PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

BSSN Ungkap Data Sensitif Belum Terenkripsi, Ancaman Siber Nasional Kian Serius

Pandutekno.id – Denpasar, 20 Oktober 2026. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperingatkan bahwa ancaman siber nasional semakin kompleks seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital. BSSN juga mengungkap masih ditemukan data sensitif yang disimpan atau dipertukarkan tanpa perlindungan enkripsi memadai.

Peringatan tersebut disampaikan Wakil Kepala BSSN, Komisaris Jenderal Polisi Albertus Rachmad Wibowo, dalam kegiatan Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Selasa (20/10/2026).

Menurut BSSN, perlindungan data harus menjadi perhatian utama pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Pasalnya, gangguan keamanan digital dapat berdampak pada layanan publik, aktivitas ekonomi, hingga infrastruktur penting.

BSSN Peringatkan Ancaman Siber Nasional Semakin Kompleks

Ancaman siber nasional menjadi perhatian serius karena sistem digital kini saling terhubung.

Wakil Kepala BSSN Albertus Rachmad Wibowo menjelaskan bahwa ruang digital telah berkembang menjadi bagian penting dalam persaingan global.

“Ruang siber sekarang sudah menjadi arena kompetisi global, sudah membuat perubahan landscape hubungan geopolitik,” ujar Rachmad, sebagaimana dikutip dari ANTARA, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, serangan siber tidak lagi dibatasi wilayah geografis. Pelaku dapat menyerang sistem elektronik dari jarak jauh tanpa harus berada di lokasi sasaran.

Kondisi tersebut membuat perlindungan sistem digital membutuhkan perhatian lebih besar.

Data Sensitif Masih Ditemukan Tanpa Enkripsi

Salah satu persoalan yang disoroti BSSN adalah keamanan data yang dipertukarkan melalui sistem elektronik.

Rachmad mengungkapkan bahwa masih terdapat data sensitif yang disimpan atau dikirimkan tanpa enkripsi.

Informasi tersebut berada dalam bentuk plaintext, yaitu data yang dapat dibaca secara langsung tanpa proses pengacakan kriptografis.

Kondisi ini meningkatkan risiko apabila pihak tidak berwenang memperoleh akses ke sistem atau jaringan.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan layanan digital harus disertai standar keamanan yang memadai.

Namun, BSSN tidak merinci jumlah sistem maupun nama instansi yang terkait dengan temuan tersebut.

Karena itu, temuan ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai bukti kebocoran data baru pada lembaga tertentu.

Perlindungan Data Harus Dilakukan Secara Menyeluruh

BSSN menekankan bahwa perlindungan data tidak cukup dilakukan hanya ketika informasi tersimpan di server.

Keamanan juga diperlukan selama proses pengiriman dan penggunaan data.

Rachmad menyampaikan tiga kondisi penting yang harus mendapat perlindungan.

“Data harus diproteksi in-transit, in-use, dan at-rest,” ujarnya.

Istilah in-transit merujuk pada data yang sedang dikirim melalui jaringan.

Sementara itu, in-use merupakan data yang sedang digunakan atau diproses oleh sistem.

Adapun at-rest adalah data yang tersimpan dalam perangkat atau media penyimpanan.

Ketiga kondisi tersebut membutuhkan pengamanan sesuai risiko masing-masing.

Serangan Siber Bisa Mengganggu Infrastruktur Kritis

Ancaman siber nasional tidak hanya berkaitan dengan pencurian informasi pribadi.

Serangan terhadap sistem elektronik juga dapat mengganggu infrastruktur penting.

BSSN mengingatkan bahwa kerentanan pada perangkat yang terhubung ke internet dapat menimbulkan dampak berantai.

Rachmad mencontohkan laporan serangan terhadap perangkat Internet of Things atau IoT di Eropa.

Gangguan pada perangkat yang tampak sederhana dapat memengaruhi kegiatan operasional dan rantai pasok.

Karena itu, keamanan siber perlu diterapkan tidak hanya pada pusat data, tetapi juga perangkat yang terhubung ke jaringan.

BSSN Dorong Penggunaan Teknologi Kriptografi

Untuk menghadapi ancaman siber nasional, BSSN mendorong penguatan teknologi kriptografi.

Kriptografi merupakan metode pengamanan informasi agar tidak mudah dibaca atau dimanipulasi oleh pihak yang tidak berwenang.

Teknologi ini digunakan untuk melindungi kerahasiaan data, memastikan keutuhan informasi, serta memverifikasi identitas pengguna.

Dalam Bali Tech Week 2026, Rachmad menegaskan bahwa penguasaan teknologi kriptografi menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan digital.

BSSN juga mendorong pengembangan kemampuan kriptografi nasional agar Indonesia memiliki kapasitas pengamanan data yang lebih mandiri.

Langkah tersebut dinilai penting ketika pertukaran informasi antarkementerian dan lembaga semakin meningkat.

Integrasi Data Pemerintah Memerlukan Keamanan Ketat

Integrasi data menjadi bagian penting dalam transformasi digital pemerintahan.

Melalui integrasi, berbagai instansi dapat menggunakan informasi yang relevan untuk mendukung pelayanan publik.

Namun, semakin banyak sistem yang saling terhubung, semakin besar pula kebutuhan pengamanan.

BSSN menilai perlindungan data harus diterapkan selama proses penyimpanan, pengiriman, dan pengolahan informasi.

Penggunaan enkripsi, sertifikat digital, pengendalian akses, serta audit keamanan dapat membantu mengurangi risiko.

Selain itu, instansi perlu memiliki prosedur penanganan insiden apabila ditemukan aktivitas mencurigakan.

Tidak Ada Sistem Digital yang Sepenuhnya Aman

BSSN juga mengingatkan bahwa tidak ada sistem elektronik yang dapat dijamin sepenuhnya bebas dari serangan.

Menurut Rachmad, sistem keamanan perlu dibangun melalui berbagai lapisan perlindungan.

Lapisan tersebut mencakup kebijakan organisasi, prosedur operasional, keamanan jaringan, perangkat, aplikasi, dan perlindungan data.

Pendekatan berlapis diperlukan karena satu mekanisme keamanan saja tidak cukup untuk menghadapi seluruh jenis ancaman.

Pembaruan perangkat lunak, pemantauan jaringan, serta peningkatan kesadaran pengguna menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Dengan langkah tersebut, organisasi dapat memperkecil risiko dan meningkatkan kemampuan menghadapi insiden.

Ancaman Komputasi Kuantum Mulai Diantisipasi

Selain menghadapi ancaman siber saat ini, BSSN mulai menyiapkan langkah menghadapi perkembangan komputasi kuantum.

Teknologi komputasi kuantum berpotensi memengaruhi keamanan sejumlah algoritma kriptografi yang digunakan saat ini.

BSSN menyiapkan migrasi kriptografi nasional melalui penyusunan kebijakan, inventarisasi aset, serta penguatan kemampuan teknis.

Pengembangan sumber daya manusia dan industri keamanan digital juga menjadi bagian dari persiapan tersebut.

Langkah ini bersifat antisipatif agar sistem perlindungan informasi dapat mengikuti perkembangan teknologi.

Masyarakat Perlu Meningkatkan Keamanan Digital

Peringatan BSSN juga relevan bagi pengguna internet sehari-hari.

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan, penipuan digital, dan penyalahgunaan akun.

Penggunaan kata sandi yang kuat dan autentikasi multifaktor dapat membantu melindungi akun pribadi.

Selain itu, pengguna disarankan memperbarui sistem operasi serta aplikasi secara berkala.

Informasi pribadi juga sebaiknya tidak dibagikan melalui situs atau layanan yang tidak jelas keamanannya.

Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan data.

Kesimpulan

BSSN memperingatkan bahwa ancaman siber nasional semakin kompleks seiring berkembangnya penggunaan sistem digital.

Dalam Bali Tech Week 2026, Wakil Kepala BSSN Albertus Rachmad Wibowo mengungkap masih ditemukannya data sensitif yang belum dilindungi enkripsi secara memadai.

BSSN menekankan pentingnya perlindungan data secara menyeluruh, penguatan kriptografi, serta pengamanan infrastruktur digital.

Kolaborasi pemerintah, industri, dan masyarakat diperlukan untuk membangun ekosistem digital Indonesia yang lebih aman dan tepercaya.