PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Investasi AI Pecahkan Rekor, Data Center Dunia Butuh Modal US$31,6 Triliun hingga 2050

JAKARTA, pandutekno.id – Investasi data center AI memasuki skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ledakan penggunaan kecerdasan buatan mendorong perusahaan teknologi membangun infrastruktur komputasi dalam jumlah besar, mulai dari pusat data, server, jaringan hingga chip berperforma tinggi.

Laporan Global Data Centre Outlook 2026–50 dari PwC memproyeksikan kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) data center global mencapai sekitar US$31,6 triliun hingga 2050 dalam skenario dasar. Angka tersebut mencakup pembangunan fasilitas serta teknologi komputasi di dalamnya untuk memenuhi kebutuhan AI dunia.

Reuters bahkan menggambarkan arus modal menuju AI saat ini melampaui skala investasi yang pernah mengalir pada era pembangunan kereta api maupun ledakan internet, setelah memperhitungkan inflasi.

Investasi Data Center AI Diproyeksi US$31,6 Triliun

PwC memperkirakan belanja modal data center tahunan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Pada 2026, capex data center global diperkirakan sekitar US$800 miliar per tahun. Angkanya diproyeksikan menjadi sekitar US$1,1 triliun pada 2030, kemudian melonjak menjadi US$1,8 triliun per tahun pada 2050.

Kebutuhan investasi yang sangat besar bukan hanya berasal dari pembangunan gedung baru.

Komponen utama justru berupa perangkat teknologi informasi dan komunikasi (ICT), termasuk server, penyimpanan data, perangkat jaringan, CPU dan terutama GPU yang menjadi mesin utama pemrosesan berbagai sistem AI.

PwC memperkirakan porsi peralatan ICT terhadap total investasi meningkat dari sekitar 70 persen pada 2026 menjadi 93 persen pada 2050.

Chip AI Harus Terus Diganti

Salah satu alasan investasi data center AI terus membesar adalah usia ekonomis perangkat komputasi yang jauh lebih pendek dibandingkan bangunan data center.

Server dan GPU diperkirakan memerlukan pembaruan setiap empat hingga enam tahun karena perkembangan teknologi berlangsung cepat.

Artinya, operator tidak cukup membangun sebuah data center sekali dan kemudian mengoperasikannya selama puluhan tahun. Perangkat komputasi di dalam fasilitas tersebut harus berulang kali diganti dan ditingkatkan.

PwC memperkirakan setiap US$1 belanja konstruksi secara efektif dapat membawa kebutuhan sekitar US$12 belanja peralatan ICT di masa mendatang.

PwC: Infrastruktur AI Jadi Tantangan Investasi Generasi Baru

Global Infrastructure Leader PwC Australia, Clara Cutajar, mengatakan skala pembangunan tersebut membuat infrastruktur AI menjadi persoalan investasi yang melibatkan jauh lebih banyak sektor daripada teknologi saja.

“AI infrastructure is becoming one of the defining capital allocation challenges of the next generation.”

Menurut Cutajar, pembangunan infrastruktur AI bersinggungan dengan teknologi, energi, real estat, rantai pasok, regulasi hingga pembiayaan. Kondisi tersebut mengubah cara investor menilai kebutuhan modal, risiko dan tingkat pengembalian investasi.

Dengan demikian, persaingan AI tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki model kecerdasan buatan tercanggih. Kemampuan menyediakan listrik, chip, jaringan serta infrastruktur fisik dalam jumlah besar juga menjadi faktor utama.

Amerika Serikat Diproyeksi Serap Hampir Separuh Investasi

Amerika Serikat diperkirakan tetap menjadi pusat utama gelombang investasi tersebut.

Dalam skenario dasar PwC, AS diproyeksikan menyerap sekitar US$15,1 triliun atau 48 persen dari investasi data center global hingga 2050.

Sementara kawasan Asia-Pasifik diperkirakan memperoleh sekitar US$8,2 triliun, dengan China dan India menjadi dua pasar utama.

PwC juga melihat strategi sovereign AI atau kedaulatan AI mulai mendorong pembangunan infrastruktur di Eropa dan Timur Tengah.

Perubahan tersebut dapat membuat peta pusat komputasi global pada 2050 berbeda jauh dibandingkan kondisi saat ini.

Indonesia Bisa Mendapat Dampak dari Tren Sovereign AI

Menariknya, Indonesia juga muncul dalam analisis PwC ketika perusahaan tersebut membuat skenario meningkatnya kebutuhan kedaulatan digital.

Dalam skenario itu, pemerintah dan sektor yang diatur ketat semakin memilih menjalankan beban kerja strategis—seperti layanan publik, keuangan, kesehatan dan AI nasional—menggunakan infrastruktur yang lebih dekat atau berada di dalam negeri.

PwC menilai Indonesia, India, Vietnam, Filipina dan Thailand berpotensi mengalami peningkatan investasi dibandingkan skenario dasar karena memiliki permintaan domestik besar tetapi kapasitas data center relatif belum sebesar pusat regional yang lebih matang.

Namun, ini merupakan skenario pemodelan PwC, bukan kepastian nilai investasi yang akan masuk ke Indonesia.

Listrik Jadi Tantangan Terbesar Data Center AI

Besarnya modal ternyata bukan satu-satunya persoalan.

PwC menilai ketersediaan energi justru menjadi salah satu faktor paling menentukan lokasi pembangunan data center.

Data center AI membutuhkan listrik dalam skala besar dan stabil. Investor juga semakin membutuhkan pasokan listrik rendah karbon agar ekspansi komputasi tidak memperbesar jejak emisi secara berlebihan.

Selain listrik, PwC mengidentifikasi konektivitas, keamanan, kepastian kebijakan, penerimaan masyarakat dan akses terhadap GPU sebagai faktor yang menentukan lokasi investasi.

Karena itu, negara yang memiliki modal besar belum tentu otomatis menjadi lokasi ideal jika jaringan listrik dan infrastrukturnya tidak mampu memenuhi kebutuhan fasilitas AI.

Industri AI Hadapi Pertanyaan Besar soal Balik Modal

Di balik angka investasi fantastis tersebut, muncul pertanyaan tentang kemampuan industri menghasilkan pendapatan yang cukup besar untuk membiayai pembangunan.

Reuters mengutip kajian Bain & Company yang memperkirakan perusahaan hyperscaler dan pelaku lain dalam perlombaan AI perlu menemukan lebih dari US$4,2 triliun pendapatan baru dalam lima tahun untuk membiayai pembangunan infrastruktur.

Kajian itu menyebut:

“The question is whether the applications arrive in time to pay for it.”

Intinya, tantangan bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi apakah aplikasi dan pasar baru berbasis AI berkembang cukup cepat untuk menghasilkan pendapatan yang sepadan dengan investasi tersebut.

Reuters juga mencatat ekonom masih mempertanyakan kapan peningkatan produktivitas AI secara luas benar-benar terlihat dalam perekonomian.

Anthropic Rencanakan Belanja Ratusan Miliar Dolar

Skala kebutuhan modal juga terlihat dari rencana perusahaan AI individual.

Reuters melaporkan Anthropic merencanakan pengeluaran sekitar US$518 miliar dalam beberapa tahun mendatang, berdasarkan prospektus IPO yang dilihat Reuters. Jumlah tersebut disebut lebih dari 100 kali pendapatan perusahaan pada 2025.

Angka itu menunjukkan bagaimana perlombaan pengembangan model AI kini berjalan beriringan dengan perlombaan memperoleh kapasitas komputasi.

Semakin besar dan kompleks model AI, semakin besar pula kebutuhan GPU, listrik, pendinginan, jaringan serta fasilitas data center.

Skenario Agresif Bisa Mendekati US$50 Triliun

Angka US$31,6 triliun bukan batas atas proyeksi PwC.

Dalam skenario ketika adopsi AI berkembang lebih cepat, kebutuhan capex data center global berpotensi mendekati US$50 triliun hingga 2050.

Sebaliknya, skenario pertumbuhan AI yang lebih lambat dapat menekan kebutuhan investasi sekitar US$10 triliun dibandingkan skenario dasar.

Ada pula risiko geopolitik.

Jika pembatasan ekspor mengganggu rantai pasok chip global, PwC memperkirakan investasi kumulatif dapat turun menjadi sekitar US$25,5 triliun, atau sekitar US$6 triliun di bawah proyeksi dasar US$31,6 triliun.

Investasi Data Center AI Memasuki Era Baru

Gelombang investasi data center AI menunjukkan bahwa perlombaan kecerdasan buatan bukan hanya pertarungan perangkat lunak.

Di belakang layanan AI terdapat jaringan infrastruktur fisik bernilai triliunan dolar yang membutuhkan chip, server, listrik, pendinginan, konektivitas dan pembiayaan.

Proyeksi PwC sebesar US$31,6 triliun hingga 2050 menggambarkan skala peluang sekaligus risikonya. Permintaan komputasi dapat terus meningkat, tetapi kemampuan industri menghasilkan keuntungan, mendapatkan chip dan menyediakan energi dalam skala besar akan menentukan seberapa jauh proyeksi tersebut benar-benar terealisasi.