
PANDUTEKNO.ID – JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mulai memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi ancaman keamanan siber dari perkembangan teknologi komputasi kuantum.
Ancaman siber kuantum menjadi perhatian pemerintah karena teknologi tersebut berpotensi melemahkan sejumlah sistem enkripsi yang selama ini digunakan untuk melindungi informasi digital.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pemerintah mulai mendalami teknologi kriptografi pascakuantum atau post-quantum cryptography (PQC).
Langkah tersebut bertujuan menyiapkan sistem perlindungan data yang lebih tangguh terhadap perkembangan kemampuan komputer kuantum pada masa depan.
Pernyataan itu disampaikan Nezar seusai mengikuti Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Kamis (22/10/2026), sebagaimana diberitakan ANTARA pada Jumat (23/10/2026).
Kemkomdigi Antisipasi Ancaman Siber Kuantum
Kemkomdigi menilai perkembangan teknologi kuantum menghadirkan tantangan baru bagi keamanan digital Indonesia.
Komputer kuantum menggunakan prinsip mekanika kuantum untuk menjalankan jenis komputasi tertentu. Teknologi ini berpotensi menyelesaikan sejumlah persoalan jauh lebih cepat dibandingkan komputer konvensional.
Namun, perkembangan tersebut juga membawa risiko terhadap metode kriptografi tertentu.
Nezar Patria menegaskan bahwa pemerintah mulai mempelajari sistem keamanan yang dirancang untuk menghadapi ancaman tersebut.
“Untuk mengatasi ancaman-ancaman siber di era kuantum teknologi, kita mulai mendalami apa yang kita sebut sebagai post-quantum cryptography,” ujar Nezar, dikutip dari ANTARA, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, Indonesia perlu mempersiapkan perlindungan digital sebelum kemampuan komputasi kuantum berkembang lebih jauh.
Apa Itu Kriptografi Pascakuantum?
Kriptografi pascakuantum merupakan pendekatan pengamanan informasi menggunakan algoritma yang dirancang agar tetap kuat menghadapi serangan dari komputer konvensional maupun komputer kuantum.
Teknologi ini menjadi perhatian karena beberapa algoritma kriptografi kunci publik yang digunakan saat ini berpotensi rentan terhadap komputer kuantum yang cukup kuat.
Namun, tidak semua jenis enkripsi otomatis dapat ditembus oleh komputer kuantum.
Risiko dan tingkat ketahanannya bergantung pada algoritma, panjang kunci, serta cara sistem keamanan diterapkan.
Selain itu, komputer kuantum yang mampu membobol sistem kriptografi modern dalam skala luas belum tersedia secara praktis saat ini.
Meski demikian, pengembangan sistem perlindungan baru perlu dilakukan lebih awal karena proses migrasi membutuhkan waktu.
BSSN Siapkan Migrasi Sistem Enkripsi Nasional
Selain Kemkomdigi, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) turut memperkuat kesiapan menghadapi ancaman siber kuantum.
BSSN menyiapkan migrasi kriptografi nasional melalui penyusunan kebijakan, inventarisasi aset, dan pengembangan kemampuan teknis.
Wakil Kepala BSSN Albertus Rachmad Wibowo menyampaikan langkah tersebut dalam Bali Tech Week 2026 pada Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, perkembangan komputasi kuantum dapat menjadi tantangan serius bagi sistem perlindungan informasi.
Karena itu, BSSN membentuk gugus tugas untuk membantu koordinasi persiapan migrasi kriptografi.
Lembaga tersebut juga mendorong keterlibatan kementerian, pemerintah daerah, akademisi, dan industri teknologi.
Kerja sama diperlukan agar perlindungan data strategis dapat dilakukan secara menyeluruh.
BSSN Susun Peta Jalan Kriptografi 2027–2035
BSSN telah menyiapkan peta jalan kemandirian kriptografi nasional untuk periode 2027 hingga 2035.
Program tersebut dibagi menjadi tiga tahap utama.
Tahap pertama berlangsung pada 2027–2029 dengan fokus membangun fondasi kebijakan, kesiapan teknologi, dan sumber daya manusia.
Selanjutnya, tahap kedua pada 2030–2032 diarahkan untuk implementasi serta integrasi sistem kriptografi baru.
Sementara itu, tahap ketiga pada 2033–2035 menargetkan penguatan kedaulatan kriptografi nasional.
Melalui tahapan tersebut, pemerintah berupaya mempersiapkan sistem keamanan digital yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Namun, jadwal tersebut merupakan peta jalan persiapan dan bukan kepastian kapan komputer kuantum akan mampu memecahkan enkripsi yang digunakan saat ini.
Data Dicuri Sekarang, Bisa Dibuka pada Masa Depan
Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah metode harvest now, decrypt later.
Dalam skenario ini, pelaku mencuri dan menyimpan data yang masih terenkripsi.
Kemudian, pelaku berupaya membuka data tersebut ketika teknologi komputasi yang lebih kuat tersedia.
Risiko ini menjadi penting untuk informasi yang harus tetap dirahasiakan selama bertahun-tahun.
Contohnya meliputi dokumen strategis pemerintah, informasi perusahaan, dan data sensitif lainnya.
Kemkomdigi sebelumnya juga telah mengingatkan mengenai ancaman tersebut dalam siaran pers pada 10 Agustus 2026.
Karena itu, perlindungan data perlu mempertimbangkan ancaman masa depan, bukan hanya serangan yang terjadi saat ini.
Infrastruktur Digital Indonesia Perlu Perlindungan
Ancaman siber kuantum juga berkaitan dengan keamanan infrastruktur digital.
Sistem pemerintahan, layanan keuangan, telekomunikasi, dan pusat data menggunakan berbagai teknologi kriptografi untuk melindungi informasi.
Jika metode pengamanan tertentu menjadi rentan, organisasi perlu memperbarui sistem yang digunakan.
Namun, migrasi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti satu perangkat lunak.
Pengelola sistem perlu mengetahui algoritma yang digunakan, menentukan prioritas aset, serta memastikan teknologi pengganti sesuai dengan kebutuhan layanan.
Selain itu, pengujian keamanan diperlukan agar perubahan sistem tidak mengganggu operasional.
Karena itu, kesiapan teknis menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan perlindungan pascakuantum.
Kemkomdigi dan BSSN Perkuat Kerja Sama
Kemkomdigi menyatakan terus berkoordinasi dengan BSSN dalam menjaga keamanan siber nasional.
Kolaborasi tersebut penting karena ancaman digital melibatkan berbagai sektor dan infrastruktur.
Selain lembaga pemerintah, perguruan tinggi serta perusahaan teknologi juga memiliki peran dalam pengembangan solusi keamanan.
Penelitian dibutuhkan untuk memahami kemampuan algoritma baru dan risiko penerapannya.
Sementara itu, industri dapat membantu menyediakan perangkat dan layanan yang memenuhi standar keamanan.
Melalui kerja sama tersebut, Indonesia diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik menghadapi perkembangan teknologi kuantum.
Teknologi AI Ikut Menambah Tantangan Siber
Selain komputasi kuantum, Kemkomdigi menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan siber melalui analisis ancaman dan deteksi aktivitas mencurigakan.
Namun, AI juga berpotensi disalahgunakan untuk mempercepat atau mengotomatisasi serangan.
Karena itu, organisasi perlu mengembangkan pendekatan keamanan yang mempertimbangkan kedua teknologi tersebut.
Kemkomdigi juga menekankan prinsip security by design, yaitu memasukkan aspek keamanan sejak tahap awal pembangunan sistem digital.
Pendekatan ini dapat membantu mengurangi risiko ketika layanan dan infrastruktur baru mulai digunakan.
Pengembangan Talenta Siber Jadi Prioritas
Persiapan menghadapi ancaman siber kuantum membutuhkan tenaga ahli yang memahami kriptografi, jaringan komputer, dan keamanan informasi.
Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari strategi nasional.
Pemerintah mendorong kolaborasi antara lembaga pendidikan, peneliti, dan industri untuk meningkatkan kemampuan teknis.
Selain itu, pelatihan keamanan siber perlu mengikuti perkembangan ancaman dan teknologi.
Tenaga ahli yang memadai akan membantu organisasi melakukan evaluasi serta migrasi sistem keamanan secara bertahap.
Dengan demikian, kesiapan menghadapi komputasi kuantum tidak hanya bergantung pada perangkat teknologi.
Bagaimana Pengguna Internet Harus Bersiap?
Bagi masyarakat umum, ancaman siber kuantum tidak berarti seluruh kata sandi atau layanan digital saat ini sudah dapat dibobol.
Namun, pengguna tetap perlu menerapkan langkah keamanan dasar.
Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun penting.
Selain itu, aktifkan autentikasi multifaktor jika layanan menyediakannya.
Pengguna juga perlu memperbarui perangkat dan aplikasi secara rutin untuk mengurangi risiko eksploitasi celah keamanan.
Sementara itu, pengelola website dan perusahaan sebaiknya mulai memantau perkembangan standar kriptografi pascakuantum.
Langkah tersebut membantu organisasi merencanakan pembaruan sistem tanpa menunggu ancaman menjadi lebih besar.
Kesimpulan
Ancaman siber kuantum mendorong Kemkomdigi memperkuat kesiapan keamanan digital Indonesia melalui pendalaman teknologi kriptografi pascakuantum.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan pentingnya persiapan menghadapi perkembangan komputasi kuantum.
Selain itu, BSSN menyiapkan migrasi kriptografi nasional melalui peta jalan 2027–2035.
Upaya tersebut mencakup penguatan kebijakan, teknologi, sumber daya manusia, dan kerja sama lintas sektor.
Meski komputer kuantum belum mampu membobol seluruh sistem enkripsi modern, persiapan sejak dini penting untuk menjaga keamanan data pada masa depan.
















































































































































































































































































































































































































































