
NEW DELHI – Industri teknologi India menghadapi tekanan menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal Juli–September 2026. Enam perusahaan teknologi terbesar di negara tersebut diperkirakan mencatat pertumbuhan kuartalan terlemah dalam tiga tahun.
Lima perusahaan pialang memperkirakan pertumbuhan pendapatan hanya berada pada kisaran 0,7 persen hingga 3,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, angka itu masih berupa proyeksi analis. Hasil final baru diketahui setelah masing-masing perusahaan menerbitkan laporan keuangan.
Tata Consultancy Services atau TCS akan membuka musim laporan keuangan pada 8 Oktober 2026. Setelah itu, Infosys, HCLTech, dan Wipro dijadwalkan menyampaikan kinerja mereka pada bulan yang sama.
Industri Teknologi India Hadapi Kuartal Sulit
Kuartal awal tahun fiskal biasanya menjadi periode yang kuat bagi perusahaan teknologi India. Jumlah hari kerja lebih banyak dan proyek baru mulai menghasilkan pendapatan.
Namun, pola tersebut tidak terlihat sepanjang 2026. Pertumbuhan pada kuartal April–Juni berjalan lambat. Kondisi pada kuartal berikutnya juga diperkirakan belum banyak berubah.
Secara tahunan, analis memperkirakan pendapatan perusahaan utama masih tumbuh sekitar 10 persen dalam mata uang rupee. Meski demikian, pelemahan rupee ikut memperbesar angka tersebut.
Karena itu, investor akan lebih memperhatikan pertumbuhan dalam mata uang konstan. Ukuran tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi bisnis tanpa pengaruh perubahan nilai tukar.
AI Menekan Model Bisnis Tradisional
Kecerdasan buatan menjadi salah satu penyebab utama perlambatan industri teknologi India. Perangkat AI membuat pekerjaan pemrograman, pengujian perangkat lunak, dan pengolahan data selesai lebih cepat.
Sebelumnya, perusahaan jasa teknologi memperoleh pendapatan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan jam yang digunakan dalam sebuah proyek. Model itu dikenal sebagai sistem billable hours.
Kini, klien meminta harga lebih murah karena AI dapat mengurangi waktu pengerjaan. Akibatnya, perusahaan harus memberikan diskon atau mengubah struktur kontrak mereka.
“AI-led deflation has more legs to go and demand environment is not improving,” tulis Jefferies dalam catatan yang dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut berarti tekanan penurunan harga akibat AI diperkirakan masih berlanjut. Sementara itu, lingkungan permintaan belum menunjukkan pemulihan yang kuat.
Belanja Klien Global Masih Lemah
Sebagian besar pendapatan industri teknologi India berasal dari kontrak perusahaan di Amerika Serikat dan Eropa. Oleh sebab itu, kondisi ekonomi di kedua kawasan sangat memengaruhi pertumbuhan sektor tersebut.
Suku bunga yang tinggi membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan anggaran. Selain itu, harga minyak dan ketegangan geopolitik meningkatkan ketidakpastian ekonomi.
Akibatnya, klien menunda proyek yang tidak mendesak. Mereka juga membutuhkan waktu lebih lama sebelum menyetujui kontrak baru.
Perusahaan telekomunikasi, teknologi tinggi, ritel, dan barang konsumsi termasuk kelompok yang mengurangi pengeluaran. Sebaliknya, proyek yang berkaitan dengan efisiensi biaya dan keamanan digital masih memiliki peluang.
Namun, proyek tersebut belum cukup untuk mendorong pemulihan menyeluruh. Oleh karena itu, pertumbuhan pendapatan tetap terbatas.
Infosys Berisiko Pangkas Proyeksi
Perhatian investor akan tertuju pada proyeksi pendapatan tahunan Infosys. Perusahaan sebelumnya memperkirakan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,5 persen hingga 3 persen.
Analis Kotak memperkirakan Infosys dapat memangkas batas atas proyeksi tersebut menjadi 2,5 persen. Sementara itu, Jefferies memperkirakan proyeksi baru dapat turun menjadi 0,5 persen hingga 2 persen.
Pemangkasan proyeksi akan menunjukkan bahwa perusahaan belum melihat pemulihan permintaan dalam waktu dekat. Namun, keputusan resmi tetap bergantung pada hasil keuangan dan penilaian manajemen Infosys.
Dengan demikian, angka dari analis tidak boleh dianggap sebagai proyeksi resmi perusahaan.
TCS, HCLTech, dan Wipro Hadapi Kondisi Berbeda
TCS menjadi perusahaan pertama yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi industri teknologi India. Investor akan menilai pertumbuhan pendapatan, margin, kontrak baru, dan komentar manajemen mengenai permintaan.
HCLTech dan Tech Mahindra diperkirakan tampil lebih baik dibandingkan sejumlah pesaing besar. Proyek yang mulai menghasilkan pendapatan dan kontribusi akuisisi dapat membantu kinerja keduanya.
Sebaliknya, Wipro diperkirakan masih menghadapi tekanan. Pada laporan sebelumnya, perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal September berada antara penurunan 1,5 persen dan pertumbuhan 0,5 persen dalam mata uang konstan.
Wipro juga menghadapi keterlambatan pelaksanaan proyek. Selain itu, perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengubah kontrak menjadi pendapatan.
Meskipun begitu, kondisi setiap perusahaan tidak sama. Komposisi klien, sektor usaha, wilayah operasi, dan jenis layanan akan menentukan hasil masing-masing.
Pelemahan Rupee Membantu Margin
Pelemahan rupee dapat memberikan sedikit bantuan bagi perusahaan teknologi India. Mereka menerima sebagian besar pendapatan dalam dolar AS. Sementara itu, sebagian besar biaya operasional dibayarkan dalam rupee.
Selisih tersebut dapat membantu menjaga margin keuntungan. Namun, manfaatnya tidak selalu muncul secara penuh.
Kerugian dari lindung nilai valuta asing dapat menekan laba beberapa perusahaan. Tech Mahindra, Coforge, dan Hexaware termasuk perusahaan yang berpotensi menghadapi dampak tersebut.
Selain itu, perusahaan tetap harus mengeluarkan dana untuk pelatihan karyawan dan pengembangan layanan AI. Biaya tersebut penting agar mereka dapat bersaing dalam jangka panjang.
Nifty IT Turun Sekitar 27 Persen
Tekanan terhadap industri teknologi India juga terlihat di pasar saham. Indeks Nifty IT telah turun sekitar 27 persen sepanjang 2026.
Pada periode yang sama, indeks acuan Nifty 50 turun sekitar 13,4 persen. Dengan demikian, saham teknologi India mencatat penurunan yang lebih dalam dibandingkan pasar secara umum.
Pada Juni 2026, Nifty IT sempat mencapai level terendah dalam tiga tahun. Penurunan terjadi setelah Accenture menyampaikan proyeksi penjualan yang lemah dan memangkas perkiraan pendapatan tahunannya.
Berita tersebut ikut menekan saham TCS, Infosys, dan HCLTech. Harga saham ketiga perusahaan turun sekitar 4 persen hingga 8 persen pada perdagangan saat itu.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor melihat perlambatan sebagai persoalan sektoral. Mereka khawatir AI akan mengubah model bisnis perusahaan jasa teknologi lebih cepat dari perkiraan.
Hampir Enam Juta Pekerja Ikut Menghadapi Perubahan
Industri teknologi India mempekerjakan hampir enam juta orang. Sektor ini juga menjadi salah satu sumber utama pendapatan ekspor jasa India.
Oleh karena itu, perlambatan dapat memengaruhi perekrutan tenaga kerja baru. Perusahaan mungkin mengurangi penerimaan lulusan, menunda kenaikan gaji, atau memindahkan pekerja ke proyek berbeda.
Namun, perkembangan AI tidak selalu berarti pengurangan karyawan. Beberapa perusahaan memilih melatih ulang pegawai agar mampu mengoperasikan teknologi baru.
Wipro, misalnya, menyatakan penggunaan AI telah membebaskan kapasitas kerja yang setara dengan sekitar 20.000 pegawai. Perusahaan mengatakan kapasitas tersebut dialihkan ke pekerjaan lain dan bukan langsung menjadi pemutusan hubungan kerja.
Wipro juga telah memberikan pelatihan AI tingkat lanjut kepada lebih dari 100.000 karyawan. Langkah tersebut menjadi bagian dari peralihan menuju model kerja yang menggabungkan tenaga manusia dan sistem AI.
Perusahaan Harus Mengubah Cara Menjual Layanan
AI memang menekan kontrak tradisional. Akan tetapi, teknologi tersebut juga menciptakan peluang baru bagi industri teknologi India.
Perusahaan dapat memperoleh pendapatan dari penerapan AI, pengelolaan data, komputasi awan, keamanan siber, dan otomatisasi bisnis. Mereka juga dapat membantu klien mengintegrasikan AI ke dalam kegiatan operasional.
Namun, perusahaan harus mengurangi ketergantungan pada jumlah jam kerja. Mereka perlu menawarkan kontrak berdasarkan hasil yang diperoleh klien.
Dalam model baru itu, pelanggan membayar berdasarkan peningkatan efisiensi, penurunan biaya, atau pertumbuhan pendapatan. Perubahan tersebut dapat melindungi perusahaan dari tekanan harga.
Meski demikian, transisi membutuhkan investasi besar. Perusahaan harus melatih karyawan, membangun produk baru, dan memperkuat kemitraan dengan penyedia teknologi global.
Investor Menunggu Bukti Pemulihan
Investor akan mencermati empat hal dalam laporan keuangan Oktober. Keempatnya adalah pertumbuhan pendapatan, margin keuntungan, nilai kontrak baru, dan proyeksi tahunan.
Komentar manajemen juga akan menjadi perhatian. Investor ingin mengetahui apakah klien mulai meningkatkan pengeluaran atau tetap menunda proyek.
Jika kontrak baru meningkat, industri teknologi India berpeluang pulih pada kuartal berikutnya. Sebaliknya, pemangkasan proyeksi dapat memperpanjang tekanan terhadap saham teknologi.
Untuk saat ini, data menunjukkan bahwa pemulihan belum kuat. AI terus menekan harga, sedangkan belanja klien masih terbatas.
Karena itu, kuartal Juli–September 2026 akan menjadi ujian penting. Hasil TCS, Infosys, HCLTech, dan Wipro akan memperlihatkan apakah perlambatan hanya bersifat sementara atau menjadi awal perubahan besar dalam industri teknologi India.











































































































































































































































































































































































