
PANDUTEKNO.ID, JAKARTA – Keamanan digital masyarakat menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di tengah berkembangnya penipuan online, penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI), dan penyebaran informasi menyesatkan.
Komdigi membuka peluang kolaborasi dengan Jurnalis Hukum Bandung (JHB) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat untuk memperkuat literasi AI dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman kejahatan digital.
Rencana kerja sama tersebut dibahas dalam audiensi bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).
Melalui keterlibatan jurnalis, pemerintah berharap edukasi mengenai keamanan internet dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Langkah ini dinilai penting karena semakin banyak aktivitas sehari-hari dilakukan melalui layanan digital, mulai dari komunikasi hingga transaksi keuangan.
Komdigi Gandeng Jurnalis Perkuat Keamanan Digital Masyarakat
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyambut baik inisiatif jurnalis Jawa Barat untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai keamanan digital.
Menurut Nezar, masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar agar dapat menggunakan internet dengan lebih aman.
Ia menilai inisiatif Bandung Digital Safety Forum yang digagas kalangan jurnalis dapat menjadi sarana edukasi mengenai risiko aktivitas digital.
Dalam siaran pers resmi Komdigi pada Rabu (14/10/2026), Nezar mengatakan:
“Inisiatif Bandung Digital Safety Forum ini baik sekali dari teman-teman jurnalis di Jawa Barat untuk berbagi informasi tentang bagaimana menggunakan atau memasuki lanskap digital dengan aman.”
Pernyataan tersebut disampaikan dalam audiensi bersama JHB dan PWI Jawa Barat.
Pertemuan itu membuka peluang keterlibatan Komdigi dalam kegiatan edukasi yang dirancang komunitas jurnalis.
Namun, kolaborasi tersebut masih berupa peluang kerja sama yang dibahas dalam audiensi, bukan pengumuman bahwa seluruh program telah selesai dilaksanakan.
Penipuan Online dan Kejahatan Siber Jadi Perhatian
Peningkatan penggunaan internet memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.
Namun, perkembangan teknologi juga menghadirkan risiko baru, termasuk penipuan online, pencurian data, dan penyebaran informasi palsu.
Pelaku kejahatan dapat menggunakan pesan singkat, media sosial, maupun situs palsu untuk mengelabui calon korban.
Modus yang umum ditemui mencakup tautan phishing, permintaan kode OTP, serta penyamaran sebagai petugas layanan resmi.
Karena itu, keamanan digital masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan perangkat atau aplikasi.
Pengguna juga perlu memahami cara mengenali aktivitas mencurigakan dan melindungi informasi pribadi.
Edukasi yang mudah dipahami menjadi salah satu langkah pencegahan agar masyarakat tidak mudah terjebak penipuan.
Komdigi Tegaskan Keamanan Digital Butuh Kerja Sama
Nezar Patria menjelaskan bahwa penguatan keamanan digital melibatkan sejumlah lembaga dengan kewenangan berbeda.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memiliki peran dalam keamanan siber nasional.
Sementara itu, Komdigi menjalankan tugas yang berkaitan dengan tata kelola infrastruktur digital, pengawasan konten negatif, dan peningkatan literasi masyarakat.
Komdigi juga memiliki Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) yang menyelenggarakan pelatihan dan pengembangan keterampilan digital.
Menurut Nezar, pemerintah terbuka untuk mendukung inisiatif edukasi yang melibatkan jurnalis.
“Komdigi siap berpartisipasi untuk memperkuat literasi digital agar konektivitas yang tersedia bisa dimanfaatkan ke arah yang positif,” kata Nezar.
Ia juga menjelaskan bahwa BPSDM memiliki program untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Program Pandu Digital Jadi Sarana Edukasi
Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Komdigi, Said Mirza Pahlevi, menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki program edukasi melalui Pusat Pengembangan Literasi Digital.
Salah satu inisiatifnya adalah Pandu Digital.
Program tersebut melibatkan personel yang memberikan edukasi secara langsung kepada masyarakat.
Melalui pendekatan ini, informasi mengenai penggunaan teknologi dapat disampaikan kepada kelompok masyarakat dengan kebutuhan yang berbeda.
Said Mirza menjelaskan:
“Pandu Digital itu mereka turun ke masyarakat untuk melakukan literasi digital, ada orang yang direkrut untuk turun ke masyarakat.”
Selain Pandu Digital, pemerintah juga menyediakan materi pembelajaran melalui platform Digital Talent Scholarship.
Materinya mencakup video pendek mengenai literasi digital dan penggunaan AI.
Sarana pembelajaran tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mengenai teknologi.
Komdigi Ingatkan Hasil AI Tidak Selalu Benar
Selain penipuan online, Komdigi menyoroti risiko penyalahgunaan kecerdasan buatan.
Teknologi AI dapat membantu pengguna mencari informasi, membuat konten, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan.
Namun, informasi yang dihasilkan AI tidak selalu akurat.
Konten yang terlihat meyakinkan juga belum tentu berasal dari sumber terpercaya.
Said Mirza Pahlevi mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai setiap informasi yang dihasilkan AI.
“Pengguna harus tahu output dari AI itu tidak selalu benar. Harus double check,” tegasnya.
Peringatan tersebut penting karena informasi keliru dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Karena itu, pengguna perlu membandingkan informasi dengan sumber resmi sebelum membagikannya.
Bahaya Deepfake dan Penipuan Berbasis AI
Perkembangan AI juga dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk membuat konten manipulatif.
Salah satu bentuk penyalahgunaannya adalah deepfake, yaitu teknologi yang dapat menghasilkan atau memanipulasi gambar, suara, maupun video agar terlihat menyerupai seseorang.
Konten semacam ini berpotensi digunakan untuk menyamar sebagai pihak tertentu.
Pelaku penipuan juga dapat membuat pesan yang tampak resmi untuk meningkatkan kepercayaan calon korban.
Dalam konteks keamanan digital masyarakat, kemampuan memeriksa identitas pengirim menjadi semakin penting.
Pengguna sebaiknya tidak langsung melakukan transfer uang atau membagikan informasi pribadi hanya berdasarkan pesan, panggilan, atau video yang diterima.
Konfirmasi melalui saluran komunikasi resmi dapat membantu mengurangi risiko penipuan.
Cara Melindungi Diri dari Penipuan Online
Masyarakat dapat menerapkan sejumlah langkah sederhana untuk meningkatkan keamanan saat menggunakan internet.
Pertama, hindari membuka tautan mencurigakan yang dikirim melalui pesan singkat atau aplikasi percakapan.
Kedua, jangan pernah membagikan PIN, kata sandi, atau kode OTP kepada orang lain.
Ketiga, aktifkan autentikasi dua faktor pada akun yang mendukung fitur tersebut.
Keempat, periksa alamat situs dan identitas pengirim sebelum memasukkan informasi pribadi.
Kelima, pastikan informasi mengenai hadiah, investasi, atau permintaan transfer berasal dari sumber resmi.
Jika menerima konten yang diduga dibuat menggunakan AI, pengguna sebaiknya memeriksa konteks dan kebenarannya sebelum menyebarluaskan.
Langkah pencegahan tersebut dapat membantu mengurangi risiko, meskipun tidak menjamin seluruh ancaman digital dapat dihindari.
Jurnalis Diharapkan Bantu Edukasi Publik
Keterlibatan jurnalis dalam edukasi keamanan digital memiliki peran penting.
Jurnalis terbiasa mengumpulkan informasi, memeriksa sumber, dan menyampaikan perkembangan kepada masyarakat.
Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan berbagai modus penipuan digital secara lebih mudah dipahami.
Selain itu, pemberitaan yang akurat dapat membantu masyarakat membedakan informasi resmi dari kabar yang menyesatkan.
Melalui kolaborasi dengan JHB dan PWI Jawa Barat, Komdigi berharap jangkauan edukasi mengenai AI dan keamanan digital semakin luas.
Namun, keberhasilan program tetap bergantung pada pelaksanaan kegiatan dan keberlanjutan edukasi kepada masyarakat.
Pemerintah Siapkan Penguatan Aturan AI
Komdigi juga tengah mempersiapkan kebijakan mengenai pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan.
Said Mirza menjelaskan bahwa pemerintah telah menyusun buku putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial hingga 2029.
Dokumen tersebut sedang diproses menjadi peraturan presiden.
Selain itu, pemerintah menyiapkan pengaturan terkait etika AI untuk mendorong pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem digital yang lebih aman.
Meski demikian, aturan yang masih dalam tahap penyusunan belum dapat diperlakukan sebagai regulasi yang sudah berlaku.
Kesimpulan
Keamanan digital masyarakat menjadi fokus kerja sama yang sedang dijajaki Komdigi bersama Jurnalis Hukum Bandung dan PWI Jawa Barat.
Melalui audiensi pada 13 Oktober 2026, pemerintah menyatakan kesiapan mendukung kegiatan edukasi mengenai keamanan internet, penipuan online, dan penggunaan AI.
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menilai keterlibatan jurnalis dapat membantu masyarakat memahami risiko di ruang digital.
Sementara itu, Said Mirza Pahlevi mengingatkan bahwa informasi hasil AI tidak selalu benar dan perlu diperiksa ulang.
Dengan literasi yang lebih baik, masyarakat diharapkan semakin mampu mengenali penipuan, menjaga data pribadi, serta menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.



































































































































































































































































































































































































