
JAKARTA, pandutekno.id – Ancaman siber seluler di kawasan Asia Pasifik memasuki pola baru yang semakin mengkhawatirkan. Penjahat siber kini tidak sekadar menyebarkan serangan secara massal, tetapi semakin gigih mengincar pengguna tertentu dengan malware, phishing, rekayasa sosial hingga penipuan yang diperkuat kecerdasan buatan atau AI.
Data Kaspersky menunjukkan rata-rata jumlah deteksi ancaman seluler per pengguna terdampak di delapan pasar Asia Pasifik meningkat 49 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.
Rata-ratanya naik dari 4,9 deteksi menjadi 7,3 deteksi per pengguna terdampak. Peningkatan terjadi meskipun jumlah keseluruhan pengguna yang menghadapi ancaman justru menurun di sejumlah pasar.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perubahan strategi. Pelaku semakin fokus melakukan serangan berulang terhadap kelompok pengguna yang lebih kecil.
Ancaman Siber Seluler Naik 49 Persen per Pengguna
Angka 49 persen menjadi salah satu temuan penting dalam laporan tersebut.
Namun, angka itu perlu dipahami secara tepat. Kaspersky tidak menyebut total seluruh serangan siber Asia Pasifik naik 49 persen.
Yang meningkat 49 persen adalah rata-rata jumlah deteksi ancaman seluler pada setiap pengguna yang terdampak, yakni dari 4,9 pada kuartal I 2025 menjadi 7,3 pada kuartal I 2026.
Peningkatan tersebut tercatat di delapan pasar Asia Pasifik yang dianalisis.
Artinya, pengguna yang sudah menjadi sasaran menghadapi ancaman dengan intensitas lebih tinggi.
Indonesia Catat 15.163 Deteksi
Indonesia menjadi salah satu negara yang perlu memberikan perhatian besar terhadap ancaman siber seluler.
Kaspersky mencatat 15.163 deteksi ancaman seluler di Indonesia pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua dari sisi volume deteksi di antara pasar yang dianalisis.
India berada di posisi pertama dengan 18.187 deteksi.
Sementara itu, China mencatat 6.797 deteksi. Filipina mencapai 2.011, Bangladesh 1.859, Thailand 2.494, sedangkan Sri Lanka mencatat 922 deteksi.
Besarnya angka Indonesia menjadi relevan karena aktivitas masyarakat semakin bergantung pada ponsel untuk komunikasi, transaksi, pekerjaan hingga berbagai layanan digital.
Penjahat Siber Kini Lebih Gigih Memburu Korban
Data tersebut memperlihatkan perubahan pola ancaman siber seluler.
Alih-alih hanya berusaha menjaring korban sebanyak mungkin, penyerang semakin berkonsentrasi pada individu tertentu dan menyerang mereka secara berulang.
Kaspersky mengamati bahwa kampanye serangan juga semakin disesuaikan dengan perilaku pengguna lokal, layanan digital yang populer, serta perkembangan ekonomi mobile-first di Asia Pasifik.
Serangan bahkan dapat dilakukan secara bertahap.
Korban mungkin pertama kali menerima file, pesan atau tautan yang tampak tidak berbahaya. Serangan kemudian berkembang ke tahap berikutnya sehingga menjadi lebih sulit dikenali dan dihentikan.
Phishing Menyebar Lewat Chat dan Media Sosial
Rekayasa sosial masih menjadi senjata penting bagi penjahat siber.
Tautan phishing tidak lagi hanya mengandalkan email. Pelaku menyebarkannya melalui SMS, aplikasi pesan instan, media sosial, iklan berbahaya, tawaran pekerjaan palsu, promosi digital hingga pembagian aset kripto palsu.
Teknik typosquatting juga masih digunakan.
Pelaku membuat alamat situs yang sangat mirip dengan domain asli sehingga pengguna mengira sedang mengakses halaman resmi.
Situs tersebut kemudian dapat digunakan untuk mencuri kredensial, informasi pribadi atau data lain milik korban.
Akun aplikasi pesan yang telah dibajak juga bisa digunakan untuk mengirim tautan berbahaya kepada orang lain. Karena pesan seolah-olah datang dari teman atau orang yang dikenal, korban berpotensi lebih mudah percaya.
AI Bikin Penipuan Makin Meyakinkan
Perkembangan AI turut mengubah wajah ancaman siber seluler.
Riset konsumen global Kaspersky bertajuk The Great Messaging Heist menemukan 66 persen korban penipuan meyakini AI digunakan untuk menargetkan mereka.
Dari kelompok tersebut, 42 persen melaporkan pesan yang dibuat menggunakan AI.
Kemudian, 31 persen melaporkan penggunaan suara sintetis atau kloning suara, sementara 25 persen menghadapi gambar atau video deepfake.
Teknologi tersebut dapat membantu penipu menghasilkan komunikasi yang terdengar semakin natural.
Pelaku bahkan dapat menyamar seolah-olah menjadi anggota keluarga, perusahaan, bank, layanan pengiriman atau pihak lain yang dipercaya calon korban.
Penipuan Bisa Berhasil dalam Kurang dari 30 Menit
Kecepatan menjadi masalah lainnya.
Riset yang sama menemukan 52 persen kasus penipuan berbasis pesan yang berhasil berlangsung kurang dari 30 menit, dihitung sejak kontak pertama sampai korban menyerahkan uang atau data pribadi.
Hal ini menunjukkan bahwa pelaku berusaha membuat korban mengambil keputusan secepat mungkin.
Pesan seperti permintaan transfer darurat, akun akan diblokir, hadiah dengan batas waktu tertentu atau permintaan kode verifikasi dapat menciptakan tekanan psikologis.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung mengambil tindakan ketika menerima permintaan mendesak melalui perangkat seluler.
Malware Seluler Tetap Mengintai
AI dan rekayasa sosial bukan satu-satunya masalah.
Malware tradisional tetap menjadi bagian penting dari ancaman siber seluler di Asia Pasifik.
Kaspersky mencatat Trojan Rewardsteal masih ditemukan di India. Malware tersebut dapat menyamar sebagai aplikasi hadiah atau giveaway untuk mencuri informasi sensitif.
Trojan Thamera juga kembali terdeteksi. Malware tersebut dapat membajak perangkat untuk digunakan membuat akun media sosial palsu dalam skala besar.
Secara global, data Kaspersky Security Network menunjukkan lebih dari 2,67 juta serangan yang melibatkan malware, adware atau perangkat lunak seluler yang tidak diinginkan berhasil dicegah pada kuartal I 2026.
Kaspersky juga menemukan lebih dari 306 ribu paket instalasi berbahaya, termasuk 162.275 paket yang terkait dengan Trojan perbankan seluler.
Pengguna Bahkan Bisa Terpapar Tanpa Banyak Interaksi
Ancaman tertentu semakin sulit dikenali karena tidak selalu membutuhkan tindakan besar dari korban.
Kaspersky mencatat pengguna dalam beberapa kasus dapat terpapar konten berbahaya hanya dengan mengunjungi halaman web yang telah disusupi.
Serangan bertahap juga dapat dimulai dari pesan atau file yang pada awalnya terlihat aman.
Kondisi ini membuat pendekatan keamanan yang hanya bergantung pada kewaspadaan pengguna semakin tidak memadai.
Perlindungan teknis pada perangkat dan akun menjadi sama pentingnya.
Kaspersky Ingatkan Serangan Semakin Canggih
Head of Consumer Channel Asia Pasifik Kaspersky, Choon Hong Chee, mengatakan penjahat siber kini menggabungkan berbagai metode untuk menyerang konsumen.
Ia mengatakan:
“Across APAC, mobile threats are becoming increasingly sophisticated.”
Menurut Kaspersky, pelaku mengombinasikan teknik serangan tersembunyi, malware persisten dan penipuan berbasis AI. Kondisi itu membuat ancaman semakin meyakinkan sekaligus lebih sulit dikenali pengguna.
Kaspersky menilai perlindungan membutuhkan sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif, termasuk sebelum pengguna menyadari bahwa serangan sedang berlangsung.
Komdigi Juga Soroti Deepfake dan Rekayasa Sosial
Risiko penyalahgunaan AI dalam serangan siber juga menjadi perhatian pemerintah Indonesia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebelumnya mengatakan perkembangan AI telah mengubah cara kejahatan siber dilakukan.
Menurut Nezar, deepfake dan rekayasa sosial yang memanfaatkan AI membuat penipuan semakin sulit dikenali.
“Kita perlu bergeser ke desain atau proses bisnis yang mengutamakan keamanan.”
Nezar menyebut pendekatan tersebut sebagai security by design, yakni keamanan yang sudah menjadi bagian dari pembangunan teknologi sejak awal dan bukan baru diterapkan setelah serangan terjadi.
Cara Menghadapi Ancaman Siber Seluler
Di tengah meningkatnya intensitas serangan, pengguna perlu memperkuat perlindungan perangkat dan akun digital.
Kaspersky menyarankan pengguna memeriksa keaslian aplikasi sebelum memasangnya, berhati-hati terhadap hadiah atau promosi yang terlalu menggiurkan, serta mengecek izin akses yang diminta aplikasi.
Pengguna juga dianjurkan mengaktifkan autentikasi multifaktor (MFA), memperbarui sistem operasi dan aplikasi secara rutin, serta menggunakan perlindungan keamanan seluler yang mampu mendeteksi ancaman secara real-time.
Yang tak kalah penting, jangan langsung mempercayai pesan mendesak yang meminta uang, password, PIN, OTP atau informasi pribadi.
Jika seseorang yang dikenal tiba-tiba meminta transfer melalui pesan atau panggilan mencurigakan, lakukan verifikasi melalui jalur komunikasi lain sebelum mengambil tindakan.
Ancaman Siber Seluler Semakin Personal
Data kuartal I 2026 memperlihatkan bahwa ancaman siber seluler di Asia Pasifik tidak sekadar bertambah dalam intensitas, tetapi juga semakin personal.
Rata-rata deteksi per pengguna terdampak naik 49 persen, dari 4,9 menjadi 7,3. Indonesia menjadi salah satu pasar dengan volume terbesar dengan 15.163 deteksi.
Pada saat yang sama, AI membuat pesan palsu, kloning suara dan deepfake semakin mudah dibuat dan berpotensi membuat rekayasa sosial lebih meyakinkan.
Perubahan tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan ponsel kini bukan hanya soal memasang antivirus. Kemampuan mengenali rekayasa sosial, menjaga kredensial, memverifikasi komunikasi dan mengaktifkan perlindungan akun menjadi bagian penting untuk menghadapi pola serangan yang semakin tertarget.















































































































































































































































































































































