
PANDUTEKNO.ID – Operasi kejahatan siber internasional yang dikoordinasikan INTERPOL berhasil melumpuhkan 10.909 jaringan digital berbahaya di Afrika. Operasi tersebut juga menghasilkan penangkapan 1.462 tersangka dan pemulihan dana ilegal lebih dari 105 juta dolar AS.
Operasi bertajuk Serengeti III ini melibatkan aparat penegak hukum dari 21 negara. Kegiatan berlangsung pada 29 Juni hingga 31 Agustus 2026, sedangkan hasilnya diumumkan INTERPOL pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Penindakan difokuskan pada penipuan daring, ransomware, pencurian informasi, pemerasan digital, serta penipuan melalui email bisnis.
INTERPOL juga mengidentifikasi 65.929 korban yang menjadi sasaran jaringan kejahatan tersebut.
Operasi Serengeti III Lumpuhkan 10.909 Jaringan Berbahaya
Dalam pengumuman resminya, INTERPOL menyebut Serengeti III sebagai salah satu operasi pemberantasan kejahatan siber terbesar di Afrika.
Petugas dari berbagai negara bekerja sama untuk mengidentifikasi dan mengganggu jaringan digital yang digunakan dalam aktivitas kriminal.
Hasilnya, sebanyak 10.909 jaringan berbahaya berhasil ditindak.
Angka tersebut mengacu pada jaringan atau infrastruktur digital yang digunakan untuk mendukung kejahatan siber, bukan berarti terdapat 10.909 organisasi kriminal berbeda yang seluruh anggotanya ditangkap.
Selain itu, aparat berhasil menangkap 1.462 orang yang diduga terlibat dalam berbagai aktivitas ilegal.
Keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama internasional untuk menghadapi ancaman digital yang melintasi batas negara.
Kerugian Korban Kejahatan Siber Tembus 385 Juta Dolar AS
Operasi Serengeti III juga mengungkap besarnya kerugian finansial yang ditimbulkan oleh aktivitas kejahatan siber.
Menurut INTERPOL, penyelidikan menghubungkan berbagai kasus kriminal dengan kerugian lebih dari 385 juta dolar AS.
Sementara itu, dana ilegal senilai lebih dari 105 juta dolar AS berhasil dipulihkan.
Petugas juga mengidentifikasi 65.929 korban yang menjadi sasaran pelaku.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa penipuan digital tidak hanya berdampak pada perusahaan besar, tetapi juga masyarakat umum.
Modus yang digunakan mencakup investasi palsu, penipuan melalui email, serta pemerasan menggunakan teknologi digital.
Sebanyak 365 Tersangka Ditangkap di Uganda
Salah satu pengungkapan terbesar dalam operasi ini berlangsung di Uganda.
Aparat setempat membongkar dua kelompok penipuan lintas negara dan menangkap 365 warga negara asing.
Para tersangka diduga terlibat dalam penipuan investasi daring dan skema pensiun palsu yang menyasar korban di Asia.
Menurut INTERPOL, pelaku menggunakan pusat panggilan dengan sistem kerja bergantian.
Mereka memanfaatkan naskah komunikasi, situs perdagangan palsu, dan platform investasi fiktif untuk meyakinkan korban.
Sebagian sasaran merupakan pensiunan yang dibujuk menanamkan uang pada investasi yang sebenarnya tidak ada.
Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana jaringan penipuan dapat beroperasi dari satu wilayah sambil menargetkan korban di negara lain.
Tambang Kripto Ilegal di Angola Dibongkar
Selain penipuan daring, operasi internasional ini juga menyasar kegiatan penambangan mata uang kripto ilegal.
Di Angola, petugas membongkar dua fasilitas penambangan kripto yang beroperasi tanpa izin.
Sebanyak sembilan tersangka ditangkap dalam pengungkapan tersebut.
Aparat juga menyita lebih dari 2.000 perangkat penambangan mata uang kripto.
Selain perangkat digital, enam stasiun transformasi listrik ilegal turut disita.
INTERPOL menyebut nilai infrastruktur kelistrikan yang diamankan mencapai lebih dari satu juta dolar AS.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa kejahatan berbasis teknologi dapat melibatkan penyalahgunaan infrastruktur fisik dan sumber daya energi.
Nigeria Ungkap Phishing dengan 2,1 Juta Alamat Email
Di Nigeria, aparat menangkap seorang tersangka yang diduga menjalankan operasi phishing dan business email compromise atau BEC.
Penyelidikan menemukan bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan pengumpulan kredensial perangkat lunak.
Pelaku juga diduga mengumpulkan sekitar 2,1 juta alamat email.
Dalam pengungkapan itu, petugas menyita sebuah kendaraan mewah yang diduga dibeli menggunakan hasil kejahatan.
Kasus lainnya di Nigeria melibatkan penipuan investasi internasional melalui aplikasi pesan.
Penyelidik menemukan aliran dana mencurigakan lebih dari 2,4 juta dolar AS.
Sebagian besar dana tersebut diduga dicuci melalui transaksi mata uang kripto.
Penipuan Pinjaman Online hingga Impor Kendaraan Ikut Ditindak
Operasi Serengeti III tidak hanya berfokus pada satu jenis serangan digital.
Di Tanzania, petugas membongkar skema aplikasi pinjaman seluler berbahaya.
Sementara itu, aparat di Gabon mengganggu jaringan penipuan impor kendaraan yang memanfaatkan media sosial.
Di Republik Kongo, sebanyak 30 tersangka ditangkap terkait operasi kejahatan siber.
Rangkaian kasus tersebut menunjukkan beragamnya modus penipuan yang memanfaatkan internet.
Pelaku dapat menyamar sebagai penyedia investasi, pemberi pinjaman, maupun penjual barang untuk menarik korban.
Karena itu, masyarakat perlu memeriksa legalitas dan identitas penyedia layanan sebelum melakukan transaksi.
INTERPOL Gandeng Perusahaan Keamanan Siber
Keberhasilan operasi ini didukung kerja sama antara aparat penegak hukum dan perusahaan keamanan digital.
Sejumlah mitra yang terlibat meliputi Group-IB, Kaspersky, Fortinet, Team Cymru, Meta, dan organisasi keamanan lainnya.
Mereka memberikan dukungan berupa analisis teknis, informasi ancaman, serta identifikasi infrastruktur berbahaya.
Informasi tersebut mencakup alamat IP mencurigakan, domain berbahaya, dan server command-and-control yang digunakan untuk mengendalikan aktivitas serangan.
Dengan bantuan data tersebut, penyelidik dapat memetakan jaringan kriminal dan menentukan sasaran penindakan.
Kerja sama ini juga membantu petugas menghubungkan aktivitas digital dengan dugaan pelaku di berbagai negara.
Kejahatan Siber Semakin Sulit Dibatasi Wilayah Negara
Direktur Kejahatan Siber INTERPOL, Neal Jetton, menekankan bahwa jaringan kriminal digital beroperasi tanpa memedulikan batas negara.
Teknologi memungkinkan penyerang menargetkan korban dalam jumlah besar dari lokasi yang berbeda.
Karena itu, penanganan kejahatan siber membutuhkan pertukaran informasi dan koordinasi lintas negara.
Operasi Serengeti III memperlihatkan bahwa kerja sama tersebut dapat membantu mengganggu aktivitas kriminal sekaligus memulihkan aset korban.
Namun, penindakan terhadap infrastruktur digital tidak otomatis mengakhiri seluruh aktivitas kelompok kriminal.
INTERPOL menyatakan sejumlah penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi tersangka tambahan dan menelusuri aliran dana ilegal.
Cara Menghindari Penipuan Siber Internasional
Masyarakat dapat mengurangi risiko menjadi korban dengan menerapkan langkah keamanan sederhana.
Pertama, hindari tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi tanpa risiko yang jelas.
Kedua, periksa identitas perusahaan melalui situs resmi dan lembaga pengawas yang berwenang.
Ketiga, jangan membagikan kata sandi, kode OTP, atau informasi rekening kepada pihak tidak dikenal.
Keempat, waspadai tautan dari pesan yang meminta pembayaran atau verifikasi akun secara mendesak.
Kelima, gunakan autentikasi multifaktor untuk melindungi akun penting.
Pengguna juga disarankan memeriksa kembali alamat situs sebelum memasukkan informasi pribadi.
Apabila menemukan dugaan penipuan, segera hubungi penyedia layanan keuangan dan laporkan kejadian kepada aparat atau otoritas terkait.
Operasi Serengeti III Jadi Peringatan bagi Pelaku Kejahatan Digital
Operasi Serengeti III memperlihatkan skala besar kejahatan siber lintas negara yang menargetkan masyarakat dan perusahaan.
Dalam operasi yang berlangsung selama dua bulan tersebut, aparat dari 21 negara berhasil menangkap 1.462 tersangka dan mengganggu 10.909 jaringan digital berbahaya.
Selain itu, lebih dari 105 juta dolar AS dana ilegal berhasil dipulihkan.
Meski hasilnya signifikan, INTERPOL masih melanjutkan sejumlah penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku lain serta menelusuri aset hasil kejahatan.
Bagi masyarakat, pengungkapan ini menjadi pengingat bahwa penipuan digital dapat dijalankan dari luar negeri dengan sasaran korban di berbagai wilayah dunia.
Kewaspadaan pengguna, perlindungan data pribadi, dan kerja sama internasional tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman tersebut.





















































































































































































































































































































































































































