PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

Data Center AI Haus Energi, Teknologi Nuklir Mulai Dilirik Eropa

HELSINKI, pandutekno.id – Pertumbuhan kecerdasan buatan dan komputasi awan membuat kebutuhan listrik data center Eropa meningkat pesat. Kondisi tersebut ikut mendorong perhatian terhadap energi nuklir sebagai salah satu sumber energi rendah karbon yang dapat menopang kebutuhan energi secara stabil.

Sorotan terbaru datang dari Finlandia. Perusahaan teknologi nuklir Steady Energy resmi melantai di Nasdaq Helsinki First North pada Jumat, 2 Oktober 2026, ketika minat terhadap energi nuklir di Eropa meningkat di tengah ekspansi cloud computing dan pusat data.

Data Center Eropa Dongkrak Permintaan Energi

Perkembangan AI membutuhkan pusat data dalam skala semakin besar. Server untuk melatih dan menjalankan model AI membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan beroperasi secara terus-menerus.

Reuters sebelumnya melaporkan kapasitas data center Uni Eropa diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 12 gigawatt (GW) pada 2025 menjadi 28 GW pada 2030.

Saat ini, pusat data diperkirakan menggunakan sekitar 2,5 persen konsumsi listrik Uni Eropa. Pertumbuhan kapasitas pusat data berarti porsinya berpotensi meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Lonjakan tersebut membuat Eropa menghadapi dua tantangan sekaligus: menyediakan listrik untuk ekonomi digital sekaligus mempertahankan agenda transisi menuju energi rendah karbon.

Teknologi Nuklir Kembali Mendapat Perhatian

Reuters melaporkan pencatatan saham Steady Energy berlangsung ketika minat terhadap nuklir meningkat karena Eropa bersiap menghadapi pertumbuhan kebutuhan energi dari cloud computing dan ekspansi pusat data.

Pada saat yang sama, kota-kota Eropa juga mencari alternatif rendah karbon untuk menggantikan pemanasan berbasis bahan bakar fosil.

Salah satu teknologi yang mulai mendapat perhatian adalah Small Modular Reactor (SMR).

SMR mempunyai kapasitas lebih kecil dibandingkan reaktor nuklir konvensional dan dikembangkan dengan konsep modular. Teknologi ini juga menarik perhatian industri pusat data yang mencari pasokan energi rendah karbon selama 24 jam.

EIB Kucurkan €40 Juta untuk Steady Energy

Dukungan terhadap teknologi tersebut terlihat dari langkah European Investment Bank (EIB).

EIB menyediakan pembiayaan hingga €40 juta kepada Steady Energy untuk mempercepat pengembangan teknologi reaktor modular kecilnya.

Pendanaan tersebut menjadi investasi pertama EIB pada teknologi SMR. Dana digunakan untuk mendukung penelitian dan pengembangan, pengujian, serta proses perizinan di Finlandia pada periode 2026–2028.

Wakil Presiden EIB Group Karl Nehammer mengatakan:

“We are actively looking to support Europe’s most promising SMR pioneers.”

Menurut EIB, SMR dapat menyediakan energi rendah karbon yang stabil bersama sumber energi terbarukan sekaligus memperkuat ketahanan energi Eropa.

LDR-50 Bukan Pembangkit Listrik Data Center

Meski isu ini berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan energi data center Eropa, teknologi yang dikembangkan Steady Energy perlu dibedakan dari reaktor nuklir pembangkit listrik.

Steady Energy mengembangkan LDR-50, reaktor modular kecil berkapasitas 50 MW yang secara khusus dirancang menghasilkan panas, bukan listrik.

Panas tersebut ditujukan untuk jaringan district heating dan kebutuhan industri.

Desain ini menggunakan teknologi reaktor air ringan yang telah lama digunakan dalam industri nuklir.

Karena tidak perlu mengubah panas menjadi listrik terlebih dahulu, desain LDR-50 dapat dibuat lebih sederhana dan beroperasi pada tekanan lebih rendah dibandingkan banyak desain reaktor konvensional.

Reaktor Dirancang Dibangun di Bawah Tanah

Steady Energy juga merancang reaktor komersialnya untuk ditempatkan di bawah tanah guna meningkatkan aspek keselamatan dan keamanan.

Perusahaan saat ini sedang membangun fasilitas percontohan skala penuh non-nuklir di Salmisaari, Helsinki.

Fasilitas tersebut digunakan untuk menguji sistem utama serta mendukung proses perizinan sebelum teknologi nuklirnya digunakan secara komersial.

CEO Steady Energy Tommi Nyman mengatakan sebagian besar kebutuhan panas saat ini masih berasal dari bahan bakar fosil.

“Over 40 percent of final energy demand is heat. Most of the heat we consume comes from fossil fuels.”

Menurut Nyman, teknologi Steady Energy ditujukan untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Eropa Targetkan SMR Awal 2030-an

Pengembangan Steady Energy merupakan bagian dari tren yang lebih luas.

Komisi Eropa pada 2026 menerbitkan strategi SMR yang ditujukan untuk memfasilitasi penggunaan Small Modular Reactor dan Advanced Modular Reactor pertama di Eropa pada awal 2030-an.

Menurut data International Atomic Energy Agency (IAEA) yang dikutip Reuters, terdapat lebih dari 80 desain SMR yang sedang dikembangkan di berbagai negara.

Namun, teknologi tersebut masih berada pada tahap awal. Saat laporan Reuters mengenai investasi EIB diterbitkan pada September 2026, hanya dua SMR komersial yang disebut telah beroperasi, masing-masing di Rusia dan China.

Nuklir Masih Jadi Perdebatan di Eropa

Peningkatan perhatian terhadap nuklir tidak berarti seluruh negara Uni Eropa mempunyai pandangan yang sama.

Reuters mencatat negara seperti Prancis dan Swedia mendukung penggunaan pembangkit nuklir, sementara negara seperti Jerman dan Austria secara tradisional menentangnya dengan menyoroti persoalan keselamatan dan pengelolaan limbah nuklir.

Perbedaan tersebut membuat pengembangan teknologi nuklir tetap menjadi salah satu isu kebijakan energi yang diperdebatkan di Eropa.

Uni Eropa Juga Siapkan Standar Data Center

Energi nuklir bukan satu-satunya langkah yang dipertimbangkan menghadapi pertumbuhan data center Eropa.

Uni Eropa juga berencana mengembangkan standar minimum efisiensi energi untuk pusat data baru maupun yang sudah beroperasi. Komisi Eropa menjadwalkan penilaian kebutuhan terkait standar tersebut pada 2027.

Kekhawatirannya adalah kebutuhan listrik pusat data yang meningkat terlalu cepat dapat menekan jaringan listrik dan memperlambat transisi energi jika permintaan tambahan harus dipenuhi dengan memperpanjang operasi atau membangun pembangkit berbahan bakar fosil.

AI Ubah Peta Kebutuhan Energi Eropa

Pertumbuhan AI pada akhirnya membuat persoalan infrastruktur digital semakin berkaitan erat dengan kebijakan energi.

Eropa membutuhkan kapasitas listrik tambahan untuk menjalankan pusat data, tetapi pada saat yang sama berupaya menekan emisi karbon dan mempertahankan keamanan pasokan energi.

Energi terbarukan, jaringan listrik, penyimpanan energi, peningkatan efisiensi, dan teknologi nuklir termasuk sejumlah opsi yang sedang dikembangkan.

Meningkatnya kapasitas data center Eropa membuat teknologi nuklir kembali mendapat perhatian, tetapi peran setiap teknologi perlu dibedakan. LDR-50 milik Steady Energy, misalnya, dirancang untuk menghasilkan panas, sementara SMR lain dapat dirancang untuk memproduksi listrik.