PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Raksasa Teknologi China Borong Chip Nvidia Rp550 Triliun, Stok Terancam Tak Cukup!

PANDUTEKNO.ID – Beijing. Pesanan chip Nvidia dari tiga raksasa teknologi China, ByteDance, Alibaba, dan Tencent, dilaporkan menembus US$35 miliar atau sekitar Rp550 triliun dengan asumsi kurs Rp15.700 per dolar AS. Lonjakan permintaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) di tengah pembatasan ekspor semikonduktor Amerika Serikat.

Mengutip Reuters pada Selasa (20/10/2026), ketiga perusahaan telah memesan lebih dari 3 juta kartu grafis Nvidia RTX PRO 5500. Informasi tersebut berasal dari dua sumber yang mengetahui proses pemesanan.

Namun, Nvidia belum dapat menjamin seluruh pesanan terpenuhi. Permintaan perusahaan teknologi China dilaporkan jauh melampaui kapasitas produksi yang direncanakan.

Pesanan Chip Nvidia Tembus US$35 Miliar

ByteDance, Alibaba, dan Tencent dilaporkan mengajukan pesanan gabungan lebih dari 3 juta unit Nvidia RTX PRO 5500.

Dengan harga katalog sekitar US$11.400 per unit, total nilai pesanan mencapai lebih dari US$35 miliar.

Angka tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan tingginya kebutuhan perangkat komputasi untuk pengembangan AI.

ByteDance dikenal sebagai perusahaan induk TikTok, sementara Alibaba memiliki bisnis komputasi awan dan perdagangan elektronik.

Tencent juga mengoperasikan berbagai layanan digital, termasuk media sosial, gim, dan teknologi cloud.

Ketiganya membutuhkan infrastruktur komputasi untuk mengembangkan serta menjalankan layanan berbasis AI.

Meski demikian, nilai US$35 miliar merupakan estimasi berdasarkan harga katalog. Nilai tersebut belum berarti seluruh produk telah dikirim atau dibayar.

Nvidia Kesulitan Penuhi Lonjakan Permintaan

Lonjakan pesanan menjadi tantangan bagi Nvidia.

Menurut Reuters, Nvidia telah memberi tahu pelanggan dan mitra bisnis bahwa perusahaan tidak dapat menjamin seluruh permintaan RTX PRO 5500 terpenuhi.

Sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebutkan bahwa pelanggan mungkin hanya memperoleh sekitar 5–10 persen dari jumlah yang dipesan.

Keterbatasan pasokan terjadi karena permintaan chip di China jauh lebih tinggi dibandingkan rencana produksi.

Secara keseluruhan, pesanan RTX PRO 5500 dari pelanggan China dilaporkan telah melampaui 6 juta unit.

Sementara itu, Nvidia diperkirakan hanya mampu memproduksi paling banyak sekitar 3 juta kartu RTX PRO 5500 secara global pada 2027.

Perbedaan antara permintaan dan pasokan ini berpotensi membuat perusahaan teknologi harus menunggu lebih lama.

Mengenal Chip Nvidia RTX PRO 5500

Nvidia RTX PRO 5500 merupakan kartu grafis untuk komputer profesional atau workstation.

Produk ini dirancang untuk menjalankan pekerjaan komputasi berat, termasuk sejumlah kebutuhan pemrosesan AI.

Namun, RTX PRO 5500 bukan produk yang sama dengan akselerator AI tercanggih Nvidia untuk pusat data berskala besar.

Chip pusat data seperti B300 dan H200 memiliki kemampuan serta ketentuan ekspor yang berbeda.

RTX PRO 5500 menjadi menarik bagi perusahaan China karena masih dapat dipasarkan sesuai aturan ekspor Amerika Serikat yang berlaku.

Dalam praktiknya, chip tersebut dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan AI yang tidak selalu membutuhkan perangkat pusat data paling canggih.

Pembatasan Ekspor AS Dorong Permintaan

Tingginya permintaan RTX PRO 5500 tidak terlepas dari kebijakan Amerika Serikat terhadap ekspor chip canggih ke China.

Washington membatasi akses perusahaan China terhadap sejumlah semikonduktor berperforma tinggi.

Chip Nvidia B300 berbasis Blackwell tidak dapat dijual kepada pembeli China berdasarkan pembatasan yang berlaku.

Sementara itu, ekspor H200 berbasis Hopper memerlukan pemeriksaan dan perizinan tersendiri.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan teknologi China mencari produk alternatif yang tetap memenuhi ketentuan perdagangan.

RTX PRO 5500 menjadi salah satu pilihan karena menawarkan kemampuan komputasi yang masih relevan untuk kebutuhan AI.

Namun, kemampuan produk tersebut tidak sepenuhnya setara dengan akselerator pusat data paling canggih.

Permintaan Chip AI China Melampaui 6 Juta Unit

Reuters melaporkan bahwa permintaan RTX PRO 5500 dari berbagai pelanggan di China telah melebihi 6 juta unit.

Jumlah tersebut mencakup pesanan dari ByteDance, Alibaba, Tencent, dan perusahaan lainnya.

Angka ini memperlihatkan besarnya kebutuhan perangkat komputasi di pasar China.

Namun, pesanan dalam jumlah besar tidak otomatis menjamin pengiriman dengan volume yang sama.

Nvidia masih harus menyesuaikan kapasitas produksi, pasokan komponen, dan prioritas manufaktur.

Apabila kapasitas tidak bertambah, sebagian pelanggan berpotensi menerima produk lebih sedikit daripada jumlah yang diminta.

Nvidia Prioritaskan Chip Generasi Baru Rubin

Keterbatasan produksi RTX PRO 5500 juga berkaitan dengan strategi Nvidia mengembangkan platform generasi berikutnya.

Perusahaan sedang mempersiapkan teknologi Rubin untuk kebutuhan komputasi AI yang lebih maju.

Menurut laporan Reuters, Nvidia berencana memprioritaskan sebagian kapasitas manufaktur mitranya, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC, untuk produk generasi baru tersebut.

Strategi ini dapat membatasi jumlah RTX PRO 5500 yang diproduksi pada 2027.

Bagi Nvidia, keputusan tersebut mencerminkan kebutuhan untuk menyeimbangkan permintaan produk yang tersedia dengan pengembangan teknologi masa depan.

Namun, bagi pelanggan di China, keterbatasan produksi dapat menjadi hambatan untuk memperoleh perangkat komputasi dalam jumlah besar.

Mengapa Perusahaan China Membutuhkan Banyak Chip?

Pertumbuhan layanan AI meningkatkan kebutuhan terhadap perangkat keras komputasi.

Perusahaan teknologi menggunakan chip untuk melatih model, menjalankan chatbot, mengolah data, dan menyediakan layanan digital.

Salah satu penggunaan penting adalah AI inference, yakni proses ketika model AI yang telah dilatih menghasilkan jawaban atau prediksi berdasarkan masukan pengguna.

Semakin banyak pengguna yang mengakses layanan AI, semakin besar kebutuhan terhadap kapasitas komputasi.

ByteDance, Alibaba, dan Tencent memiliki basis pengguna serta ekosistem layanan digital yang luas.

Karena itu, pengembangan AI dapat membutuhkan investasi perangkat keras dalam jumlah besar.

Namun, kebutuhan setiap perusahaan berbeda sesuai jenis aplikasi dan strategi teknologinya.

Huawei dan Produsen Lokal Ikut Bersaing

Ketergantungan terhadap chip Nvidia menjadi tantangan bagi industri teknologi China.

Pemerintah dan perusahaan domestik terus mendorong pengembangan semikonduktor lokal.

Huawei menjadi salah satu pemain yang memperluas bisnis akselerator AI.

Selain Huawei, perusahaan seperti Cambricon dan pengembang chip lokal lainnya juga berupaya meningkatkan kemampuan produknya.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pangsa Nvidia di pasar akselerator AI pusat data China menurun pada paruh pertama 2026.

Menurut data IDC yang dikutip Reuters, pangsa Nvidia berada di sekitar 34 persen, sementara Huawei mencapai sekitar 28 persen.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa produsen domestik semakin berperan dalam pasar AI China.

Meski demikian, kemampuan manufaktur chip paling canggih masih menjadi tantangan bagi industri semikonduktor lokal.

Dampak terhadap Persaingan AI Global

Pesanan chip Nvidia senilai lebih dari US$35 miliar menunjukkan bahwa persaingan AI tidak hanya berlangsung pada pengembangan perangkat lunak.

Akses terhadap perangkat keras menjadi faktor penting untuk menentukan kemampuan perusahaan menjalankan layanan AI.

Perusahaan yang memiliki kapasitas komputasi besar berpotensi mengembangkan dan melayani lebih banyak aplikasi.

Sebaliknya, keterbatasan pasokan dapat memperlambat perluasan infrastruktur.

Pembatasan ekspor juga membuat perusahaan harus menyesuaikan pilihan teknologi dengan aturan perdagangan internasional.

Situasi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan AI, industri semikonduktor, dan kebijakan geopolitik.

Apakah Pesanan US$35 Miliar Sudah Terealisasi?

Perlu dibedakan antara nilai pesanan dan pendapatan yang telah diterima Nvidia.

Laporan Reuters menyebut nilai katalog pesanan gabungan lebih dari US$35 miliar.

Namun, Nvidia belum menjamin bahwa seluruh unit dapat diproduksi dan dikirimkan.

Karena itu, angka tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai pendapatan Nvidia yang sudah terealisasi.

Realisasi penjualan akan bergantung pada ketersediaan produk, jadwal pengiriman, ketentuan perdagangan, dan pelaksanaan pesanan.

Hingga laporan diterbitkan, rincian pembagian jumlah pesanan untuk masing-masing perusahaan juga belum diumumkan secara terbuka.

Kesimpulan

Pesanan chip Nvidia dari ByteDance, Alibaba, dan Tencent dilaporkan mencapai lebih dari US$35 miliar.

Ketiga perusahaan memesan lebih dari 3 juta kartu grafis RTX PRO 5500 untuk memenuhi kebutuhan komputasi, termasuk pengembangan AI.

Namun, Nvidia menghadapi keterbatasan produksi sehingga belum dapat menjamin seluruh permintaan terpenuhi.

Permintaan dari seluruh pelanggan China bahkan dilaporkan melampaui 6 juta unit, sedangkan produksi global RTX PRO 5500 pada 2027 diperkirakan tidak lebih dari 3 juta unit.

Perkembangan ini memperlihatkan tingginya kebutuhan chip AI di China sekaligus tantangan pasokan akibat pembatasan ekspor dan prioritas produksi semikonduktor.