangan yang diberitakan, bukan bukti konsumsi aktual fasilitas yang sudah beroperasi.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan penggunaan air industri tidak mengganggu kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.
Komdigi Minta Penentuan Lokasi Dikaji Bersama
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan komputasi, energi, dan ketersediaan air.
Pemerintah menilai penentuan lokasi pusat data perlu dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait.
Langkah tersebut penting karena pembangunan pusat data menyangkut beberapa sektor sekaligus.
Selain kebijakan digital, pemerintah harus mempertimbangkan tata ruang, lingkungan, energi, dan sumber daya air.
Dengan koordinasi lintas sektor, potensi konflik pemanfaatan sumber daya diharapkan dapat dikurangi.
IESR Desak Standar Data Center Hijau
Institute for Essential Services Reform (IESR) meminta pemerintah mempercepat penyusunan regulasi yang mengatur keberlanjutan pembangunan pusat data.
Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, menilai Indonesia membutuhkan standar nasional yang lebih jelas.
Mengutip ANTARA pada 3 Oktober 2026, Fabby mengatakan:
“Tanpa standar nasional, setiap proyek dinilai kasus per kasus dan pengawasan bergantung pada inisiatif kepala daerah.”
IESR mendorong agar aspek lingkungan, sosial, dan energi menjadi bagian dari persyaratan perizinan.
Organisasi tersebut juga menyoroti perlunya transparansi kajian dampak lingkungan serta pengaruh proyek terhadap keandalan pasokan listrik.
Standar yang jelas dinilai dapat memberikan kepastian bagi investor sekaligus melindungi kepentingan publik.
Pemerintah Pertimbangkan Air Daur Ulang
Salah satu solusi yang dibahas pemerintah adalah penggunaan sumber air alternatif untuk pendinginan pusat data.
Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air dan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Suraji, menyebut desalinasi dan daur ulang air sebagai pilihan.
Mengutip Katadata pada 7 Oktober 2026, Suraji mengatakan:
“Bisa saja menggunakan alternatif misalnya dari desalinasi ataupun menggunakan air daur ulang.”
Pemanfaatan sumber air alternatif dapat membantu mengurangi tekanan terhadap pasokan air bersih.
Namun, penerapannya tetap perlu memperhitungkan biaya, konsumsi energi, serta kondisi lingkungan setempat.
Tidak semua wilayah memiliki sumber air atau infrastruktur pengolahan yang sama.
Teknologi Pendinginan Hemat Air Jadi Alternatif
Pengelola pusat data memiliki beberapa pilihan teknologi pendinginan.
Sistem cooling tower dan evaporative cooling menggunakan air dalam proses pelepasan panas.
Sementara itu, teknologi seperti air-cooled chiller, dry cooling, dan sistem tertutup dapat membantu mengurangi penggunaan air dalam kondisi tertentu.
Pemilihan teknologi harus mempertimbangkan kebutuhan energi dan karakteristik lokasi.
Sistem yang lebih hemat air belum tentu menjadi pilihan paling hemat listrik.
Karena itu, pengelola perlu menilai efisiensi energi dan air secara bersamaan.
Investasi Data Center Bisa Membuka Peluang Bisnis Air
Peningkatan kebutuhan air industri juga dapat membuka peluang bagi perusahaan penyedia air bersih.
Direktur Utama Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu, Riana Afriadi, menilai pengembangan pusat data dapat menjadi peluang untuk memperkuat infrastruktur pengolahan dan distribusi air.
Namun, ketersediaan sumber air harus didukung fasilitas yang memadai.
Mengutip Bisnis.com pada 8 Oktober 2026, Riana mengatakan:
“Sebesar apa pun potensi sumber air yang kita miliki, tanpa didukung infrastruktur yang memadai, kemampuan untuk mengolah dan mendistribusikan air tetap akan terbatas.”
Menurutnya, tambahan pelanggan industri dapat membuka peluang pendapatan untuk pengembangan infrastruktur.
Meski demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap harus menjadi prioritas.
Masa Depan Data Center Indonesia Bergantung pada Keberlanjutan
Investasi data center Indonesia memiliki peluang berkembang seiring meningkatnya kebutuhan AI dan layanan digital.
Namun, pertumbuhan tersebut harus didukung ketersediaan listrik, air, dan infrastruktur yang memadai.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa pengembangan pusat data tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.
Kepastian perizinan, penggunaan energi bersih, dan penerapan teknologi hemat air dapat menjadi bagian dari solusi.
Selain itu, koordinasi pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar kebijakan investasi berjalan konsisten.
Kesimpulan
Investasi data center Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI dan komputasi awan.
Namun, kebutuhan listrik dan air menjadi tantangan penting yang tidak dapat diabaikan.
Penghentian sementara proyek BDx di Jatiluhur menunjukkan perlunya evaluasi lingkungan dan perizinan yang menyeluruh.
Pemerintah mendorong pengembangan energi untuk industri digital, sementara IESR meminta penerapan standar pusat data hijau yang lebih jelas.
Dengan perencanaan yang tepat, pertumbuhan industri pusat data dapat berjalan berdampingan dengan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat.



































































































































































































































































































































































































