
TOKYO, pandutekno.id – Chip 2 nm Rapidus menjadi salah satu taruhan teknologi terbesar Jepang untuk menghidupkan kembali industri semikonduktor nasional. Dengan total dukungan riset dan pengembangan pemerintah mencapai sekitar US$15 miliar, Rapidus mengejar produksi massal chip 2 nanometer mulai 2027.
Ambisi tersebut membawa perusahaan Jepang yang baru didirikan pada 2022 itu ke arena yang selama ini dikuasai pemain berpengalaman seperti TSMC, Samsung Electronics, dan Intel.
Namun teknologi ternyata bukan satu-satunya tantangan.
Rapidus sekarang harus membuktikan bahwa perusahaan mampu mendapatkan cukup banyak pelanggan untuk mengisi pabrik chip canggihnya di Hokkaido.
Chip 2 Nm Rapidus Jadi Taruhan Besar Jepang
Pemerintah Jepang memberikan dukungan besar karena proyek chip 2 nm Rapidus dianggap strategis untuk mengembalikan posisi negara tersebut dalam industri semikonduktor.
Kementerian Perindustrian Jepang pada April menyetujui tambahan dukungan sekitar US$4 miliar, sehingga total bantuan penelitian dan pengembangan untuk Rapidus mencapai sekitar US$15 miliar.
Selain dukungan proyek R&D, struktur pendanaan Rapidus juga melibatkan pemerintah dan perusahaan swasta.
Pada Februari 2026, Rapidus mengumumkan pendanaan 267,6 miliar yen dari pemerintah dan 32 perusahaan, termasuk Canon, Fujitsu, NTT, SoftBank, Sony Group, Toyota, Kioxia, dan Honda.
Produksi Massal Chip 2 Nm Dibidik 2027
Target Rapidus terbilang agresif.
Perusahaan menargetkan produksi massal semikonduktor logika 2 nm pada 2027, dengan Reuters menyebut rencana peluncuran produksi berada pada paruh kedua tahun fiskal berikutnya.
Teknologi 2 nm berada di jajaran proses manufaktur semikonduktor paling maju saat ini.
Secara umum, teknologi manufaktur mutakhir memungkinkan produsen meningkatkan performa dan efisiensi energi chip dibandingkan generasi yang lebih lama.
Masalahnya, hanya sedikit perusahaan yang mempunyai kemampuan untuk membuatnya dalam skala komersial.
TSMC, Samsung dan Intel Jadi Lawan Berat
Rapidus memasuki arena yang dipenuhi perusahaan raksasa.
TSMC dari Taiwan merupakan pemain dominan dalam manufaktur chip mutakhir, sedangkan Samsung Electronics telah memulai produksi chip 2 nm pada tahun lalu. Intel juga menjadi salah satu perusahaan yang memiliki kemampuan manufaktur semikonduktor tingkat lanjut.
Rapidus sendiri belum mempunyai rekam jejak produksi massal seperti para pesaingnya.
Itulah mengapa tantangan perusahaan bukan hanya berhasil membuat transistor 2 nm, tetapi juga mempertahankan yield, kualitas dan stabilitas produksi ketika pabrik beroperasi sepanjang waktu.
Analis IwaiCosmo Securities Kazuyoshi Saito menjelaskan:
“Running a chip fab around the clock, maintaining stable, consistent yields … is extremely difficult.”
Ia bahkan menambahkan bahwa Samsung juga pernah menghadapi kesulitan dalam proses tersebut.
Rapidus Sudah Berhasil Membuat Prototipe 2 Nm
Dari sisi pengembangan teknologi, Rapidus telah mencapai beberapa tonggak penting.
Perusahaan sebelumnya berhasil melakukan verifikasi transistor GAA 2 nm pertama di Jepang dan telah menjalankan operasi percontohan di fasilitas IIM-1 di Chitose, Hokkaido.
Fasilitas tersebut juga menggunakan teknologi litografi Extreme Ultraviolet atau EUV yang diperlukan dalam pembuatan semikonduktor generasi mutakhir.
Rapidus menyebut dirinya sebagai perusahaan pertama yang memasang mesin EUV canggih tersebut di Jepang.
CEO Rapidus Atsuyoshi Koike mengatakan persiapan menuju produksi massal berjalan sesuai jadwal.
Meski demikian, keberhasilan membuat prototipe belum otomatis menjamin produksi komersial dapat dilakukan secara menguntungkan.
Tantangan Terbesar Rapidus: Cari Pelanggan
Inilah persoalan yang kini menjadi perhatian investor dan industri.
Rapidus membutuhkan perusahaan chip yang bersedia mempercayakan desain mereka untuk diproduksi di fasilitas perusahaan.
Investment Director White Oak Capital Nori Chiou mengatakan:
“The biggest question for Rapidus is still who will actually fill the fab.”
Artinya, pertanyaan terbesar sekarang adalah siapa yang akan mengisi kapasitas pabrik Rapidus dengan pesanan nyata.
Tanpa pelanggan dalam jumlah memadai, teknologi manufaktur yang canggih sekalipun akan sulit menghasilkan bisnis yang berkelanjutan.
Gandeng 17 Perusahaan untuk Kejar Pelanggan
Rapidus tidak tinggal diam.
Pada 5 Oktober 2026, perusahaan mengumumkan pembentukan Rapidus Collaborative Open Rapid Ecosystem (CORE) untuk membangun ekosistem pengembangan dan produksi semikonduktor mutakhir.
Sebagai tahap awal, Rapidus menggandeng 17 perusahaan untuk membantu calon pelanggan dalam proses desain chip.
Reuters menyebut nama perusahaan perangkat lunak desain chip Amerika Serikat Synopsys serta perusahaan teknologi India Infosys termasuk di dalamnya.
Strateginya sederhana: Rapidus tidak ingin hanya menyediakan pabrik.
Perusahaan ingin membangun ekosistem mulai dari desain, intellectual property, perangkat lunak EDA hingga manufaktur sehingga pelanggan lebih mudah membawa desain chip mereka ke proses produksi 2 nm.
CEO Rapidus Yakin Pasar Masih Luas
Meski berhadapan dengan TSMC dan Samsung, Atsuyoshi Koike percaya pasar masih mempunyai ruang bagi produsen baru.
“One or two companies are nowhere near enough.”
Menurut Koike, satu atau dua perusahaan manufaktur tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Analis Omdia Akira Minamikawa juga memperkirakan TSMC akan tetap menguasai mayoritas pasar.
Namun masih terdapat pelanggan yang tidak mendapatkan kapasitas TSMC karena ukuran pesanan mereka lebih kecil atau berada lebih rendah dalam daftar prioritas perusahaan.
Celah tersebut dapat menjadi peluang bagi Rapidus.
Calon Pelanggan Masih Berhati-hati
Tantangannya, berpindah produsen chip bukan perkara sederhana.
Seorang eksekutif perusahaan yang berpotensi menjadi pelanggan Rapidus mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaannya sudah menggunakan TSMC sehingga tidak dapat begitu saja memindahkan seluruh produksinya.
“We have to be cautious.”
Kekhawatirannya adalah apabila produksi melalui Rapidus tidak berjalan sesuai rencana, mendapatkan kembali kapasitas produksi TSMC belum tentu mudah.
Faktor kepercayaan inilah yang harus dibangun Rapidus sebelum produksi massal dimulai.
Jepang Pernah Kuasai Separuh Pasar Chip Dunia
Ambisi Rapidus juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah industri teknologi Jepang.
Pada dekade 1980-an, Jepang pernah menguasai sekitar 50% pasar semikonduktor global.
Kini porsinya telah turun menjadi kurang dari 10%.
Pemerintah Jepang ingin membalikkan penurunan tersebut sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok semikonduktor.
Kekhawatiran geopolitik di Asia turut meningkatkan urgensi diversifikasi produksi chip global, khususnya karena besarnya ketergantungan industri terhadap Taiwan.
Rapidus Juga Bekerja Sama dengan IBM
Untuk mempercepat pengembangan teknologi, Rapidus bekerja sama dengan IBM.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam upaya perusahaan mengembangkan teknologi manufaktur 2 nm.
Rapidus kini telah memasuki tahap operasi percontohan. Namun Reuters mencatat keberhasilan komersialnya masih jauh dari jaminan.
Perusahaan juga sedang meningkatkan yield produksi dan mempersiapkan teknologi advanced packaging 2.xD serta 3D untuk chip generasi mendatang.
Rapidus Bisa Melantai di Bursa
Jika rencana jangka panjang berjalan sesuai target, Rapidus juga mempertimbangkan penawaran umum perdana saham atau IPO.
Perusahaan menargetkan kemungkinan IPO sekitar tahun fiskal yang berakhir Maret 2032.
Tidak berhenti di Jepang, fasilitas manufaktur di Amerika Serikat juga disebut sebagai salah satu kemungkinan pada masa depan.
Daishiro Yamagiwa, anggota parlemen yang memimpin kelompok strategi chip Partai Demokrat Liberal Jepang, mengatakan IPO dan operasi manufaktur di AS merupakan kemungkinan yang dapat dipertimbangkan.
Namun rencana tersebut masih bersifat jangka panjang.
Prioritas terdekat Rapidus tetap membuktikan teknologi 2 nm dan mendapatkan pelanggan.
Chip 2 Nm Rapidus Bisa Jadi Titik Balik Jepang
Keberhasilan chip 2 nm Rapidus akan menentukan apakah Jepang mampu kembali menjadi pemain penting dalam manufaktur semikonduktor tercanggih.
Dukungan pemerintah sekitar US$15 miliar memberikan Rapidus sumber daya besar. Perusahaan juga telah membuat prototipe transistor 2 nm, membangun fasilitas canggih di Hokkaido dan menggandeng 17 perusahaan untuk membangun ekosistem desain.
Tetapi tantangan sebenarnya baru dimulai.
Rapidus harus membuktikan mampu memproduksi chip secara stabil, meningkatkan yield, menawarkan harga kompetitif dan—yang paling penting—meyakinkan perusahaan teknologi untuk menjadi pelanggan.
Jika berhasil, Rapidus dapat memberikan alternatif baru di pasar foundry mutakhir yang selama ini didominasi segelintir perusahaan.
Jika gagal, proyek tersebut berpotensi menjadi kemunduran besar bagi strategi Jepang menghidupkan kembali industri semikonduktornya.











































































































































































































































































































































































