
PARIS, Perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah lanskap keamanan digital dunia. Ancaman siber AI dinilai semakin cepat dan canggih sehingga industri mulai memperkuat sistem pertahanan dengan memanfaatkan teknologi AI untuk mendeteksi dan merespons serangan.
CEO sekaligus Chairman Thales, Patrice Caine, menyerukan peningkatan investasi pada pertahanan siber berbasis AI. Menurutnya, kecerdasan buatan memungkinkan penyerang bergerak lebih cepat dan menjalankan serangan yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis lebih besar.
Ancaman Siber AI Semakin Canggih
Caine menyampaikan peringatan tersebut dalam Thales Cyber Summit 2026. AI, menurutnya, bukan hanya meningkatkan kecepatan serangan, tetapi juga memberikan kemampuan lebih besar kepada pelaku untuk menjalankan operasi yang kompleks.
Sebagian sistem AI bahkan semakin otonom dan dapat melakukan sejumlah tindakan tanpa pengawasan manusia secara langsung. Perubahan ini membuat organisasi harus meningkatkan kemampuan deteksi dan respons mereka.
Caine menggambarkan laju peningkatan serangan siber sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan.
“It’s just frightening to see at what speed these cyberattacks increase every day, every month, every year.”
Pernyataan tersebut menunjukkan kekhawatiran industri terhadap kecepatan perkembangan ancaman digital ketika kemampuan AI semakin mudah dimanfaatkan.
Industri Mulai Lawan AI dengan AI
Teknologi yang digunakan untuk memperkuat serangan pada saat yang sama dapat dimanfaatkan untuk membangun pertahanan.
Menurut Caine, AI memberikan kesempatan bagi tim keamanan untuk menghadapi serangan dengan skala dan kecepatan yang sebanding dengan teknologi yang digunakan penyerang.
“AI can be used to protect, to defend and protect yourself, using the same scale and same speed that attackers use to attack.”
Dengan pendekatan tersebut, sistem AI dapat membantu organisasi menganalisis aktivitas mencurigakan, mengidentifikasi potensi ancaman, dan mempercepat respons terhadap insiden keamanan.
61 Persen Organisasi Sebut Aplikasi AI Jadi Target
Data Thales 2026 Data Threat Report memperlihatkan besarnya tantangan keamanan yang menyertai penggunaan AI di lingkungan perusahaan.
Survei global terhadap 3.120 responden profesional keamanan dan manajemen TI menemukan 61 persen organisasi melaporkan aplikasi AI mereka menjadi target penyerang, dengan data sensitif sebagai sasaran utama.
Selain itu, 59 persen responden pernah melihat serangan berbasis deepfake, sementara 48 persen mengalami dampak reputasi akibat misinformasi yang dihasilkan AI.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ancaman siber AI tidak hanya berkaitan dengan malware atau eksploitasi perangkat lunak. Manipulasi identitas, pencurian kredensial, deepfake, dan penyalahgunaan informasi juga menjadi perhatian.
Pencurian Kredensial Jadi Ancaman Cloud
Infrastruktur cloud turut menjadi sasaran penting serangan.
Laporan Thales mencatat 67 persen organisasi melihat pencurian kredensial dan penyalahgunaan rahasia digital meningkat sebagai teknik serangan terhadap infrastruktur cloud.
Pada saat yang sama, hanya sekitar separuh data sensitif di cloud yang telah dienkripsi. Kondisi ini meningkatkan pentingnya pengamanan identitas, hak akses, kunci API, token, dan informasi perusahaan ketika AI semakin terintegrasi dengan sistem bisnis.
Pelaku Negara Ikut Jadi Perhatian
Perubahan lain yang menjadi sorotan adalah profil pelaku serangan.
Caine mengatakan ancaman tidak lagi hanya datang dari penjahat siber yang mengejar keuntungan finansial. Aktor negara juga menjadi perhatian, terutama dalam serangan terhadap pemerintah, perusahaan, dan organisasi yang menjalankan layanan kritis.
“It’s also state actors that launch cyberattacks, not only on governmental institutions and organisations, but also on private companies.”
Dalam survei Thales 2026, 63 persen responden menempatkan penyerang yang terkait negara dalam tiga besar sumber kekhawatiran mereka.
Thales Perkenalkan Perlindungan Baru
Menghadapi perkembangan ancaman siber AI, Thales memperkenalkan sejumlah teknologi keamanan baru.
Salah satunya adalah Sentinel Envelope Plus yang dirancang untuk memperkuat aplikasi terhadap reverse engineering berbantuan AI, pencarian kerentanan otomatis, dan pembuatan eksploit otomatis.
Dalam pengujian terkontrol Thales, agen AI berhasil menemukan 8 dari 10 kerentanan pada aplikasi yang belum mendapatkan perlindungan tersebut.
Ketika aplikasi yang sama dilindungi Sentinel Envelope Plus, agen AI tidak berhasil menemukan kerentanan dalam pengujian itu meski menggunakan upaya komputasi yang jauh lebih besar. Thales menekankan perlindungan tersebut tidak menghilangkan kerentanan pada kode, melainkan membuatnya lebih sulit ditemukan dan dieksploitasi sehingga organisasi mendapat waktu tambahan untuk melakukan perbaikan.
Perlindungan Data Semakin Penting
Thales juga meluncurkan CipherTrust Data Security Posture Management (DSPM), yang dirancang untuk membantu perusahaan menemukan data sensitif, menganalisis risiko, dan menerapkan perlindungan.
Platform tersebut mendukung perlindungan melalui enkripsi, masking, dan tokenisasi pada lingkungan cloud, on-premises, maupun sistem hibrida.
Langkah tersebut menjadi relevan karena AI dan agen otonom semakin banyak memperoleh akses terhadap data perusahaan.
Organisasi bukan hanya harus mengamankan sistem AI dari serangan, tetapi juga memastikan AI tidak memperoleh akses berlebihan terhadap informasi sensitif.
Ancaman Siber AI Dorong Investasi Keamanan
Meningkatnya risiko turut menarik investasi besar ke industri keamanan siber.
Reuters melaporkan perusahaan keamanan siber berbasis AI Armadin mendapatkan pendanaan Seri B sebesar US$255,5 juta, yang membuat valuasinya melampaui US$2,5 miliar. Pendanaan tersebut mencerminkan besarnya minat investor terhadap perusahaan yang membangun pertahanan menghadapi serangan berbasis AI.
Bagi perusahaan dan penyedia layanan kritis, perkembangan ancaman siber AI membuat perlindungan data, identitas, aplikasi, serta infrastruktur digital semakin penting.
AI kini berada pada dua sisi keamanan siber: teknologi tersebut dapat mempercepat dan meningkatkan kemampuan serangan, tetapi juga dapat membantu tim keamanan mendeteksi ancaman dan meresponsnya dengan skala serta kecepatan yang lebih tinggi.















































































































































































































































































































































