PANDUANTEKNO

| Panduan Informasi Dan Teknologi

BSSN Catat 3,1 Miliar Anomali Siber, Ancaman Malware Dominasi Indonesia

Pandutekno.id – Jakarta, 18 Oktober 2026. Ancaman malware menjadi perhatian serius Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Hingga Oktober 2026, lembaga tersebut mencatat sekitar 3,1 miliar anomali trafik siber di Indonesia. Lebih dari 85 persen temuan itu berkaitan dengan perangkat lunak berbahaya.

Data tersebut disampaikan Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Bondan Widiawan, dalam acara GRACS 2026 di Jakarta pada 14 Oktober 2026.

BSSN mengingatkan bahwa ancaman malware dapat membahayakan pengguna internet, perusahaan, dan instansi pemerintah. Oleh karena itu, perlindungan perangkat digital perlu menjadi perhatian bersama.

Ancaman Malware Dominasi Anomali Siber Indonesia

BSSN menemukan sekitar 3,1 miliar aktivitas trafik mencurigakan hingga Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, lebih dari 85 persen berkaitan dengan malware.

Malware adalah perangkat lunak yang dirancang untuk mencuri informasi, merusak sistem, atau memberikan akses kepada pihak tidak berwenang.

Namun, angka anomali trafik tidak menunjukkan jumlah perangkat yang berhasil diretas. Satu perangkat terinfeksi dapat menghasilkan banyak aktivitas mencurigakan.

Meski demikian, temuan BSSN memperlihatkan besarnya risiko keamanan digital di Indonesia.

BSSN Soroti Penggunaan Software Bajakan

Bondan Widiawan menjelaskan bahwa penggunaan perangkat lunak bajakan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko infeksi malware.

Sebagian pengguna memilih aplikasi tidak resmi karena keterbatasan biaya. Padahal, perangkat lunak dari sumber tidak tepercaya berpotensi mengandung program berbahaya.

Dalam acara GRACS 2026, Bondan menyampaikan bahwa pengguna terkadang tidak menyadari komputernya telah dimanfaatkan untuk menyerang perangkat lain.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman malware tidak hanya merugikan pemilik perangkat. Infeksi juga dapat menimbulkan risiko bagi pengguna internet lainnya.

Karena itu, masyarakat disarankan mengunduh aplikasi dari sumber resmi dan menghindari perangkat lunak bajakan.

Ancaman Malware Bisa Mengubah Komputer Menjadi Botnet

Salah satu dampak infeksi malware adalah kemungkinan perangkat menjadi bagian dari botnet.

Botnet merupakan jaringan komputer yang telah dikuasai penyerang. Jaringan tersebut dapat digunakan untuk menjalankan aktivitas berbahaya secara bersamaan.

Komputer yang tergabung dalam botnet dapat mengirim trafik mencurigakan tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Akibatnya, perangkat pribadi berpotensi dimanfaatkan untuk mengganggu layanan digital atau menyerang jaringan lain.

Oleh sebab itu, pengguna perlu memeriksa keamanan perangkat secara berkala.

Phishing dan Ransomware Jadi Perhatian

Selain ancaman malware, BSSN menyoroti berbagai metode serangan digital yang semakin kompleks.

Salah satunya adalah phishing, yaitu penipuan melalui pesan atau situs palsu untuk memperoleh informasi sensitif.

Pelaku juga menggunakan spear phishing untuk menyasar individu atau organisasi tertentu.

Metode tersebut memanfaatkan informasi mengenai korban agar pesan terlihat meyakinkan.

Sementara itu, ransomware dapat mengunci atau mengenkripsi data sehingga korban kehilangan akses.

Perkembangan teknologi membuat organisasi perlu meningkatkan kemampuan mendeteksi berbagai ancaman tersebut.

Kesalahan Konfigurasi Membuka Celah Keamanan

BSSN turut mengingatkan bahaya kesalahan konfigurasi sistem.

Pengaturan keamanan yang tidak tepat dapat memberikan peluang bagi penyerang untuk memperoleh akses tanpa izin.

Sebelum melancarkan serangan, pelaku biasanya melakukan pengintaian terhadap perangkat dan jaringan target.

Tujuannya adalah menemukan kelemahan yang dapat dimanfaatkan.

Karena itu, perusahaan perlu melakukan pemeriksaan konfigurasi, pembaruan perangkat lunak, dan pembatasan hak akses.

Langkah tersebut membantu memperkecil kemungkinan penyusupan.

BSSN Dorong Keamanan Sejak Perancangan Sistem

BSSN menekankan pentingnya penerapan prinsip secure by design.

Prinsip tersebut menempatkan keamanan sebagai bagian dari proses perancangan teknologi.

Dengan demikian, perlindungan sistem tidak hanya dilakukan setelah insiden terjadi.

Selain itu, organisasi perlu menerapkan pendekatan resilient by design agar layanan mampu bertahan dan pulih ketika menghadapi gangguan.

Bondan menyebut respons terhadap notifikasi insiden siber telah meningkat menjadi sekitar 40 persen.

Namun, peningkatan tersebut tetap perlu diikuti penguatan sistem keamanan.

Teknologi AI Berpotensi Memperkuat Serangan Siber

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga menjadi perhatian BSSN.

Teknologi tersebut berpotensi membuat malware dan ransomware lebih adaptif.

Penyerang dapat memanfaatkan otomatisasi untuk mempercepat aktivitas berbahaya dan mengembangkan metode yang lebih sulit dikenali.

Karena itu, perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan strategi keamanan lama.

Pemantauan jaringan, pembaruan sistem, dan peningkatan kemampuan tim keamanan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Cara Menghindari Ancaman Malware

Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah untuk mengurangi risiko infeksi malware.

Pertama, gunakan aplikasi resmi dan hindari perangkat lunak bajakan.

Kedua, perbarui sistem operasi dan aplikasi secara rutin.

Ketiga, aktifkan perlindungan keamanan pada komputer dan ponsel.

Keempat, jangan membuka tautan atau lampiran dari pengirim mencurigakan.

Kelima, gunakan autentikasi dua faktor untuk melindungi akun penting.

Selain itu, lakukan pencadangan data secara berkala agar informasi penting tetap tersedia ketika perangkat mengalami gangguan.

Bagi perusahaan, perlindungan perlu dilengkapi dengan pemantauan jaringan dan prosedur penanganan insiden.

Ancaman Malware Perlu Diwaspadai Bersama

Temuan BSSN menunjukkan bahwa keamanan siber menjadi kebutuhan penting dalam aktivitas digital.

Pengguna internet harus memahami risiko aplikasi tidak resmi, phishing, dan penyalahgunaan perangkat.

Di sisi lain, perusahaan perlu memastikan sistem selalu diperbarui dan memiliki perlindungan memadai.

Kerja sama antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dapat membantu meningkatkan keamanan ruang digital Indonesia.

Kesimpulan

BSSN mencatat sekitar 3,1 miliar anomali trafik siber di Indonesia hingga Oktober 2026. Lebih dari 85 persen aktivitas mencurigakan tersebut berkaitan dengan malware.

Tingginya temuan ini memperlihatkan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman malware, penggunaan perangkat lunak bajakan, serta kelemahan konfigurasi sistem.

Masyarakat dan perusahaan perlu memperkuat perlindungan digital melalui pembaruan perangkat, penggunaan aplikasi resmi, dan pemantauan keamanan.

Dengan langkah pencegahan yang konsisten, risiko serangan siber dapat dikurangi.